Kemarau, Hasil Panen Petani di OKUT Menurun

Kemarau, Hasil Panen Petani di OKUT Menurun
TRIBUNSUMSEL.COM/M A FAJRI : Ilustrasi

TRANSFORMASINEWS,  MARTAPURA – Hasil produksi sawah petani pada musim tanam hapit (tanam pertengahan, red) tahun 2015 mengalami penurunan. Penurunan hasil panen tersebut selain karena disebabkan oleh musim kemarau juga disebabkan oleh serangan hama tikus. “Saat ini lahan persawahan di Jalur Komering sudah dialiri irigasi dan semestinya tidak ada kendala untuk pengairan. Namun sayangnya sejak diresmikan beberapa waktu lalu hingga saat ini pengoperasiannya masih belum maksimal dan petani masih mengandalkan air hujan yang sudah tidak turun sejak beberapa bulan terakhir,” ungkap Widodo petani asal Kacataman Madang Suku II, OKU Timur Senin (10/8/2015).

Menurut Widodo, tidak mengalirkan Saluran Irigasi Muncakkabau secara maksimal tentu saja berdampak pada menurunnya hasil pertanian warga terlebih saat ini hama jenis tikus semakin merajalela karena kekeringan terjadi dimana-mana.
Jika aliran irigasi Muncakkabau mengalir dengan maksimal kata dia, pertumbuhan tanaman padi warga akan lebih baik. Selain itu, hama tikus juga bisa diminimalisir.

“Jika pengairan normal, satu Hektare (Ha) lahan sawah bisa menghasilkan gabah sebanyak tujuh hingga delapan ton. Namun pada musim panen apitan kali ini hasil panen petani mengalami penurunan hingga satu setengah ton per Ha-nya. Penurunan tersebut disebabkan oleh aliran irigasi yang belum berfungsi secara maksimal,” jelasnya.

Meskipun hasil pertanian tahun ini mengalami penurunan kata dia, namun dengan harga gabah yang mencapai Rp. 4.200 per kilogram cukup membuat petani lega mengingat hasil pertanian yang menurun diimbangi dengan harga yang mengalami peningkatan.
“Yang disayangkan sebenarnya saat hasil panen melimpah. Harga langsung turun sekitar Rp. 3.500 per kilogram dengan harga beras sebesar padi Rp. 7. 500 hingga Rp. 8. 000 per kilogram. Itulah siklus yang terjadi pada pertanian yang mau tidak mau harus dihadapi oleh petani,” katanya.

Aliri Sawah dengan Sistim Bergilir
Bendung perjaya yang berlokasi di Desa perjaya yang menjadi urat nadi pertanian masyarakat OKU Timur. Debit air mengalami penurunan akibat musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan lalu..FOTO:SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA

Aliri Sawah dengan Sistim Bergilir

Musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan turunnya debit air Sungai Komering yang berdampak pada menurunnya debit distribusi air di irigasi Upper Komering.

Menurut PPK Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Irigasi Perjaya, OKU Timur Edi Sukanto dikonfirmasi Kamis (6/8/2015) mengatakan, penurunan debit air Sungai Komering selama musim kemarau cukup besar. Elevasi muka air yang biasanya mencapai 7.980 mengalami penurunan menjadi 7.930.
“Kondisi tersebut tentu saja sangat mengganggu. Namun karena kita memiliki sistim yang mengaturnya, sehingga saluran sungai tetap mengalir. Menurunnya jumlah debit air menyebabkan kita harus melakukan sistim bergilir dalam mengairi areal persawahan warga,” katanya.
Menurut Edi, langkah pengairan secara bergilir tersebut diambil agar seluruh lahan persawahan penduduk mendapatkan suplai air dan kebutuhan air untuk pertanian tidak terganggu yang bisa menyebabkan kegagalan tanam dan kegagalan panen.
Edi berharap, para petani bisa bersabar dengan kondisi saat ini karena kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan berkurangnya debit air yang disebabkan oleh kondisi alam. Pihak irigasi kata dia, saat ini berusaha untuk membagi air agar tidak terjasi krisis air pada masyarakat.

Loporan:EVAN HENDRA/M A FAJRI

Sumber:SRIPOKU/Tribunsumsel

Posted By: Amrizal  Aroni