TRANSFORMASINEWS.COM – JAKARTA – Saat negara sedang kekurangan Bahan Bakar Minyak (BBM), praktek korupsi dan pencurian BBM pada salah satu kilang minyak di Plaju Palembang malah kian marak. Kilang minyak (oil refinery) PT Pertamina (Persero) Unit Pengolahan III Plaju yang berkapasitas produksi 145 ribu barel per hari itu, selalu menghadapi pencurian dengan menggunakan berbagai modus.
Pada bulan Juli – Agustus 2013 lalu dilaporkan terjadi pencurian di pipa penyalur jalur Temprino – Plaju yang dilakukan per orangan dan kelompok massa. Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) langsung bertindak tegas melalukan pengamanan jalur pipa dan mengejar pelaku pencurian minyak.
Jalur Tempino-Plaju, menurut Kapolda Sumsel Irjen Pol Saud Usman pada (30/08/13) lalu merupakan jalur yang penting untuk menjaga keamanan stok bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Bangka Belitung.
Namun, ternyata di luar modus pencurian BBM di pipa penyaluran, diduga telah terjadi pencurian BBM di dalam area kilang minyak UP III Plaju, Palembang. Informasi ini disampaikan oleh karyawan UP III Plaju sendiri pada Selasa (01/04) siang di Jakarta.
Karyawan pada kilang minyak Pertamina UP III Plaju, Palembang yang minta dirahasiakan namanya itu, mengungkapkan pencurian BBM di kilang minyak Plaju dilakukan dengan beberapa cara (modus), seperti merekayasa (manipulasi) jumlah volume BBM yang diangkut melalui kapal tanker. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan dari pembayaran selisih volume BBM yang diangkut dengan volume BBM yang diakui dalam catatan pengiriman.
“Misalnya, kapal tanker ini seharusnya loading 10.000 barrel, mereka muat 10.500 barrel. Kelebihan BBM sebesar 500 barel atau hampir 80.000 liter dijual dengan harga di bawah harga pasar. Kita asumsikan saja Rp. 5000/liter, diraup sekitar Rp.400 juta per hari. Itu baru hanya dari satu kapal tanker,” ujar karyawan Pertamina UP III Plaju yang sudah bekerja lebih sepuluh tahun di kilang minyak nomor dua terbesar di Indonesia itu.
Karyawan Pertamina itu menjelaskan, untuk menutupi jejak pencurian BBM yang dapat dikategorikan pidana korupsi ini, para pelaku (oknum – oknum karyawan Pertamina UP III Plaju) merusak alat ukur otomatis metering distribusi minyak ke kapal tanker, sehingga dapat dilakukan penggantian metode metering dari otomatis ke manual. Padahal alat ukur manual mudah diutak atik sesuai kepentingan oknum – oknum pencuri / koruptor BBM.
Beberapa karyawan Pertamina (level rendah) sudah memberi pengakuan/kesaksian bahwa mereka telah melakukan manipulasi rekayasa data pada pengukuran manual volume di kapal tanker. Kecuali itu, banyak pelanggaran prosedur dan aturan yang dilakukan mereka, ungkap karyawan Pertamina UP III Plaju itu sembari wanti – wanti agar namanya harus dirahasiakan demi keselamatan jiwanya.
“Crew kapal tanker selalu menawarkan kerjasama (kolusi) menguntungkan kepada siapapun oknum petugas Pertamina yang bertugas melakukan pengecekan di kapal angkut, termasuk kolusi dengan staf Pertamina di bagian yang terkait pengangkutan BBM,” ungkapnya lagi.
BBM hasil curian dijual ke Singapura dengan harga murah di bawah harga pasar. Untuk informasi lebih detail mengenai pencurian / korupsi BBM di kilang minyak UP III Plaju, Palembang, dia meminta Asatunews untuk langsung melakukan investigasi ke lokasi pencurian, termasuk ke pusat penyaluran BBM hasil curian di Batam, Kepulauan Riau.
“Tetapi, sebaiknya kalian bawa aparat kepolisian atau KPK. Saya tidak dapat menjamin keselamatan kalian karena yang dihadapi adalah mafia besar maling BBM. Melibatkan uang triliunan per tahun. Kalian dapat terbunuh di sana,” ujarnya.
Sumber : Asatunews, beritaheadline.com
