Kapolres Dicopot karena Lemah Tangani Persekusi

Kapolres Solok, Sumatra Barat, AKB Susmelawati Rosya, dicopot dari jabatannya karena dinilai tidak ­tegas dalam menangani kasus persekusi. — Dok. Polda Sumatera Barat

TRANSFORMASINEWS.COM, SOLOK. KAPOLRI Jenderal Tito ­Karnavian merealisasikan ancamannya untuk menindak anak buah yang tak ­tegas dalam menangani kasus persekusi. Kapolres Solok, Sumatra Barat, AKB Susmelawati Rosya, pun dicopot.

Melalui telegram rahasia, Kapolri memutasi Susmelawati ke Polda Sumbar sebagai Kabag Perawatan Personel di Biro Sumber Daya Manusia. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan bahwa Susmelawati dianggap gagal menangani aksi persekusi yang terjadi di wilayahnya. Menurutnya, persekusi atau penumpas­an secara sewenang-wenang yang menimpa dokter RSUD Solok, Fiera Lovita alias Lola, seharusnya bisa tuntas.

“Pak Kapolri menilai Kapolres kurang tegas, makanya diganti. Ia juga tak tuntas menangani persoalan itu,” ujar Setyo.

Yang juga membuat Tito kecewa, imbuh dia, ialah laporan perihal proses penanganan perkara yang disampaikan Susmelawati bahwa masalah dianggap selesai setelah Lola bersedia membuat permintaan maaf secara tertulis. Padahal, pola penanganan seperti itu tidak menunjukkan rasa keadilan, tapi justru berpotensi menimbulkan kasus serupa.

‘’Apalagi, Rosya juga tidak berani mengambil tindakan penegakan hukum terhadap para pelaku meski sudah jelas terjadi ancaman dan keke­rasan terhadap Lola. Pak Kapolri tak berkenan ketika kapolres menganggap mediasi bisa menyelesaikan kasus persekusi yang termasuk pidana. Padahal, persekusi sudah menimbulkan ketakutan dan berdampak di berbagai daerah,” terang Setyo.

Saat dimintai konfirmasi, Susmelawati mengatakan mutasi penugasan ialah hal yang biasa di Polri. Soal alasan pencopotan dirinya sebagai kapolres, dia mengatakan hanya pimpinan yang tahu. ‘’Pimpinan kali yang paham. Kita sebagai anak buah siap saja dimutasi,’’ tukasnya.

Dia menyangkal ada ancaman terhadap dokter Lola. ‘’Enggak ada yang merasa terancam di sini (Solok).’’
Lain di Solok, lain pula penanganan kasus persekusi terhadap Putra Mario Alvian Alexander, 15, di Cipinang Muara, Jakarta Timur. Jajaran Polda Metro Jaya kemarin menahan dua tersangka kasus tersebut, yakni AM, 22, dan M, 47.

Penyidik juga telah mengidentifikasi lima terduga pelaku lainnya. “Kami akan tindak tegas kegiatan persekusi oleh ormas apa pun di wilayah Jakarta,” tegas Kepala Subdirektorat Jatanras Polda Metro Jaya AKB Hendy F Kurniawan.
.
Negara barbar
Presiden Joko Widodo menegaskan kembali bahwa persekusi berlawan­an dengan asas-asas hukum negara. “Jadi, perorangan ataupun kelompok-kelompok dan organisasi apa pun tidak boleh main hakim sendiri, tidak boleh,” tegasnya di Malang, Jawa Timur kemarin.

Apalagi, kata Presiden, persekusi tersebut dilakukan mengatasnamakan penegakan hukum. “Tidak ada, tidak boleh dan tidak ada. Kita bisa menjadi negara barbar kalau hal seperti ini dibiarkan.’’

Ia mengungkapkan dirinya sudah memerintahkan Kapolri untuk melakukan penegakan hukum dengan penindakan tegas terhadap praktik persekusi.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti juga meminta jajaran kepolisian tak segan menindak pelaku persekusi. “Kalau dibiarkan main hakim sendiri, ini berbahaya. Indonesia bisa jadi negara hukum rimba.’’

Ketua Setara Institute Hendardi juga berharap banyak pada Polri dalam menangani persekusi. Ia mengapresiasi ketegasan Kapolri mencopot Susmelawati sebagai penegasan bahwa Polri tidak membenarkan praktik persekusi yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu.

Sumber:Mediaindonesia.com (Nic/Pol/YH/X-8)

Posted by: Admin Transformasinews.com