
Ratusan truk batubara menumpuk di sepanjang jalan dari Kota Muaraenim hingga Desa Tanjung Raman, karena tidak diperbolehkan warga melintas, di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Ujan Mas, Muaraenim, Minggu (12/4/2015). Foto:SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
TRANSFORMASINEWS, MUARAENIM – Pasca tewasnya Andre Alhabsi Kiemas (34) anggota Satpol PP Muaraenim yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas akibat di tabrak truk batubara,sabtu,(11/4) di jalan lintas raya Desa Tanjung Serian Muaraenim berbuntut panjang,
Pasalnya tak satupun mobil angkutan batu bara yang berani melintas di Desa Tanjung Raman, Minggu,(12/4).
Berdasarkan informasi, hal ini disebabkan karena keluarga besar korban yang masih merupakan keluarga besar alm.Taufik Kemas tidak terima atas peristiwa berdarah tersebut.
Mereka memilih menghadang seluruh angkutan batubara yang akan melintas di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Ujan Mas, Muaraenim.
Aksi penyetopan seluruh angkutan batubara tersebut sudah berlangsung dari Sabtu (11/4) sekitar pukul 13.00.
Setelah peristiwa merenggut nyawa wargan Desa Tanjung Raman tersebut, keluarga korban meminta pelaku dan pihak terkait untuk menyelesaikan permasalahan angkutan batubaran ini supaya tidak menyebabkan korban lainnya.
Akibat dari aksi penyetopan tersebut, ribuan kendaraan angkutan batubara menumpuk di kota Muaraenim, seperti di terminal regional Muaraenim, SPBU Kepur, Rumah Makan, dan sepanjang jalan lintas Sumatera sepanjang 10 km.
Infonya aksi penyetopan tersebut terus akan dilakukan oleh keluarga besar korban hingga sampai permasalahan selesai.
Dikatakan H Muhlis Kiemas, ayah korban pada pertemuan dengan pengurus angkutan batubara yang dilakukan hari ini, bahwa pada intinya pihak keluarga korban meminta ada kebijaksanaan dan hati nurani dari pelaku serta pengurus angkutan batubara terhadap masyarakat yang ditabraknya.
“Karena nyawa tidak ternilai harganya dan tidak bisa diganti dengan uang yang harus dipikirkan adalah nasib istri dan anak serta keluarga yang ditinggalkannya.
Permasalahan ini bukan saya saja, tetapi sudah merupakan permasalahan keluarga besar saya,” ujar Muhlis didepan anggota Polres Muaraenim dan pengurus batubara.
Ditambahkan Solali, paman korban, selama ini warganya sudah cukup bersabar semenjak adanya angkutan batubara yang berlalu lalang di desanya.
Dan pihaknya meminta kepada pihak terkait untuk bisa menyetop dengan tegas angkutan batubara lalulang dijalan umum.
“Sebab adanya mereka lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.Jika tidak salah hitung warga Tanjung Raman yang meninggal akibat angkutan batubara sampai saat ini mungkin sudah ada enam orang,” ungkapnya.
Sementara itu Pjs Kades Tanjung Raman Rapiudin,mengungkapkan bahwa sore tadi sudah dilakukan upaya mediasi antara keluarga korban dengan pengurus angkutan batubara.
“Namun sepertinya belum ada titik temu dan akan dilanjutkan kembali ,” pungkasnya.
SUMBER:TRIBUNSUMSEL/AR
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi