WargaTanjung Raman Hadang Truk Batubara

TRANSFORMASINEWS, MUARA ENIM – Truk batubara dari arah Lahat menuju Palembang, sejak Sabtu (11/4) sore, tidak bisa melintas. Itu setelah mereka dihadang warga di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Ujanmas, Muara Enim. Penghadangan itu dilakukan warga terkait adanya anggota Satpol PP Pemkab Muara Enim bernama Adrian Alhabsi (34), warga Desa Tanjung Raman, tewas ditabrak truk batubara. Truk yang menabraknya bernopol BG 9332 TB, dikemudikan Junior Y (29), warga Askah Agung, Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Muara Enim.

 

Kecelakaan maut itu terjadi di tikungan Jalan Lintas Desa Tanjung Serian, Kecamatan Ujanmas, Muara Enim, Sabtu (11/4), sekitar pukul 10.45 WIB. Dalam kejadian itu, korban yang mengendarai sepeda motor Yamaha Vega Nopol BG 4534 DP, tewas mengenaskan dengan kepala remuk akibat terkena benturan bagian depan mobil. Setelah kejadian, pengemudi truk sempat melarikan diri.

 

Sebagai bentuk solidaritas kepada korban, warga Desa Tanjung Raman, dengan spontan melakukan aksi penghadangan truk batubara. Aksi itu dilakukan, karena sudah cukup banyak warga desa tersebut yang meninggal, akibat kecelakaan dengan truk batubara.

 

“Apa yang dilakukan warga, sebagai bentuk keprihatinan. Karena sudah 6 orang warga kami nyawanya melayang akibat truk batubara. Terus terang kami hanya menjadi korban saja banyaknya truk batubara ini. Selain korban nyawa, kami juga korban debu batubara,” jelas mantas Kades Tanjung Raman Tolaludin, Minggu (12/4), ketika melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan angkutan batubara di rumah korban.

 

Penghadangan truk batubara itu dilakukan warga dengan cara meletakkan potongan balok batang kelapa di tengah jalan. Mereka juga membuat pondok kecil di pinggir jalan, untuk menjaga truk batubara yang melintas. Apa yang dilakukan warga semata-mata bentuk protes kepada truk batubara atas tewasnya warga desa tersebut tertabrak truk batubara.

 

Akibat penghadangan itu membuat semua mobil truk batubara tidak bisa melintas. Para sopir truk batubara terpaksa memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan, dan di rumah-rumah makan, maupun di areal parkir SPBU Desa Kepur. Sehingga arus lalu lintas di kawasan Kota Muara Enim menjadi padat, akibat banyaknya truk batubara yang parkir.

 

“Sampai hari ini (kemarin,red) kami sudah dua hari tidak bisa melintas. Jika sampai malam ini kami belum bisa melintas, kami sudah tiga hari parkir di sini. Uang jalan dan uang makan kami sudah mulai menipis,” jelas seorang sopir truk batubara yang ditemui Minggu (12/4).

 

Dengan adanya penghadangan dilakukan warga, perwakilan perusahaan angkutan batubara dari PT AABKL, dan PT MCI, Teri dan Taufik, serta pemilik mobil yang yang mengalami kecelakaan, melakukan negosiasi dengan keluarga korban. Negosiasi itu dimediasi Kasat Intelkam Polres Muara Enim Iptu Apromico SH, dan Perwira Satlantas Polres Muara Enim Iptu Dessy Azhari.

 

Sementara dari pihak keluarga korban yakni Baki, Tolaludin, Khozi, dan beberapa keluarga korban lainnya. Namun negosiasi sejak pukul 15.00 WIB itu, berlangsung alot sehingga belum membuahkan hasil. Soalnya pihak keluarga korban sempat tersinggung dan merasa dilecehkan oleh perwakilan perusahaan.

 

Karena dalam negosiasi itu, Taufik selaku perwakilan perusahaan menawarkan uang santunan berjumlah Rp 30 juta. “Bantuan yang kami berikan dari PT AABKL Rp 10 juta, dari PT MCI Rp 10 juta, dan dari pemilik mobil Rp 10 juta,” jelas Taufik.

 

Mendengar penjelasan itu, keluarga korban, Khozi langsung kesal. “Maaf ya Pak jangan pandang remeh kami. Uang segitu sangatlah menyepelekan kami. Kami tidak terima,” jelas Khozi dengan lantang.

 

Kemudian salah seorang keluarga korban langsung berteriak. “Cakmano kami siapkan duit Rp 50 juta untuk menumbur kamu perusahaan batubara itu. Jangan sepelekan kami,” teriak salah seorang keluarga korban. Karena negosiasi itu belum ada titik temu, sehingga ditunda.

 

“Hari ini (kemarin,red) sudah sore, dan sebentar lagi kami mau tahlilan untuk almarhum. Jadi pertemuan ini kita tunda dulu. Dilanjutkan setelah selesai kegiatan tahlilan,” jelas seorang perwakilan korban kepada perwakilan perusahaan. Akhirnya penundaan itu disepakati, dan perwakilan perusahaan berpamitan. Karena negosiasi belum ada kesepakatan, sehingga truk batubara hingga pukul 18.30 WIB belum bisa melintas.

 

Kapolres Muara Enim AKBP Nuryanto SIk MSi, dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. Pihaknya tetap memberikan pengamanan dengan menempatkan personel di lokasi penghadangan truk batubara. Dalam kasus ini, pihaknya hanya sebagai mediasi. Sedangkan yang bisa menyelesaikannya antara pihak perusahaan angkutan batubara dengan keluarga korban.

 

Hal senada juga dibenarkan Kepala Dinas Perhubungan Muara Enim Drs H Fathur Rahman MH. “Mereka dihadang warga gara-gara kecelakaan hingga menewaskan anggota Satpol PP yang merupakan warga Desa Tanjung Raman,” jelas Fathur.

 

Sementara itu, kecelakaan bermula dari korban Adrian Alhabsi (34), baru saja turun piket di kantornya. Lalu dia hendak pulang ke desanya dengan mengendarai motor Yamaha Vega Nopol BG 4534 DP berjalan dari arah Muara Enim menuju Desa Tanjung Raman.

 

Sampai di tikungan jalan Desa Tanjung Serian, tanpa diketahui penyebab pastinya, tiba-tiba sepeda motor dikemudikan korban mengalami adu kambing dengan truk batubara kosong muatan Nopol BG 9332 TB, dikemudikan Junior Y (29), yang datang dari arah Desa Tanjung Raman menuju Muara Enim.

 

Akibat tabrakan itu, korban mengalami luka cukup parah dan tewas di lokasi kejadian. Warga yang melihat kejadian itu, sempat memberikan pertolongan kepada korban dengan membawanya ke RSU dr HM Rabain Muara Enim. Sementara pengemudi mobil menyelamatkan diri.

 

Karena diduga emosi, warga Desa Tanjung Raman, tanpa dikomado, langsung melakukan penghadangan terhadap truk batubara yang akan melintas di jalan desa mereka, yang berada di pinggir Jalan Lintas Palembang. Tak ayal, hingga kemarin, ratusan truk batubara belum bisa melintas atau menuju Palembang.

Sumber:Palpos/AR

Leave a Reply

Your email address will not be published.