MUI Tolak Keberadaan ISIS di Indonesia

Antara : Wahyu
Antara : Wahyu Putro A

 

 

 

Jakarta, Meluasnya pengaruh kelompok Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) termasuk ke Indonesia memunculkan kekhawatiran dan penolakan. Pemerintah RI dan kalangan alim ulama serta pimpinan ormas yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mengambil sikap.

Terkait dengan hal itu, Ketua Umum MUI Pusat Din Syamsuddin menyeru umat Islam di Indonesia untuk menolak keberadaan ISIS.

”Ormas-ormas dan lembaga lembaga Islam di Indonesia menolak keberadaan gerakan ISIS di Indonesia yang amat potensial memecah-belah persatuan umat Islam dan menggoyahkan NKRI berdasarkan Pancasila,” tegas Din dalam pernyataan sikap Forum Ukhuwah Islamiyah MUI yang menyuarakan sikap 60 ormas Islam di Kantor MUI Pusat, Jakarta, kemarin.

Din menyatakan ISIS merupakan gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam, tetapi tidak mengedepankan Islam yang rahmatan lil’alamin atau rahmat bagi seluruh alam semesta. Sebaliknya, ISIS menggunakan pendekatan kekerasan, pemaksaan kehendak, pembunuhan orang tak berdosa, penghancuran tempat suci, serta ingin meruntuhkan negara yang sudah berdiri.

Seruan MUI itu juga merupakan aspirasi ormas-ormas Islam seperti PP Muhammadiyah, PP Aisiyah, PBNU, DPP Syarikat Islam, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Mathla’ul Anwar, Muslimat NU, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Majelis Nasional Kahmi, PP Persis, PB Tarbiyah PP Wanita Syarikat Islam, dan Hizbut Tahrir.

Wakil Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menambahkan, MUI juga mendukung langkah pemerintah untuk bertindak cepat dan tegas melarang ISIS di Indonesia. MUI mendorong pemerintah melakukan upaya penegakan hukum.

Kecolongan
Di sisi lain, setelah santer dikaitkan dengan aktivitas ISIS, pihak Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, menampik rumor itu.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Sudarnoto Abdul Hakim membenarkan kegiatan deklarasi memang dilakukan di Gedung Syahida Inn UIN Jakarta. ”Gedung disewa mereka pada 6 Juli 2014. Proses izinnya bukan untuk kegiatan deklarasi. Dari buku daftar hadir yang ada, setelah dilacak dari nomor telepon terlampir, juga tidak ada yang tersambung,” jelas Sudarnoto, kemarin.

Sebelumnya, beredar tayangan video menggambarkan salah satu mahasiswa UIN Jakarta bernama Bahrunsyah sedang mengajak peserta deklarasi sekitar 800 orang mendukung munculnya ISIS.
Terkait Bahrunsyah, Sudarnoto mengatakan yang bersangkutan pernah menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah UIN pada 2013. Namun setelah tiga semester, ia drop out dari kampus.

Karopenmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar memaparkan sebagian dari 56 WNI yang diduga berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS merupakan anak muda. ”Rata-rata belum paham seperti apa ISIS itu,” kata Boy, kemarin. (Media Indonesia. Com)