
TRANSFORMASINEWS, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo secara resmi membuka Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 2015 atau Asia Africa Conference Commemoration Indonesia di hadapan 28 pemimpin-pemimpin Negara Asia-Afrika. Poin penting dalam pidatonya, Jokowi menyuarakan perdamaian dan kemiskinan yang terjadi di dua benua tersebut. Tingginya, tingkat kekerasan, aksi terorisme, perang antar negara hingga kemiskinan yang terjadi di wilayah ini menjadikan negara-negara Asia-Afrika tertinggal dibandingkan wilayah lain seperti Eropa dan Amerika. Maka Jokowi mengajak para pemimpin negara untuk bekerja sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat Asia-Afrika.
“Dibandingkan 60 tahun lalu, sekarang wilayah Asia-Afrika dalam suasana yang berbeda. Bangsa-bansa yang terjajah telah berdaulat. Namun perjuangan belum selesai. Sekarang masih jauh dari harapan, masih banyak bentuk ketidakadilan dan ketidakseimbagan global terjadi di Asia-Afrika,” kata Jokowi dalam pidato pembukaannya di Jakarta Convention Center tempat berlangsungnya KAA, Rabu (22/4).
Jokowi mengajak negara-negara Asia-Afrika kembali menanamkan semangat ketika KAA pertama kali diadakan pada 60 tahun lalu di Bandung. Saat itu, KAA digelar bertujuan untuk menyuarakan kepentingan negara Asia-Afrika yang masih berada dalam penjajahan negara Eropa. “Untuk itulah 60 tahun lalu, Bapak Bangsa Indonesia Soekarno pertama kali mengadakan KAA untuk membangkitkan semangat masyarakat Asia-Afrika. Solidaritas sesama negara Asia-Afrika harus dikumandangkan. Itulah esensi dari semangat Bandung,” kata Jokowi.
Tidak hanya para pemimpin negara Asia-Afrika yang hadir, juga hadir Wakil Presiden Indonesia 1993-1998 Tri Sutrisno, Presiden Indonesia ke-3 dan 5 BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri, dan Wakil Presiden ke-9 Hamzah Haz.
Dalam pidato yang menggunakan Bahasa Indonesia itu, Jokowi juga menyebutkan aksi terorisme ISIS yang terjadi di negara-negara mayoritas Islam. Gerakan tersebut menyebabkan ketidakstabilan di wilayah Asia-Afrika. “ISIS harus dihentikan,” katanya dengan tegas.
KAA ini juga sudah membulatkan keputusan untuk memberikan kemerdekaan bagi Palestina yang selama ini masih berada dalam penjajahan. Jokowi meminta kepada negara Asia-Afrika lainnya bersatu untuk mendukung keputusan ini. Jokowi juga mempertanyakan lemahnya daya saing Asia-Afrika dalam tatanan global. Padahal, wilayah ini memiliki sumber daya alam yang melimpah. Lalu, kondisi geografis yang strategis seharunya bisa berbicara banyak.
Sayangnya, kesejahteraan hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Sedangkan, masih banyak jutaan orang masih berada dalam kemiskinan. “Ketika yang kaya semakin kaya, masih banyak 1,2 miliar jiwa tidak berdaya. Ketimpangang dan ketidakadilan semakin kasat mata,” kata Jokowi.
Dalam akhir pidatonya, Jokowi mengatakan KAA ini harus menghasilkan keputusan yang dapat memperbaiki kondisi Asia-Afrika. Ia berharap kepada para pemimpin dan perwakilan negara Asia-Afrika bersatu mengutamakan kepentingan rakyat. “Asia-Afrika harus berdiri sejajar dan sama tinggi dengan bangsa lain. Hari ini dan besok, rakyat menunggu keputusan pertemuan ini (KAA),” kata Jokowi.
SUMBER:GATRAnews/AR
