Tidak Transparan, Hermanto Wijaya Pilih Mundur dari Pengawas PD Pasar

hermanto-wijaya

Owner Toko Jaya Raya Solution, Hermanto Wijaya (HW). FOTO NET

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG Owner Toko Jaya Raya Solution, Hermanto Wijaya (HW) akhirnya mengundurkan diri dari jabatan sebagai anggota Pengawas PD Pasar, Rabu (11/12/2013).

Tepat pukul 10.00, HW yang dilantik oleh Walikota Palembang, Romi Herton sejak 19 September, lalu langsung menyerahkan sendiri surat pengunduran dirinya ke kantor Pemkot Palembang.

Surat tersebut langsung diterima oleh bagian protokol Pemkot Palembang. Selanjutnya, pria ini juga melampirkan surat pengunduran dirinya ke jajaran PD Pasar Palembang dan diterima langsung oleh Direktur PD Pasar, Apriadi S Busri.

“Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan Walikota kepada saya, tapi terus terang amanat yang diterima ini ternyata tidak sesuai dengan hati nurani saya. Persoalan pasar banyak yang tidak transparan, tanpa koordinasi dan tanpa hati nurani. Ini yang berlawanan dengan jiwa saya,” kata HW usai menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Menurutnya, jika operasionalnya dilakukan tidak transparan maka akan jadi kerok (ribut, red).

Jaminan ribut dan konsep ini tidak sejalan dengan hati nurani, jiwa dan pengorbanan yang dianutnya.

HW mengurai, salah satu keputusan yang disebutnya paling kontroversial oleh PD Pasar adalah menaikkan tarif tanpa koordinasi dengan Badan Pengawas Pasar.

Dia paling menentang itu, padahal menurutnya besaran atau sumbangan PAD bisa dicapai tanpa harus menaikkan retribusi pasar kepada pedagang. Kondisi ini tentu memberatkan pedagang. Belum lagi soal retribusi lainnya.

Hermanto awalnya berpikir, kondisi pasar bisa diubah tanpa harus membebankan retribusi besar kepada pedagang.

“Kita bangun infrastruktur yang memadai dulu. Kita buat dulu kondisi nyaman dan aman di pasar. Paling tidak harapan saya dulunya pasar itu bisa bersaing dengan mall, atau paling minimal seperti Alfamart atau toko retail modern lainnya. Dengan begini pedagang akan semangat jualan, pembeli juga betah. Jika sudah ada kondisi ini, pasar ramai, aktivitas tumbuh, pedagang tidak akan diberatkan jika harus membayar retribusi karena dia sudah untung. Ini maksud saya awalnya. Ternyata kondisinya seperti ini. Pedagang makin berat sekaramg jualan, fasilitas pasar minim dan harus dibebankan tagihan tinggi. Kasihan mereka,” kata Hermanto.

Baginya, konsep ini sudah tidak sejalan dengan anggota dan manajemen lainnya. Dia juga mengakui minimnya transparansi juga jadi pemicu.

“Beberapa program juga tidak banyak yang jalan. Seperti waktu itu kita gandeng Bank BTN untuk pola pembayaran retribusi, kalau sudah menyangkut bank kan harus transparan, ternyata banyak yang tidak mau, ini juga saya sesalkan,” kata Hermanto.

HW sendiri baru bergabung pada PD Psar sejak dua bulan lalu, namun sudah mengeluarkan dana pribadi capai Rp 175 juta.

Dana itu merupakan CSR dari Jaya Raya Solution untuk pembangunan toilet yang setara mall di Pasar Cinde dan pembuatan rolling door besi 10 pintu di Pasar 16 Ilir serta program pembagian tv gratis untuk pedagang.

“Ke depan pasar harus ada sinkronisasi, transparansi, hati nurani. Kalau dipunguti terus kasihan pedagang. Di pasar itu, senioritas, organisasi, teman lama. Hati nurani tidak cocok. Udahlah yang kecil tidak usah dpingut retribusi,” katanya.

Terkait pengunduran dirinya, HW mengaku sudah membicarakan ini dengan Walikota Palembang, Romi Herton. HW mengaku bahkan bicara setengah jam sudah bicara dengan pak wali.

“Saya masih siap bantu pak wali, tapi untuk pasar saya sangat tidak merasa cocok,” katanya.

Sumber:(SRIPOKU.COM)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016