Akil Mochtar Disikat Sesama Kader Golkar?

JAKARTA, Tokoh Golkar Akil Mochtar, mantan Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) dan Chairun Nisa, anggota DPR RI Fraksi Golkar memang sedang apes banget.

Keduanya tertangkap operai tangkap tangan (OTT) oleh pertugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ketika sedang bertransaksi sebagai calo perkara sengketa Pilkada di rumah dinas Akil Mochtar di Komplek  perumahan menteri  Widya Chandra, Jakarta Pusat, Rabu malam (02/10).

Apa yang terjadi? Partai Golkar (PG) menganggap kadernya, Chairun Nisa sebagai pengkhianat. Golkar pun tidak akan memberi bantuan hukum kepada tersangka dugaan suap sengketa pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah itu.

“Fraksi sudah meneliti. Secara kepartaian itu sudah mengkhianat. Golkar tidak memberikan bantuan hukum,” kata Ketua DPP Golkar, Nudirman Munir di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (09/10) yang disiarkan hampir semua media.

Sumber menuturkan, Akil Mochtar dan Chairun Nisa telah menjadi korban persaingan kegiatan advokasi (percaloan) sengketa Pilkada di internal Golkar. Sebagaimana diketahui, ujar sumber itu, boleh dikata semua kasus hukum dan sengketa pilkada kader Golkar di seluruh Indonesia, – khususnya yang di pusat -, wajib hukumnya ditangani oleh unit Bantuan Hukum milik Golkar yang dipimpin oleh Prof..Muladi, dengan operator lapangan Rudy Alfonso.

Tindakan Akil dan Chairun Nisa yang terkesan “jalan sendiri” menangani kasus pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah itu – yang lebih berpihak kepada pasangan Hambit Bintih-Arton S Dohong dari PDIP, – tentu  saja tidak bisa diterima baik oleh “kelompok advokasi” permanen di Golkar yang dimotori Rudy Alfonso.Sementara Golkar sendiri mengusung pasangan Kusnadi B Halijam-Barthel D Suhin

Menurut sumber itu lagi,  kelompok tertentu di Golkar yang tidak senang dengan langkah Chairun Nisa dan Akil yang bermain sendiri, mengambil jalan pintas “melaporkan” persepakatan  jahat koleganya itu kepada KPK.

Setelah menerima info yang dianggap “A1” itu, penyidik KPK bergerak cepat. Pimpinan komisi antirasuah itu menerbitkan surat perintah penyelidikan pada tanggal 04 September 2013. Maka sejak itulah mata petugas KPK terus mempelototi pergerakan Chairun Nisa dan Akil Mochtar, sang  Ketua MK yang peraih doktor bidang hukum Universitas Padjadjaran, Bandung

Tentu saja, karena memantau sasaran kakap besar, petugas KPK meningkatkan perhatian sejak dua pekan lalu, setelah mendeteksi komunikasi yang mengindikasikan rencana penyerahan uang untuk kedua kader papan atas Golkar tersebut. .

Berbagai informasi mengenai sepak terjang Bendahara  MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat itu membuat nama Chairun Nisa masuk radar pengawasan. Perempuan berkerudung yang bertubuh mungil itu, – yang juga adalah Ketua DPP, Pengajian Al – Hidayah – telah terpantau secara gamblang, sebagai penghubung handal kepada Akil Mochtar, dalam rangka memuluskan niat Hambit Bintih memenangkan kursi bupati untuk kedua kalinya.

Seperti diketahui, sejak pagi Rabu (02/10) petugas KPK mengintai Chairun Nisa. Dan barulah pada pukul 19.00  malam, petugas KPK yang bertugas melihat  Chairun Nisa mengendarai mobil  Toyota Fortuner warna putih yang dikemudikan suaminya. Mereka pergi  menjemput Cornelis Nalau, teman Bupati Hambit, di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Mobil Chairun Nisa tiba di rumah Akil sekitar pukul 22.00. Tanpa melapor ke petugas penjaga, ibu seorang anak itu  segera membuka pintu pagar. Hampir bersamaan, Akil, yang mengenakan kaos Polo merah, membuka pintu rumah menyambut tamu khususnya itu.

Tiga meter dari pintu, langkah Chairun Nisa dan Cornelis terhenti. Belasan petugas KPK merangsek dan mendatangi mereka. Beberapa penjaga hendak menolong Akil, tapi langsung mundur begitu tahu yang datang petugas KPK.

Tanpa menyadari dirinya telah dipantau sejak lama,  kedua kader teras Golkar itu telah menjadi korban koleganya sendiri, akibat dari persaingan kegiatan “calo perkara”, yang kini marak menjadi model pada hampir semua parpol.

Untuk mendapat tanggapan dari petinggi Golkar mengenai kasus tersebut di atas , wartawan sejak pagi tadi Kamis (10/10) telah mengirim daftar pertanyaan melalui pesan pendek kepada sejumlah petinggi Golkar termasuk kepada Ketua Umum Aburizal Bakrie dan Sekjen Golkar Idrus Marham, tapi belum memperoleh jawaban. (baratamedia)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016