Polda: Pernyataan Novel Baswedan Berimplikasi Hukum

MI/Ramdani

TRANSFORMASINEWS.COM, JAKARTA. POLDA Metro Jaya menyatakan pernyataan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan soal dugaan keterlibatan seorang jenderal polisi pada aksi penyiraman cairan kimia, kepada media asing memiliki implikasi hukum.

“Iya (tendensius) bisa ada implikasi hukum,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta Sabtu (17/6). Argo menekankan Novel harus membuktikan pernyataan dugaan keterlibatan jenderal terkait aksi teror yang dilakukan orang tidak dikenal tersebut.

Selain berimplikasi hukum, Argo mengatakan pembicaraan Novel kepada majalah Time terkait indikasi keterlibatan jenderal merusak citra Polri. “Kami sayangkan karena omongan seperti itu menciderai institusi kepolisian,” tutur Argo.

Perwira menengah kepolisian itu mengungkapkan Novel enggan menjalani pemeriksaan saat dimintai keterangan penyidik kepolisian namun berbicara kepada media massa asing.

Sebelumnya, Novel disiram air keras yang diduga dilakukan dua orang pria tidak dikenal di jalan Deposito depan Masjid Al Ikhsan RT03/RW10 Kelapa Gading Jakarta Utara usai menjalani shalat subuh pada Selasa (11/4) pukul 05.10 WIB.

Akibat kejadian itu, Novel mengalami luka pada bagian wajah dan bengkak pada bagian kelopak mata kiri, sementara itu pelaku melarikan diri. Petugas kepolisian sempat mengamankan empat orang yang dicurigai terlibat kekerasan terhadap Novel berinisial M, H, AL dan N alias N.

Namun polisi melepaskan keempat orang itu karena tidak cukup bukti terlibat aksi teror kepada penyidik senior KPK tersebut. Hingga kini sudah dua bulan lebih polisi masih mencari pelakunya.

Polri Minta Novel Baswedan Beri Bukti

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian menjanjikan akan mendalami pernyataan penyidik senior KPK Novel Baswedan yang menyebut ada perwira tinggi Polri yang terlibat dalam penyiraman air keras ke wajahnya.

“Prinsipnya kami tentu di Polri mendalami, ya. Akan tetapi, nanti mungkin kita akan koordiinasikan dengan KPK,” kata Tito.

Untuk itu, Tito meminta Novel untuk menjelaskan soal informasi siapa oknum yang dimaksud disertai bukti yang kuat.

“Kalau ada oknum jenderal, yang mana? Yang kedua, buktinya apa? Itu yang penting. Sebut namanya siapa, buktinya apa?” ujar Tito.

Jika Novel bisa melampirkan bukti yang mendukung pernyataannya, Tito menjamin akan memproses oknum tersebut.

Ia juga akan terbuka mengusut dugaan pelanggaran pati Polri yang dimaksud.

“Namun kalau seandainya tidak ada buktinya, tentu saya menyayangkan karena institusi kepolisian jadi negatif pandangannya.”

Tito pun akan berkoordinasi dengan KPK mengenai perkembangan penanganan penyidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

Selain mau membicarakan perkembangan penyidikan kasus tersebut, Tito akan membahas pernyataan Novel tersebut dengan para petinggi KPK.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menambahkan sejauh ini penyidik sulit menemui Novel yang masih dirawat di Singapura.

“Oleh dokternya tidak diizinkan. Harus ada dokter dan dokternya sedang cuti. Penyidik hanya diberi akses 5 menit,” kata dia.

Setyo pun meminta Novel untuk mengungkapkan kalau dia punya informasi.
Kalau dia menyebut nama, diharapkan hati-hati karena kalau tidak terbukti, ada implikasi hukum.

Dalam wawancara dengan Time, Novel sempat menyebut dugaan keterlibatan jenderal polisi dalam kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.

Sebelumnya, Novel disiram air keras yang diduga dilakukan dua pria tidak dikenal di Jalan Deposito depan Masjid Al Ikhsan RT03/10 Kelapa Gading, Jakarta Utara, seusai menjalani salat subuh Selasa (11/4) pukul 05.10 WIB.

Akibat kejadian itu, Novel mengalami luka pada bagian wajah dan bengkak pada bagian kelopak mata kiri, sedangkan pelaku melarikan diri.

Petugas kepolisian sempat mengamankan empat orang yang dicurigai terlibat kekerasan terhadap Novel berinisial M, H, AL, dan N. Namun, polisi melepaskan keempat orang itu karena tidak cukup bukti .

Soal kondisi Novel, juru bicara KPK Febri Diansyah menginformasikan bahwa dokter telah melepas membran plasenta yang sebelumnya ditempel melalui tindakan operasi di mata kanan Novel.

“Kemudian lensa kontak kembali dipasang di mata kanan tersebut,” kata Febri.

Sumber:Mediaindonesia.com (Mal/Ant/P-2/OL-3)

Posted by: Admin Transformasinews.com