Novel Baswedan Merasa Dikriminalisasi Bareskrim

Kata Novel Penyidik Bareskrim Berlebihan!

 

 

TRANSFORMASINEWS, JAKARTA. Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan menilai proses pemeriksaan yang dilakukan Bareskrim Polri merupakan tindakan yang berlebihan. Sebab selama penyidikan dirinya tidak didampingi oleh kuasa hukum

“Adapun atas tindakan-tindakan yang terjadi kemarin saya juga menyampaikan protes dan keberatan, karena itu tindakan yang berlebihan,” papar Novel saat memberikan keterangan kepada media di kantor KPK, Jakarta Selatan, Sabtu (2/05)

Novel menjelaskan dalam proses penangkapannya ada sebuah tahapan yang tidak dilakukan oleh Bareskrim Polri seperti memberikan penasehat hukum kepada Novel. Selain itu, ia juga merasa tidak ada esensi jika Mako Bromob kelapa dua, Depok dijadikan tempat pemeriksaan

“Pada saat itu saya menolak untuk diperiksa lebh lanjut karena saya tidak didampingi kuasa hukum. Kemudian pemeriksaan akan dipindahkan ke Mako Bromob kelapa dua. Karena saya memandang tidak ada esensinya untuk dijadikan tempat pemeriksaan. Pada saat itu dilakukan penahanan kepada saya di Mako Bromob kelapa dua,” tutur Noval

Terkait upaya Bareskrim polri untuk melakukan rekonstruksi di Bengkulu, mantan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu ini memahami bahwa penyidik memiliki keperluan untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Namun lanjut Novel, dalam proses rekonstruksi, Ia meminta untuk didampingi oleh pengacara.

“jadi waktu itu saya minta agar ada penasehat hukum yang dihubungi, karena rekonstruksi tentunya haruslah didampingi oleh kuasa hukum sehingga lebih tepat untuk hal itu berjalan. Tetapi hal itu tdk dipenuhi sehingga malamnya dihubungi dan dilakukan besok paginya,” demikian Novel.

Novel Baswedan Merasa Dikriminalisasi Bareskrim

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan menilai ada upaya kriminalisasi terhadap dirinya terkait kasus yang disangkakan Bareskrim Polri.

“Sebagaimana sebelumnya juga telah saya sampaikan, baik yang disampaikan langsung oleh saya, pimpinan KPK ataupun penasehat hukum. Saya menganggap ini adalah upaya-upaya kriminilaisi kepada saya,” papar Novel saat memberikan keterangan di Kantor KPK, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5)

Novel menilai, proses hukum yang dilakukan terhadap dirinya berlebihan. “Saya juga menyampaikan protes dan keberatan karena itu tindakan yang berlebihan,” sesal Noval

Kendati demikian, sebagai seorang penyidik, Noval tetap mentaati akan aturan hukum, sekalipun hal tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap dirinya

“perlu diketahui bahwa saya pada dasarnya, atas segala tuduhan kepada saya, saya siap menghadapi apapun yang dihadapi dalam proses hukum. saya siap menghadapi,” tutup Novel

Penyidik KPK Novel Baswedan dijemput paksa oleh penyidik Bareskrim Polri dari rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat 1 Mei 2015 sekira pukul 00:00 WIB.

Adapun Novel ditetapkan tersangka oleh Polda Bengkulu pada tahun 2012 terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian, terhadap pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2004 silam. Novel yang kala itu menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengklu diduga terlibat penembakan saat memimpin penyergapan tersebut.

Kasus Novel Murni Penegakkan Hukum, Jangan Dikaitkan Kisruh KPK-Polri

 Penangkapan Novel Baswedan tidak berkaitan dengan konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri. Penangkapan itu merupakan bagian dari proses hukum yang sudah lama tak diproses.

Begitu dikatakan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adrianus Meliala di Jakarta, Sabtu (2/5).

“Ini adalah soal penegakan hukum terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang melakukan pelanggaran hukum,” sambung dia.

Karenanya, dia meminta agar pihak-pihak tertentu tidak menggiring agar proses hukum ini ke arah kisruh antara kedua lembaga penegak hukum. Sebab, dikhawatirkan hubungan KPK-Polri yang sudah semakin adem dan harmonis berbalik menjadi panas.

“Jangan mengkait-kaitkan hubungan Polri ini dengan KPK, karena bisa bikin hubungan dua institusi itu tegang,” demikian Adrianus.

Penyidik KPK Novel Baswedan dijemput paksa oleh penyidik Bareskrim Polri dari rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat 1 Mei 2015 sekira pukul 00:00 WIB.

Adapun Novel ditetapkan tersangka oleh Polda Bengkulu pada tahun 2012 terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian, terhadap pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2004 silam. Novel yang kala itu menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengklu diduga terlibat penembakan saat memimpin penyergapan tersebut.

Meski Tersangka Novel Tetap Bertugas jadi Penyidik

Meski berstatus sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap pencuri sarang burung walet, Novel Baswedan masih tetap menjadi pegawai KPK yang bertugas sebagai penyidik.

Hal itu sebagaimana diutarakan Wakil Ketua KPK sementara, Johan Budi SP dalam konferensi pers di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Sabtu (2/5).

“Statusnya masih tersangka. Dia akan tetap bertugas (sebagai penyidik),” terang dia.

Johan menegaskan, status Novel sebagai tersangka sama sekali tak mempengaruhi tugasnya sebagai penyidik.

“Abraham pimpinan, kalau Novel bukan,” tandas Johan Budi.

SUMBER: [RMOL/AR]

Leave a Reply

Your email address will not be published.