TRANSFORMASINEWS, BANYUASIN. Masyarakat Bumi Sedulang Setudung Kabupaten Banyuasin berharap hubungan Bupati Yan Anton Ferdian dengan Wabub Supriono segera mencair. Karena jika ini masih terus berlanjut ditakutkan akan berdampak terhadap stabilitas pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Banyuasin ke depan. Dan tidak menutup kemungkinan jika ini terus berkanjut pencapaian misi visi keduanya menjadikan Banyuasin sebagai Kabupaten yang terdepan dan berdaya saing akan sulit terwujud.
Sejumlah masyarakat ketika dimintai tanggapan memberikan tanggapan beragam, sebagian besar mereka berharap hubungan dua pimpinan Kabupaten Banyuasin tersebut untuk kembali rukun dan harmonis seperti awal dari proses pencalonan mereka pada pilkada yang lalu. “ Saya ngak ngerti politik, tapi yang namanya hidup rukun itu penting, “kata H Kodri Mancik saat dibincangi wartawan, Senin (16/2/2015).
Sebagai pimpinan daerah, terangnya tentu harus memberi contoh kepada masyarakat yang dipimpinnya. Apalagi usia dari jabatan keduanya baru dua tahun. “ sebagai orang tua saya menghimbau kepada keduanya untuk kembali bersatu, harmonis, dan kiranya untuk saling memaafkan jika memang ada keselahan yang sudah diperbuat,”katanya.
Ketua Mushollah Ash-Sholihin Villa Jati emas, H Iwan Wazir juga menyangkan keretakan hubungan Bupati dan Wabub tersebut. Dan dirinya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi. “ Bagaimana mau pikirkan rakyat, bagaimana mau membangun Banyuasin ini, kalau mereka berdua saja sudah tidak kompak, “sesalnya.
Sebagai Masyarakat terang H Iwan dirinya sangat berharap Kabupaten Banyuasin ini terutama Kota Pangkalan Balai ini proses pembangunan bisa cepat terlaksana. “ lihat saja kota Pangkalan balai ini Cuma sedikit bedanya dengan Ibu Kota Kecamatan, seharusnya ini yang menjadi fokum utama mereka berdua sebagai pemimpin yang sudah di beri amanah oleh rakya. Tapi kalau mereka saja tidak kompak, bagaimana mau memikirkan yang lain, “tegasnya.
Begitu juga H Usman Berlian tokoh masyarakat Desa Regan Agung memintah Bupati dan Wabub untuk kembali rukun guna focus memikirkan pembangunan Banyuasin kedepan. Menurut dia, banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dan masih menjadi persoalan sampai saat ini mulai dari kondisi jalan yang banyak rusak, listrik yang tidak stabil, air bersih yang belum sepenuhnya di nikmati masyarakat hingga persoalan lainnnya. “ Masa jabatan mereka baru masuk dua tahun, artinya masih tersisa tiga tahun lagi, ya kalau mereka saja sudah tidak bersatu bagaimana mau memikirkan rakyat, “katanya.
Sementara itu, para petani karet yang dimintai komentar berharap Bupati dan wakil Bupati memikirkan bagaimana harga karet bisa meranjak naik, karena saat ini harganya sangat rendah berkisar Rp 4000 perkilogram dan itu sangat menyulitkan para petani. “ Bupati dan Wabub lebih baik pikirkan kami petani karet ini, bagaimana menaikan harga dari pada rebut melulu, “kata Rukiya petani Karet.
Tidak kalah pentingnya, Yusman seorang pedagang manisan di Pasar pangkalan balai juga menyesalkan hubungan pemimpin Banyuasin itu tidak kondusif. “ Jujur saya pada pilkada kemarin pilih mereka berdua untuk menjadi Bupati dan Wabub, ya kalau benar mereka tidak harmonis sangat di sayangkan, “katanya.
Dari pantauan wartawan, di beberapa kegiatan strategis yang dilaksanakan di lingkungan Pemkab Banyuasin, sosok mantan Kepala Inspektorat Kabupaten Banyuasin sudah jarang terlihat, padahal sebelumnya kedua pejabat tinggi di bumi sedulang setudung Banyuasin ini selalu bersama bahkan setiap menghadiri sebuah kegiatan tidak jarang keduanya saling memuji.
Namun akhir-akhir ini terasa ada yang berbeda, seperti dalam acara Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Banyuasin 2014-2018 yang diadakan Bappeda dan Litbang Kabupaten Banyuasin di auditorium Pemkab Banyuasin, Rabu (4/2/2015), Wabub Supriono tidak terlihat hadir padahal acara ini sangat penting karena RPJMD merupakan penjabaran dari visi dan misi mereka berdua sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banyuasin. Begitu juga pada saat peresmian CPNS dari honorer Ketogori II , wabub juga tidak hadir.
Tidak hanya itu, informasi yang di himpun dari berbagai sumber yang ada di lingkungan Pemkab Banyuasin, retaknya hubungan keduanya sudah berlangsung cukup lama bahkan dalam pembahasan anggaran untuk RAPBD Kabupaten Banyuasin tahun 2015 yang dilakukan tim anggaran Pemkab Banyuasin, Wabub tidak dilibatkan padahal secara Undang-Undang jabatan keduanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Pun juga wewenang, menurut sumber tadi, yang seharusnya di berikan kepada Wakil Bupati, justru di limpahkan kepada Sekretaris daerah atau para Asisten dilingkungan Pemkab Banyuasin.
Sementara itu, Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian, SH ditemui sesuai membuka acara sosialisasi RPJMD beberapa waktu lalu menegaskan jika hubungan mereka berdua sangat harmonis. “ Hubungan kami berdua sangat harmonis, jadi mau percaya gosif atau fakta, “katanya.
Sumber: (detiksumsel.com)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
