TRANSFORMASINEWS,MARTAPURA – Harga karet yang tak kunjung membaik ditambah kondisi Kemarau yang mempengaruhi produksi getah karet semakin membuat sulit petani karet yang ada di Kabupaten OKU Timur dan sekitarnya. Belum biaya yang dikeluarkan mulai dari menyadap, mengumpulkan getah hingga memprosesnya menjadi siap jual membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan OKU Timur, Indra Barlian melalui Kabid Kelembagaan dan Usaha, M Husin, Jumat (26/9/2014) mengatakan petani bisa mensiasati anjloknya harga karet salah satunya dengan menunda jual karet. Menurutnya, jika selama ini petani menjual karet mingguan atau dua mingguan, untuk menambah penghasilan bisa menjual karet menjadi bulanan.
“Terdapat selisih harga yang cukup signifikan antara karet mingguan dan karet bulanan. Jika karet mingguan dihargai Rp 6.000 per kilogram maka karet bulanan bisa mencapai Rp 9.000 sampai Rp 10 ribu per kilogram. Karena itu, jika tidak terlalu mendesak sebaiknya petani menunda jual karet dari bisa mingguan menjadi karet bulanan,” ungkapnya.
Selain itu , dirinya juga menghimbau agar petani memperhatikan kualitas karet yang dihasilkan. Sebisa mungkin karet yang dihasilkan dan akan dijual harus bersih dari berbagai macam kotoran yang bisa mempengaruhi harga saat akan dijual.
“Diakui saat ini harga dan produksi karet sedang turun, namun petani tetap harus memperhatikan kualitas. Jika kualitas karet petani masih kotor akan berpengaruh pada nilai jual. Selama ini petani kurang memperhatikan kebersihan karet karena tidak ada perbedaan harga ditingkat remiling,” ungkapnya.
Produksi karet OKU Timur hingga Juli tahun 2014 ,lanjut Husein,telah melampaui produksi selama tahun 2013. Dimana total produksi karet tahun 2013 mencapai 37.724.38 kilogram dalam bentuk karet kering. Sedangkan pada 2014 hingga Juli produksi karet petani OKU Timur mencapai 38.900.000 kilogram.
Dia menambahkan, total perkebunan karet di OKU Timur mencapai 79.089,04 hektar yang seluruhnya milik masyarakat. Jumlah ini terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 42.022,91 hektar, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 37.051,13 hektar dan tanaman tua mencapai 24.000 hektar. ”Untuk tanaman karet yang sudah tua saat ini sudah dilakukan peremajaan,” tandasnya. (Yanto TIMUR)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
