
TRANSFORMASINEWS.COM, BENGKULU. Realisasi anggaran untuk pemberangkatan kafilah Bengkulu ke arena STQ Nasional di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) 16 – 22 Juli lalu, dicurigai banyak fiktif dan mark up. Dana untuk memberangkatkan 42 orang tersebut menghabiskan dana Rp. 1,4 miliar.
Yang mengundang sorotan, jumlah pendamping, hampir dua kali lebih banyak dari jumlah peserta yang tampil di STQ. Peserta hanya berjumlah 15 orang, sedangkan pendamping 27 orang. Hasilnya? Minim prestasi.
Info yang diperoleh RB, dugaan penyalahgunaan terdapat pada beberapa item. Diantaranya biaya dekorasi pembuatan spanduk seleksi, belanja dokumentasi kegiatan, belanja transportasi dan akomodasi dan tiket pesawat, serta juga honorarium panitia.
Anggaran yang dicurigai fiktif diantaranya biaya sewa hotel jumlah kafilah Provinsi Bengkulu dibuat 225 orang dengan nilai Rp. 500 ribu per malam. Begitu juga tiket pesawat untuk 50 orang senilai Rp. 4,6 juta per orang. Serta honorarium koordinator dewan hakim 2 orang sebesar Rp. 1,7 juta per orang dan honorarium sekretaris dewan hakim S1 dan S2 masing-masing per orang Rp. 1 juta. Serta transportasi peserta dan pendamping.
‘’Hampir seluruh kegiatan atau item tersebut banyak yang tidak jelas. Bahkan ada yang kegiatannya sama, tetapi honorariumnya berkali-kali. Kemudian yang banyak itu, kegiatan dilakukan harusnya 7 hari tetapi hanya dilaksanakan sehari. Sedangkan honorariumnya tetap dibagikan full,’’ ujar sumber RB kemarin.
Dikatakan, ada beberapa tiket pesawat yang tidak ada sama sekali orangnya, tetap dimunculkan. Begitu juga biaya penginapan ada dugaan mark up. Padahal peserta hanya 15 orang. Bahkan peserta ada yang menempati satu kamar 2 orang. Tapi anggaranya dihitung 225 orang. “Jadi ada benarnya memang STQ itu ajang jalan-jalan. Sehingga menghabiskan uang rakyat saja,” ujarnya.
Minta Penegak Hukum Usut
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Bengkulu Jonaidi, SP meminta agar aparat penegak hukum dapat melakukan penyelidikan atau mengusut dugaan ketidakberesan terhadap realisasi anggaran tersebut.
Pasalnya DPRD mengesahkan anggaran cukup besar untuk memberikan motivasi kepada para peserta atau kontigen dari Bengkulu. Selama ini banyak kontingen baik dalam seleksi STQ atau olahraga lainnya yang ikut tidak mendapatkan fasilitas yang memadai.
Tetapi bukan berarti dana yang besar dihabiskan untuk berpoya-poya. Bahkan hasil prestasi yang dibawa tidak ada. Ini sangat disayangkan apalagi dalam penggunaan banyak yang fiktif. Sehingga perlu diaudit dan diusut penegak hukum.
‘’Kita minta agar pertanggungjawaban dan peruntukan anggaran benar-benar sesuai peruntukan. Kalau menyimpang apalagi sampai mark up atau fiktif itu jelas menyalahi aturan,’’ bebernya.
Gazali: Tidak Ada yang Fiktif
Sementara Kepala Biro Pemerintahan dan Kesra Pemprov, Rehal Ikmal, SH, M.Si melalui Kabag Agama, Gazali, S.Sos mengatakan anggaran keberangkatan ke STQ di Kaltara hanya Rp. 1,4 miliar. Bukan Rp. 3,5 miliar.
Menurut Gazali, pihaknya melaksanakannya kegiatan sesuai aturan. Dia menegaskan tidak ada yang difiktifkan atau di mark up.
Untuk honorarium peserta pembinaan tahap I sebanyak 15 orang sebesar Rp. 100 ribu per hari. Kemudian pembinaan tahap II juga Rp .100 ribu per hari. Lalu honor pelatih sesuai Pergub setingkat Prov Rp. 1,7 juta per hari dan S2 sebesar Rp. 1 juta per hari dan S1 Rp. 800 ribu. Untuk SPPD luar daerah sesuai Pergub juga.
Lalu untuk peserta yang tampil di Kalimantan Utara diberikan uang harian SPPD luar daerah. Sedangkan panitia tidak ada sama sekali honor sejak dimulainya seleksi pesert baik tahap I dan II. Bahkan proses pelaksanaanya sudah maksimal. ‘’Jadi tidak benar kalau ada yang fiktif dalam merealisasi anggaran. Apalagi mark up,’’ ujarnya.(che)
Sumber:Harianrakyatbengkulu (che)
Posted by: Admin Transformasinews.com
