DUGAAN MARK UP PERHITUNGAN ANGGARAN PEMBIAYAAN LRT PALEMBANG

gambar lrt palembang

Proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Palembang sepanjang 24,5 kilometer (km) ditargetkan selesai Januari 2018. Target ini maju dari rencana awal di kontrak proyek yang tertulis bulan April 2018. Majunya target penyelesaian proyek LRT Palembang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk (WSKT), M. Choliq saat jumpa pers di acara Investor Day di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/8/2016). “LRT Palembang progresnya di atas rencana. Jadi kami harus bisa cepat lebih cepat dibandingkan waktu di kontrak. Kalau nggak salah di kontrak April, kita Januari 2018 jadi, targetnya maju,”kata Choliq. Dirinya mengakui bahwa majunya target penyelesaian proyek LRT Palembang bukan karena permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Harus lebih cepat. Kita makin cepat makin baik. Untungnya makin banyak,” kata Choliq. Dirinya menambahkan bahwa kemajuan pembangunan LRT Palembang hingga saat ini sudah di atas 10%. Saat ini, pekerja proyek tengah fokus dalam pemasangan girder atau balok beton sebagai jalan kereta ringan. “Sekarang girder-girdernya pun mulai dipasang. Sudah lebih (dari 10%),” tutur Choliq. (feb/feb). Foto: Pembangunan prasarana LRT Palembang (Ardan Adhi Chandra/Detik)

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG. PT Waskita Karya (Persero) ditunjuk sebagai kontraktor proyek kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 atau dikerjakan dengan kontrak lisan dari Presiden Jokowi.

Waskita menggelontorkan dana talangan pembangunan proyek atau prefinancing sambil menunggu pembiayaan dari APBN tahun 2017 dan 2018. “Seluruhnya dibiayai Waskita dulu, menunggu APBN 2017 dan 2018, Pembayaran akan dibahas persisnya ada beberapa kali.

Sampai hari ini saya belum terima pembayarannya,” tutur M. Choliq Direktur Utama Waskita kala itu di Palembang Kamis (18/8/2016).

Choliq menyatakan bahwa total investasi pembangunan LRT Palembang mencapai Rp 11,4 triliun. Dimana di perkirakan PT. Waskita diperkirakan telah menggelontorkan dana sebesar Rp. 1,25 triliun dengan perkiraan pembangunan proyek LRT Palembang yang sudah mencapai 11%.

Penelusuran tim kepada sumber yang mengetahui proyek tersebut menyatakan bahwa pekerjaan proyek LRT Musi akan bernasib sama seperti monorel DKI yang dinyatakan Ahok monument batu nisan lantaran proyek monorel tersebut mandek, hanya terlihat tiang-tiang pancangnya di jalan-jalan.

Karena pendanaan proyek LRT Palembang tidak termasuk dalam penyertaan modal negara (PMN) yang dikucurkan kepada Waskita Karya senilai Rp. 3,5 triliun, maka mau tidak mau perseroan harus menempuh pendanaan lain yakni dari pinjaman perbankan. “Ini adalah proyek pertama kami yang menggunakan kontrak khusus, tidak pakai PMN,” pungkas Choliq.

Sementara itu Menteri keuangan “Sri Mulyani” memotong anggaran Kementerian Perhubungan mencapai lebih dari Rp. 4 trilyun. Lalu darimanakah sumber pendanaan pembangunan LRT Sumsel oleh PT Waskita Karya ????

Disinyalir PT Waskita Karya menggunakan pinjaman bank untuk membiayai proyek LRT ini dengan menggadaikan aset –aset PT Waskita Karya. Bila memang Waskita meminjam dari konsorsium perbankan untuk pembiayaan proyek LRT Sumsel maka patut diduga terjadi mark up perhitungan anggaran pembiayaan proyek.

Sedangkan keuntungan yang diambil perusahaan pelat merah dari proyek ini sebesar 10% atau Rp. 1,14 triliun dimana seluruh pembiyaan proyek LRT Palembang menggunakan dana internal perseroan.

“Tadi kan anda bisa mengira-ngira bobotnya baru 11%. Nilai kontraknya Rp. 11,4 triliun total, sehingga prestasinya 11% kali Rp. 11,4 triliun. Biaya berapa? Kalau untungnya 10%, ya berarti dikalikan 90% tinggal untungnya berapa,” jelas Choliq. kala itu di Palembang Kamis (18/8/2016).

Perhitungan anggaran pelaksanaan proyek pemerintah tidak boleh memperhitungan biaya bunga bank kecuali proyek tersebut proyek investasi (dibiayai investor dengan perjanjian khusus). Diduga dalam perhitungan pembiayaan pelaksanaan pekerjaan proyek LRT Musi, perencana Rencana anggaran Pembiayaan (RAB) diduga telah ditipi pesan untuk menambah biaya pembayaran bunga kridit perbankan.

Di khawatirkan tidak hanya biaya bunga perbankan yang di masukkan dalam RAB pembangunan LRT Sumsel namun juga biaya –biaya siluman yang diduga/ disinyalir di titipkan untuk kepentingan politis dan biaya untuk meloloskan persetujuan DPR RI .

 Foto Feri Kurniawan.

Foto Feri Kurniawan.
Foto Feri Kurniawan.
Foto Feri Kurniawan.Foto Feri Kurniawan.

Laporan: Tim-Redaksi

Editor: Amrizal Aroni

Sumber:Transformasi

Posted by: Admin Transformasinews.com

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016