
IST
TRANSFORMASINEWS, YOGYAKARTA – Puluhan grup nasyid ambil bagian dalam Festival Nasyid Yogyakarta (FNY) 2015 bertema “Ayo nasyid-an nang Jogja!” yang digelar di Gedung Basiyo Kompleks XT Square Yogyakarta kemarin. Sebanyak 21 grup akapela mengawali penjurian dengan menampilkan dua lagu.
Salah sa tunya lagu wajib berjudul Nasyid Memang Asyik milik grup musik nasyid Fatih. Festival yang digarap Asosiasi Nasyid Nusantara Wilayah Yog yakarta (ANN Yogya) bersama Keluarga Mahasiswa Al Huda FBS UNY dan Dinas Pariwisata DIY ini melombakan dua kategori, yakni kelompok akapela dan musik. Total hadiah yang disediakan sebesar Rp48 juta.
Peserta yang lolos di babak semifinal kemarin akan bertarung dalam ajang final yang digelar hari ini (Minggu, 24/5). FNY adalah kompetisi nasyid terbesar 2015 yang diikuti kelompok nasyid dari berbagai daerah. ”Ini ketiga kalinya digelar. Pertama tahun 2012 dan 2013. Sayangnya, pada 2014 sempat vakum. Kini panggung FNY 2015 digelar lagi,” ungkap Ketua Panitia FNY III Dede Herdiansyah.
Ajang FNY 2015 makin berkesan dengan hadirnya vokalis grup Nasyid Snada, Teddy Tardiana. ”Terima kasih Kang Teddy Snada yang hadir di tengahtengah kita pagi ini. Kami berharap, meski FNY nanti sudah selesai, grup-grup nasyid yang tampil di ajang ini akan selalu hidup dan berkembang,” ujar Dede.
Lomba nasyid tersebut dinilai tiga juri, yaitu Dr Kun Astuti (pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni UNY), Rahmat (perwakilan Dispar DIY), dan Era Su giarto (praktisi nasyid). ”Keterlibatan Dispar DIY dalam festival nasyid ini sebagai bentuk melestarikan potensi yang ada. Banyak bibit-bibit nasyid di Yog ya dan sekitarnya yang kian ek sis hingga kini,” ungkap Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wi sata (Kasi ODTW) Dispar DIY Mohammad Haliem.
Sementara itu, juri festival Kun Astuti menambahkan, nasyid menjadi contoh gaya dan tren anak muda yang baik. ”Saya lihat anak-anak di grup nasyid ini kalau bicara santun, baik tutur katanya. Ini bisa menjadi tren baik anak muda saat ini. Untuk penjurian lomba, yang kami nilai yakni kemampuan musikalitas serta kreativitas dalam menyampaikan dakwah lewat musik nasyid,” kata Kun.
Kun dan sejumlah praktisi nasyid Yogyakarta telah merintis nasyid sekitar 2000, menyusul booming-nya grup-grup nasyid pascareformasi. Tahun itu di Yogyakarta saja muncul 150-an grup nasyid. Nasyid turut mengawal reformasi dengan syair-syair lagu nya yang mengkritisi pemerintahan pada waktu itu. Pada 2004 merupakan puncak kejaya annasyid karena sering muncul di televisi swasta, kemudian mengalami pasang surut hingga sekarang.
SUMBER:Koran SINDO/AR
