Inilah Pernyataan Rizal Ramli Soal Boediono

 Headline

 

TRANSFORMASINEWS.COM,Jakarta – Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli sering mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ia kerap memberikan pernyataan ‘pedas’ terkait kasus Bank Century. Ia ceplas-ceplos jika berbicara Wakil Presiden Boediono.

Mau tahu apa saja pernyataan Rizal Ramli terkait Boediono dalam kasus Bank Century?

Minta Boediono Bersikap Kesatria

Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian di Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid, mengimbau agar Boediono yang mantan Gubernur Bank Indonesia bersikap kesatria.

Berbicara di acara Prime Time Metro TV, Selasa (26/11/2013) malam, Rizal Ramli menyatakan Boediono seharusnya membiarkan para deputi (bawahannya) untuk menjadi korban dalam skandal Bank Century.

“Kasihan misalnya dengan Pak Budi Mulya dan bahkan Ibu Siti Fajriah yang sampai menderita stroke karena tuduhan terlibat dalam skandal Bank Century,” kata Rizal Ramli.

Rizal mengungkapkan pembicaraannya dengan Mayjen Kurdi, salah seorang staf khusus Persiden SBY pada 2009. Kurdi yang ketika itu katanya menjabat Sekretaris Pemilihan Presiden (SBY) 2009 menyatakan nama Boediono sebetulnya tidak masuk dalam daftar calon Wakil Presiden. Pada saat itu SBY sudah punya 9 nama calon Wakil Presiden.

“Tapi begitu Bank Century ditalangi oleh Bank Indonesia dengan dana sebesar Rp6,7 triliun, saat itu juga nama Boediono muncul sebagai satu-satunya calon wakil presiden. Sembilan nama yang sebelumnya sudah ada, seketika hilang,” kata Rizal Ramli mengulangi percakapannya dengan Kurdi.

Headline

 

Jabatan Boediono Gratifikasi

Rizal Ramli buka-bukaan mengenai sejarah keterpilihan Boediono sebagai wakil presiden. Begitu juga anggapan gratifikasi jabatan wakil presiden kepada mantan gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut.

Diakuinya, jabatan wakil presiden yang diduduki Boediono, merupakan gratifikasi dari bailout Bank Century. “Begitu PBI tentang CAR diturunkan supaya Bank Century bisa bailout, Boediono langsung muncul sebagai calon wakil presiden,” kata Rizal.

Dalam kasus-kasus korupsi, kata Rizal, gratifikasi biasanya menyangkut uang, terutama di tingkat gubernur atau bupati. Namun ada juga gratifikasi perempuan, bahkan berupa gratifikasi jabatan sekalipun.

Dirinya melihat, dalam kasus bailout Bank Century kali ini, jabatanlah sebagai gratifikasi. “Kasus ini biasanya yang bersangkutan tidak menerima uang, tapi in return mendapatkan jabatan sebagai gratifikasi,” ungkapnya.

Kasus serupa kata Rizal Ramli, dulu juga terjadi pada Bank Bali. Selaku Gubernur BI, Sjahril Sabirin tidak menerima uang satu rupiah pun. Namun dia dijanjikan jika gol pengeluaran uang Bank Bali, Sjahril akan ditunjuk jadi Gubernur Bank Indonesia untuk lima tahun lagi.

“Jadi dalam kasus-kasus kerah putih, gratifikasinya tidak selalu dalam bentuk uang, melainkan bisa juga berupa jabatan. Pelakunya diminta melakukan sesuatu yang sangat merugikan negara,” kata Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) itu.

Headline

 

Minta Boediono Mundur

Boediono diminta mengundurkan diri untuk mempertanggungjawabkan kasus bailout Bank Century. Demikian permintaan Rizal Ramli di Kampus Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat (7/3/2014).

Menurut Rizal, Boediono sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia harus berani bertanggung jawab atas bailout yang merugikan keuangan negara Rp6,7 triliun itu.

“Dia (Boediono) harus mengundurkan diri sebagai wapres dan berhenti menyalahkan anak buah. Jadilah pemimpin yang berani tanggung jawab,” tegas Rizal.

Sebab, kata Rizal, berdasarkan berita acara pemeriksaan, Boediono acap kali menyalahkan anak buahnya semasa menjabat Gubernur BI.

“Menurut berita acara, Boediono kok hanya menyalahkan anak buah. Dia kan seorang pemimpin, jadi harus berani bertindak,” tegas Rizal.

Headline

 

Boediono Takuti Bank Sentral

Rizal Ramli mensinyalir ada sekelompok pejabat yang kerjanya nakut-nakuti.

Hal ini diutarakannya di rapat pansus Century, Kamis (21/1/2010) malam. Ini juga terjadi pada saat Indover Bank mau ditutup. BI terlihat berusaha untuk tetap mempertahankan bank tersebut. Kenapa?

“Karena memang Bank Indover ini dijadikan sapi perah oleh pejabat di BI,” ujarnya.

Dengan keberadaan Bank Indover ini dijadikan kesempatan bagi para pejabat BI untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. “Karena selain dapat bonus dari BI, meraka juga dapat upeti dari Bank Indovernya sendiri,” tandasnya.

Boediono saat itu terkesan menakut-nakuti bank sentral. “Jadi ada (kelompok pejabat) supaya dia dikasih kekuasaan lebih besar lagi dan lolos dari hukum,” ujarnya. (iNILAH.COM)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016