TRANSFORMASINEWS, PALEMBANG. Gubernur Sumatera Selatan Haji Alex Noerdin dalam beberapa hari ini gemas bukan kepalang atas beberapa proyek besar di Sumsel yang belum juga terealisir sampai sekarang. Padahal ia sudah memperjuangkannya sedemikian rupa demi kemashalatan rakyat banyak.
Alex mengungkapkan seluruh uneg-unegnya tentang hal itu di Griya Agung.
Ia mengatakan, Indonesia itu luas dan majemuk. Karena itu pendekatan sektoral dan makro tidak akan bisa meningkatkan daya saing daerah. Provinsi, kabupaten dan kota merupakan unit geografis yang punya masalah dan tantangan berbeda. Kita perlu kepemimpinan yang bersedia berperan sebagai penyapu ranjau. Menyingkirkan semua rintangan yang ada.
“Kita perlu road map baru. Menyusun ulang hubungan pusat dan daerah maupun antara pemerintah dengan warga. Kita harus berpikir dan bekerja berdasarkan SKS (Skala, Kompleksitas dan Sinergi). Menata ulang daya saing daerah dan merajutnya menjadi daya saing Indonesia di tingkat global. Daerah harus diberi wewenang lebih walau tidak harus berlebihan. Banyak contoh bahwa bottle neck bukan di daerah. Tetapi, di pusat,”tegasnya.
Ia mencontohkan soal rencana pembangunan jalur kereta api double track dari Tanjung Enim ke Tanjung Api-api sejauh 270 Km. Saat itu tahun 2011 Gubernur Sumsel menandatangani MoU bersama Bukit Asam dan Adani dari India. Adani akan membawa 30 juta ton batubara per tahun selama 30 tahun. Penandantangan itu disaksikan Presiden SBY dan PM India di New Delhi.
Ditambahkan, sebagai bentuk kesungguhan Adani sudah menempatkan tanda jadi kesungguhan hati di Bank SumselBabel sebesar 5 juta dolar AS untuk melaksanakan proyek 1,5 miliar dolar AS.
Bahkan, kata Alex, Adani sudah survei selama dua tahun. “India itu sudah hitam tambah hitam. Dia ikut langsung di kereta api Babaranjang. Duduk di situ di loko dan di atas tumpukan batubara untuk rute Tanjung Enim – Lampung bolak-balik. Survei sudah. Mereka pun sanggup membebaskan lahan dengan biaya mereka,” katanya.
Tetapi, akhirnya proyek itu terhalang hanya satu yaitu oleh peraturan Menteri Perhubungan yang mengharuskan yang membangun kereta api khusus batubara harus punya KP (kuasa pertambangan) batubara.
“Lha Adani memang tidak punya KP batubara. Tetapi, dia punya kontrak dengan Bukit Asam 30 juta ton setahun selama 30 tahun. Itu kan lebih dari KP.
Saya berjuang untuk menghapus peraturan menteri itu setahun lebih. Tetapi tidak ada hasil. Akhirnya India kecil hati. Dia pindah ke Australia dan membangun pelabuhan batubara terbesar di dunia, yang seharusnya ada di Tanjung Api-api,”kata Alex sambil tertawa pahit.
Konflik Internal
Hal kedua yang membuatnya kesal adalah saat dirinya menggagas jalan tol Trans Sumatera Highway dari Lampung sampai Banda Aceh.” Saat itu saya bersama Dahlan Iskan. Pada proyek jalan tol yang bertanggung jawab 10 gubernur se-Sumatera di wilayahnya masing-masing,”katanya.
Alex mengungkapkan, pada jalan tol sejauh 2700 Km itu ada beberapa segmen yang tidak layak secara ekonomi. Karena itu tidak bisa dibangun oleh pihak ketiga dengan tender. Pasti tidak ada yang mau.
Dijelaskan, Jasa Marga yang sudah berstatus go public tidak akan mau membangun. Pembebasan lahan oleh pemerintah daerah pembangunan dengan dana APBN. Hatta Rajasa sewaktu menjadi Menteri Keuangan Ad Interim sudah mengalokasikan dana 2 triliun untuk 2013 dan 3 triliun pada 2014. Tetapi, terhalang oleh konflik internal di Kementrian PU karena Sekjen PU adalah Komisaris Utama dari Jasa Marga. Dan Dirjen Bina Marga komisaris di Hutama Karya. Akhirnya daerah yang jadi korban. “Jadi kalau ada keterangan Menteri PU bahwa Perpres itu harus direvisi ulang itu tidak benar. Saya ingin ketemu langsung.
Begitu pula, lanjut Alex, pada kasus Tanjung Api-api. Sudah sejak 2010 semua syarat dipenuhi. Namun yang menentukan untuk menjadikan TAA menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah Dewan Ekonomi Nasional KEK yang terdiri dari beberapa menteri terkait. Ketuanya Menko EKUIN Hatta Rajasa.
“Saya akan coba tagih langsung ke Presiden nanti kalau beliau ke Palembang,”tambah Alex.
Alex mengaku tidak akan lelah berjuang untuk mega proyek yang akan dibangun di Sumsel. Namun ia juga meminta agar road map hubungan pusat dan daerah dikaji ulang.
Gubernur yang baru mendapatkan penghargaan pada Hari Pers Nasional 2014 di Bengkulu bulan lalu itu juga akan mendapat penghargaan KONI Award dari KONI Pusat atas semua keberhasilannya memajukan olahraga nasional. Sumsel sukses menggelar SEA Games XXVIdi Palembang dan mengantarkan Indonesia menjadi juara umum. Sumsel juga sukses menggelar Islamic Solidarity Games 2013 hanya dengan persiapan tidak sampai dua bulan.
Tahun ini Sumsel akan menjadi tuan rumah Asian University Games dan MTQ Internasional.
Pada kesempatan kemarin, Hadi Prayogo juga menyampaikan juga maksud untuk mengundang gubernur pada acara “Melangkah Bersama Tribun” pada 27 April. Even ini akan berlangsung secara serentak di Indonesia. Di Sumsel, startnya akan berlangsung di halaman Pemprov Sumsel Jl Kapten A Rivai.
“Saya akan datang,”kata Alex sambil langsung mencatat tanggal tersebut di buku kecilnya.***
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi