Pemerintah Tak Mencegah Transaksi Petani-Tengkulak

ISTIMEWA Ilustrasi

ISTIMEWA
Ilustrasi

 

TRANSFORMASINEWS.COM, MARTAPURA – Banyak pengusaha dari luar OKU Timur yang datang membeli gabah secara langsung dari petani saat musim panen tidak anggap sebagai masalah bagi ketersediaan pangan di wilayah tersebut. Bahkan menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Kholtikultura OKUT, Tubagus Sunarseno itu menunjukkan bahwa kualitas beras OKU Timur cukup bagus dan dicari oleh warga luar.

 

Datangnya pengusaha luar untuk membeli gabah petani dari sawah langsung, menurut dia, sangat menguntungkan petani. Dengan begitu para petani bisa bisa mematok harga. Pemerintah tidak bisa mencegah hal itu karena petani bisa memilih siapa konsumen mereka.

 

“Selaku produsen, tentunya kita mengharapkan agar petani bisa menjual gabah mereka dengan harga melebihi harga pasar. Nilai tawar akan naik ketika pengusaha datang langsung mengunjungi petani untuk membeli gabah. Yang jelas kita harapkan akan menguntungkan petani,” ujarnya.

 

Mengenai adanya kemungkinan pengusaha tersebut terlebih dahulu memberi pinjaman atau bantuan obat-obatan kepada petani, Tubagus tidak mempersoalkan hal itu. Menurutnya, meskipun pengusaha memberi pinjaman kepada petani untuk penggarapan lahan, selagi pengusaha tersebut tidak memberatkan dan tidak membuat petani merugi tidak menjadi masalah.

 

“Terlepas apakah pengusaha meminjamkan atau membantu obat. Tidak masalah selagi petani masih bisa mematok harga saat penjualan gabah. Petani juga tidak mungkin menjual gabah tanpa adanya peran dari para pengusaha itu,” ujar Tubagus.

 

Menurut catatan Dinas Tanaman Pangan dan Kholtikultura OKU Timur, setiap tahun OKU Timur menghasilkan beras sekitar 800 ribu ton yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Sumatera Selatan dan luar Sumsel. Pemasarannya berbeda-beda mulai dari melalui kelompok tani, pabrik hingga pengusaha yang datang langsung ke petani untuk mengambil gabah petani dalam setiap panen.

 

Sedangkan luas lahan tanam saat ini lanjut Tubagus, sekitar 42.578.25 Hektare (Ha) yang terdiri dari lahan sawah irigasi tekhnis dan lahan sawah tadah hujan dengan beberapa jenis varietas bibit padi unggul diantaranya varietas ciliwung, 64 Cisadane, dan Mekongga.

 

“Namun yang banyak diminati masyarakat saat ini adalah ciliwung dan cisadane, karena hasilnya melebihi varietas lain. Akan tetapi kita sudah menyarankan agar petani setiap musim tanam mengganti varietas untuk menghindari jenis hama yang akan merugikan
petani,” katanya.

 

Ketua Persatuan Penggilingan Padi (perpadi) Kabupaten OKU Timur Faisal Habibur SH menambahkan, banyaknya pengusaha luar membeli hasil pertanian petani dalam jumlah besar, akan menambah wawasan pengusaha lokal agar mampu bersaing dengan pengusaha luar.

 

Selain itu, para pelaku pasar juga akan berfikir dengan datangnya pengusaha luar untuk menaikkan harga setinggi-tingginya agar petani mendapatkan keuntungan dari hasil pertanian mereka.

 

“Dengan banyaknya penawaran dari luar. Tentunya petani bisa menaikkan harga yang otomatis keuntungan mereka juga akan mengalami peningkatan,” katanya.

 

Keuntungan lain datangnya pengusaha luar untuk membeli beras petani tersebut kata dia, adalah harga yang tetap stabil dan tinggi. Dengan datangnya pengusaha luar untuk membeli langsung, otomatis harga beras akan stabil dan tidak mengalami anjlok karena penumpukan.

 

Menurut dia, jika tidak ada pengusaha luar yang datang membeli gabah petani dalam jumlah besar, otomatis gabah dan beras ditingkat petani akan menumpuk yang diiringi oleh anjloknya harga. Terlebih jika musim hujan, petani tidak bisa menimbun gabah karena akan rusak. Namun jika gabah petani langsung diambil oleh pengusaha. Stabilitas harga akan bertahan dan penumpukan gabah atau beras tidak terjadi.

“Memang bagi pengusaha lokal, mungkin agak sulit mendapat keuntungan karena banyaknya gabah yang dibawa oleh pengusaha luar ke luar daerah,” katanya.(SRIPOKU.COM)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016