Andai Dokter Mau Merawat, Cucuku Tidak Meninggal
Rasa sedih dan kesal terpancar di wajah, Teti Sumanti (35) dan Iis (18). Ibu dan anak warga Desa Babat, Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI. Keduanya baru saja ditinggalkan Daris Khairul Azam (3 bulan), anak Iis yang juga cucu Teti.
Suasana duka masih sangat kental terasa di rumah Teti. Dengan mengenakan baju kaos warna kuning dipadu jelana hitam dan jilbab biru, Nenek yang masih muda ini menceritakan, kisah pilu yang menimpa cucunya, Daris Khairul Azam. Daris adalah purta pertama pasangan Iis, putri kedua Teti, dan Prengki (22).
Teti yang sudah setahun mendambakan cucu seiring pernikahan Iis lebih setahun lalu, akhirnya kesampaian tiga bulan lalu. Iis memberi cucu laki-laki yang diberi nama Daris Khairul Azam. Betapa gembira sang nenek mendapatkan cucu yang diidamkan.
Namun kegembiraannya mendapatkan cucu pertama tersebut tidak berlangsung lama. Hanya tiga bulan, kebahagiaan yang dirasakan hancur. Cucu kesayangannya, meninggal dunia pada Jumat (21/2) sekitar pukul 14.00 WIB dalam perjalanan hendak dirujuk ke RSU Pertamina Prabumulih akibat menderita sakit batuk dan diare.
Teti menceritakan, cucu kesayangannya ini meninggal dunia bermula dari mengalami sakit batuk batu dan diare yang lamanya sudah hampir dua minggu. Lalu pada hari Rabu (19/2), sekitar pukul 16.30 WIB, dia membawa cucunya untuk berobot ke Puskesmas Babat. Namun di Puskesmas, dokter tidak berada di tempat dan disarankan datang keesokan harinya.
Esoknya, Kamis (20/2), dia kembali membawa cucunya ke Puskesmas tersebut sekitar pukul 08.30 WIB. Namun dokter belum juga datang. Lalu dia menunggu dokter Puskesmas sampai hampir 2 jam, dokter Puskesmas belum juga datang. Dia bermaksud pulang.
”Karena sudah dua jam menunggu dokter belum juga datang, lantas saya hendak pulang. Ketika hendak pulang ternyata dokter datang,” ujar Teti mengisahkannya.
Tetapi harapannya agar cucunya segera ditangani tak kesampaian. Sebab dokter tidak langsung mengobati pasien yang sudah lama mengantri. Tetapi dokter masih memimpin rapat dengan stafnya.
”Saya terpaksa menunggu dokter itu selesai rapat hampir 2 jam,” jelasnya.
Di ruang periksa, dia menceritakan keluhan penyakit cucunya. ”Saat itu saya jelaskan, bahwa cucu saya mengalami batuk-batuk yang lamanya sudah hampir 2 minggu dan mengalami sakit diare. Saat itu saya minta dokter untuk merawat inap dengan diberi infus. Saya juga meminta obat yang bagus walaupun harganya mahal tetap saya tebus,” jelasnya.
Namun, sang dokter tidak memenuhi permintaannya untuk menjalai rapat inap. Setelah diperiksa, lalu dokter tersebut memberikan cucunya 4 jenis obat. ”Dak usah rawat inap, aku lebih mengerti, aku ini dokter,” terang Teti menirukan perkataan sang dokter.
Keempat jenis obat yang diberikan yakni sirup paracetamol, sirup ambroxol, pil zink Dispersebel dan obat racikan. Obat yang diberikan dokter tersebut telah diberikan kepada cucunya selama beberapa kali. ‘Siruf Paracetamol kami berikan sebanyak empat kali dan obat lainnya ada dua kali kami berikan,’ ujarnya.
Setelah sampai di rumah dan diberi minum obat tersebut, batuknya agak mereda. Tapi tubuhnya menjadi lemas. Kemudian pada hari Jumat (21/2) sekitar pukul 11.00 WIB, dia kembali membawa cucunya ke Puskesmas tersebut. Ketika sampai Puskesmas, kondisinya semakin memburuk dengan mengalami kejang-kejang dan tubuhnya biru. Saat itu obat infus sudah tidak bisa lagi dimasukkan.
Karena Puskesman tak mampu menangani, kemudian dirujuk ke RSU Pertamina Prabumulih dengan menggunakan mobil ambulance Puskesmas. Namun dalam perjalanan, nyawa cucunya tidak tertolong lagi.
”Saat itu saya sudah meminta, agar cucu saya dirawat inap. Seandainya dokter Puskesmas tidak mampu menanganinya, ngomong saja terus terang sehingga bisa kami bawa ke rumah sakit. Tindakan dokter yang tidak tanggap inilah yang menjadi penyesalan saya,” tegasnya. (PalembangPos)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi