
Anggota DPR RI Dapil Sumsel II ini menilai rumah sakit kayuagung masih belum layak dan bisa dikatakan yang paling buruk. “Rumah sakit kayuagung ini mungkin yang paling buruk dari semua rumah sakit yang ada, bisa kita lihat infrastruktur yang ada di RSUD Kayuagung ini banyak yang retak-retak jebol, drainasenya tadi kita lihat bolong semua,”katanya. Menurutnya, hasil sidak yang dilakukan ini nanti akan disampaikan kepada pemerintah harus segera ada bantuan harus ada perbaikan. “Kemarin kita sidak di RSUD Muara Enim jika dibandingkan dengan dengan RSUD Kayuagung sangat jauh bahkan kelas satu di Kayuagung setara dengan kelas tiga di Muara Enim, ditambahlagi kebersihan jauh sangat jauh,” kata Irma membandingkan.
TRANSFORASINEWS.COM, KAYUAGUNG. Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia Madani (LSM- INDOMAN) Ir Amrizal Aroni, M.Si menjuluki Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung, Dr Dedi Sumantri diduga Anak Emas Bupati OKI Iskadar, SE.
Menurutnya, dia sering mengamati pemberitaan tentang RSUD Kayuagung dengan masalahnya dan juga khususnya Direktur RSUD Dr Dedi Sumantri, yang dia nilai alergi kritik dan masukan bahkan alergi terhadap wartawan, namun dia menilai justru Dr Dedi merupakan sosok yang cocok menurut Iskandar.
“Saya heran dengan Bupati OKI, dan saya bertanya Tanya? Jasa apa yang telah diperbuat Dr Dedi terhadap Iskandar SE?,” tegas Amrizal Aroni.
Masih menurutnya, Ironis jika Bupati OKI mempertahankan Kriteria orang seperti Dr Dedi, karena RSUD merupakan salah satu ujung tombak untuk pelayanan masyarakat, tapi jika direkturnya tidak becus dalam bekerja kenapa dipertahankan.
“Kerap saya baca keluhan tentang rumah sakit kayuagung, baik pelayanan, serta kesalahan dalam menjalankan tugas,” terang Amrizal Aroni saat dimintai komentar tentang kaburnya Direktur RSUD saat hendak diwawancarai wartawan.
Sebelumnya, sejumlah wartawan usai menghadiri acara pembukaan musyawarah daerah Partai Amanat Nasional (PAN) di gedung kesenian Kabupaten OKI, Senin (8/8/2016).
Dedi Sumantri ketika dibincangi media mengenai buruknya infrastruktur di rumah sakit kayuagung langsung meminta para awak media untuk datang ke kantornya dan saat sejumlah media mencecar beberapa pertanyaan dirinya berpura-pura mengangkat telpon.
“Bentar ya saya terima telpon dulu,”ujarnya dan langsung berlari menuju ke mobilnya tanpa menghiraukan panggilan para awak media.
Para awak media yang ingin mengklarifikasi terkait pernyataan Irma Suryani, SE Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) saat meninjau kondisi rumah sakit kayuagung pada Minggu pagi (7/8/2016).
Sebelumnya, Anggota DPR RI Dapil Sumsel II ini menilai rumah sakit kayuagung masih belum layak dan bisa dikatakan yang paling buruk.
“Rumah sakit kayuagung ini mungkin yang paling buruk dari semua rumah sakit yang ada, bisa kita lihat infrastruktur yang ada di RSUD Kayuagung ini banyak yang retak-retak jebol, drainasenya tadi kita lihat bolong semua,”katanya.
Menurutnya, hasil sidak yang dilakukan ini nanti akan disampaikan kepada pemerintah harus segera ada bantuan harus ada perbaikan. “Kemarin kita sidak di RSUD Muara Enim jika dibandingkan dengan dengan RSUD Kayuagung sangat jauh bahkan kelas satu di Kayuagung setara dengan kelas tiga di Muara Enim, ditambahlagi kebersihan jauh sangat jauh,” kata Irma membandingkan.
Rico salah seorang wartawan yang sempat diwawancarai mengatakan, Dr Dedi merupakan direktur yang anti terhadap wartawan, berbeda dengan direktur RSUD lainnya.
“Dia tergolong direktur yang alergi, terhadap wartawan,” ungkap Rico seraya menambahakan jika tawaran untuk menemui ke kantor merupakan basa basi untuk “kabur” dari pertanyaan wartawan.
Irma Suryani Prihatin Dengan Kondisi RSUD Kayuagung
Setelah melihat secara langsung kondisi Rumah sakit Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Komisi IX yang membidangi Tenaga Kerja & Transmigrasi, Kependudukan, dan Kesehatan, Irma Suryani, SE merasa prihatin.
“RSUD Kayuagung ini masih jauh dari kata layak. Masih banyak infrastruktur yang rusak ditambah lagi alat kesehatannya masih belum memadai,” Ujar Irma saat melakukan blusukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung, Minggu pagi (7/8/2016).
Anggota DPR RI Dapil Sumsel II ini sangat menyayangkan kondisi yang ada di rumah sakit kayuagung karena infrastrukturnya masih belum layak dan bisa dikatakan yang paling buruk.
“Rumah sakit kayuagung ini mungkin yang paling buruk dari semua rumah sakit yang ada, bisa kita lihat infrastruktur yang ada di RSUD Kayuagung ini banyak yang retak-retak jebol, drainasenya tadi kita lihat bolong semua,”katanya.
Menurutnya, hasil sidak yang dilakukan ini nanti akan disampaikan kepada pemerintah harus segera ada bantuan harus ada perbaikan. “Kemarin kita sidak di RSUD Muara Enim jika dibandingkan dengan dengan RSUD Kayuagung sangat jauh bahkan kelas satu di Kayuagung setara dengan kelas tiga di Muara Enim, ditambahlagi kebersihan jauh sangat jauh,”kata Irma membandingkan.
Katanya, pihaknya juga sempat menanyakan terkait SDM yang ada di RSUD. Namun, pihak rumah sakit menjelaskan untuk SDM sudah tercukupi mulai dari Dr spesialisnya Alhamdulillah sudah lengkap. “Hanya infrastruktur dan alkesnya yang memang belum memadai,”ungkapnya.
Menurutnya, kedatangannya ke RSUD Kayuagung bukan untuk memberikan penilaian akan tetapi untuk membantu. “Sebagagi anggota Dewan yang membidangi kesehatan saya ingin membantu RSUD Kayuagung apa yang bisa kami bantu, karena kita ingin pelayanan kepada masyarakat itu harus diutamakan, yang jelas ini saya sudah fhoto-fhoto dan akan disampaikan pada saat sidang nanti,”jelasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Kayuagung, Dr Dedi Sumantri melalui Kabag TU RSUD Kayuagung, Fuad mengakui, bahwa perbaikan di RSUD Kayuagung selama ini masih belum maksimal karena dari tahun 2003 belum hingga saat ini belum ada rehap kalaupun ada hanya perbaikan yang kecil-kecil. “Untuk kedepan kita akan berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan kita sudah menganggarkan untuk penambahan ruangan,”jelasnya.
Terkait masalah Alkes yang kurang memadai dirinya menjelaskan, bahwa untuk alat kesehatan itu tidak bisa di caver melalui dana APBD yang bisa itu melalui dana DAK sementara dana DAK ini sudah ada juknis belum lagi sudah dikurangi 10 persen. “Jadi itulah kendala kita memang dananya tidak mencukupi, memang ada barang-barang yang sudah kita usulkan tapi tidak bisa dibeli karena diluar dari juknis penggunaan DAK, tapi dengan adanya kinjungan ini kita berharap dewan yang terhormat bisa mengawal proposal yang kita ajukan kepusat, dan sangat berharap ada respon dari pemerintah pusat,”jelasnya.
Sumber: Jurnal Sumatra (ATA)
Editor: Amrizal Aroni
Posted by: Admin Transformasinews.com
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi