TRANSFORMASINEWS, BANYUASIN. – Kecelakaan maut kembali terjadi diperairan Banyuasin, tepatnya di Sungai Kenten, Pulau Rimau, Banyuasin. Speedboat 200 Merk Fahri Aziz berpenumpang 27 orang itu, terbalik menewaskan 7 penumpangnya. Sebelum terbalik, speedboat dengan serang Holidi (39), sempat menabrak tumpukan kayu diperairan depan PT CLS Banyuasin, sekitar pukul 09.00 WIB, kemarin. Tragisnya, 7 dari 27 penumpang termasuk ABK speedboat tujuan Karang Agung-Palembang, tewas tenggelam. Adapun 7 korban meninggal tersebut, Yusika (9), Warga Desa Tepayang, Kabupaten Banyuasin, Agus Suwandi (25)
warga Panca Usaha, Plaju Palembang.
Disusul, Zailani (25) warga Desa Tepayang, Kabupaten Banyuasin, Siwa (48) Desa Sungai Meranti, Halimah Tusadiah (50) warga Bandar Agung Lalan Muba. Sadiah (56), warga Bandar Agung Lalan Muba Dedi Junaidi (42) warga Desa Bumi Agung, Kecamatan Sungai Lalan, dan Andika (27) warga Pedamaran OKI.
Sebelumnya, speedboat sarat muatan tersebut, melaju dari Karang Agung menuju Dermaga 16 Ilir Palembang.
Diduga dengan kecepatan cukup tinggi, speedboat menabrak tumpukan sampah dari kayu, sehingga terbalik dan para penumpang terlontar keluar. Bahkan sebagian diduga terjepit di dalam speed.
Untuk diketahui, sebagian korban bisa berenang berhasil selama ketepian. Sebaliknya, korban lain akibat terjepit tidak bisa menyelamatkan diri saat speed terbalik.
Sebagian besar penumpang yang berhasil selamat menyebutkan, sempat mendengar suara benturan dari bawah speedboat.
“Beberapa saat usai benturan, speedboat jatuh. Suaranya keras, cak nabrak benda kayu,” ujar Dedi penumpang selamat.
Hal serupa juga ungkap Holidi, dia sebelumnya melihat tumpukan seperti sampah kayu, bahkan ia sempat menghindar tapi tak sempat menghindar lagi akhirnya menabrak.
Akibat benturan keras menyebabkan speedboat terbalik. “Kalo aku idak ngelak, pasti kejadiannya lebih parah. Speedboat terbalik dan penumpang tenggelam,” ujar Holidi.
Sementara, Yudis (50) warga Pepayang Kabupaten Muba, salah seorang korban selamat hanya mengalami luka lecet bagian pelipis terlihat masih shok.
Menurutnya, saat itu dirinya hendak ke Palembang bersama cucunya, Yusika untuk menjenguk keluarga di Pakjo.
”Kami duduk dibelakang, cucu aku duduk di pangkuan. Sudah jalan jauh, tiba-tiba speedboat terbalik dan saya terlepas dari cucu. Keadaan saat itu sudah tidak tahu lagi,” jelas Yudis seraya mengatakan, dirinya diberitahu penumpang lain pingsan dan sekarang baru sadar.
Lebih sedih dan mirisnya lagi, setelah menanyakan kemana cucunya yang sebelumnya ada dipelukannya beberapa saat sebelum kejadian. Malah dia mendapat kabar, cucunya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara.
“Cucu saya kabarnya telah meninggal,” turut Yudis dengan air mata mengalir.
Sementara, Kapolres Banyuasin, AKBP Julihan Muntaha SIK melalui Kasat Polairud Polres Banyuasin, AKP Suprawira menjelaskan, kecepatan speedboat cukup tinggi yaitu 4 knot.
Selain membawa melaju kencang, dalam perjalanan Holidi tak memperhatikan kondisi atau keadaan Sungai Kenten. Dilokasi memang banyak sampah ditengah arus Sungai Musi yang deras.
Saat dalam perjalanan, Holidi sempat melihat sampah berupa potongan kayu di arah depan. Tak ayal, Holidi membanting setir ke arah kanan karena terlalu kencang hingga terbalik.
Saat terbalik, disertai benturan keras, sebagian penumpang berebutan menyelamatkan diri terutama kursi depan dan tengah.
“Sedangkan dibagian belakang, diduga mengalami benturan cukup keras dan tengelam hingga meninggal dunia dilokasi kejadian,” ujarnya.
Polairud Polres Banyuasin, begitu mengetahui kejadian langsung menuju lokasi dan melakukan pertolongan terhadap korban.
Untuk serang kapal sudah diamankan di Polairud Polres Banyuasin, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyuasin, Supriadi ketika dihubungi mengatakan, pihaknya sudah mengetahui kejadian kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya korban jiwa tersebut.
“Kita sudah tahu kejadian tersebut. Kita turut berduka cita atas kejadian yang menyebabkan korban jiwa itu,” urainya.
Mengenai tak adanya alat pengamanan untuk penumpang, Supriadi menerangkan, sebenarnya Dishubkominfo Banyuasin sudah beberapa kali melakukan sosialisasi dan imbauan kepada serang atau pengemudi kapal laut, untuk menyediakan alat pengaman seperti jaket atau pelampung. “Namun masih tak dihiraukan oleh para serang kapal itu,” jelasnya.
**Calon Jemaah Umroh Tewas
Kehendak Tuhan lain apa yang sudah direncanakan manusia. Calon jamaah umroh yang dijadwalkan Rabu (17/2), Dedi Junaidi (42) warga Desa Bumi Agung, Kecamatan Sungai Lalan, meninggal akibat tenggelam dan luka bakar dibahunya, setelah speedboat Fahri Aziz mesin 200 PK, tujuan Karang Agung-Palembang terbalik
Korban akrab dipanggil Dedi ini, salah satu penumpang Fahri Aziz, untuk bermalam di rumahnya di Perum OPI Jakabaring sebagai persiapan berangkat ke tanah suci bersama istrinnya Santi (40). Namun beruntung, istrinya berhasil selamat.
Hal tersebut diungkap saudara Dedi, Ahmad (40), saat ditemui di rumah sakit. Pihaknya mendapat telepon dari istri korban Santi mengatakan speedboat yang ditumpangi mereka terbalik dan korban meninggal. “Jadi kami sekeluarga datang kesini,” jelas Ahmad.
Ditambahkannya, almarhum langsung dibawah ke rumah duka di Karang Agung, untuk dikebumikan. “Rencanannya malam ini (kemarin malam, red) dikebumikan,” ungkap Ahmad.
Sementara, Dokter Forensik RS Bhayangkara Polda Sumsel, Kompol Masyuri mengatakan, korban meninggal akibat tenggelam. Ada sebagian korban mengalami luka bakar ringan diduga karena minyak akibat peristiwa itu.
“Meninggal karena tenggelam. Dari hasil visum luar, tidak ada luka yang berarti di tubuh korban atau karena benturan,” jelas Mansyuri.
Anggota DVI Indonesia ini menjelaskan, pihaknnya hanya melakukan visum luar, dan tak ada kesulitan dalam mengidetifikasi identitas korban karena masih baru, berbeda jika korban meninggalnya sudah lama.
“Tidak sulit karena baru, seluruh jenazah korban sudah dibawa pulang menggunakan ambulan dari Bhayangkara dan Dinas Kesehatan,” terang Manyuri.
Terkait kecelakaan, para korban meninggal mendapat santunan Rp 25 juta/ orang diberikan kepada keluarga korban. Hal tersebut dikatakan, Kepala Bagian Operasional Jasa Raharja Sumsel, Zulham Irawan ditemui disela pendataan korban bersama stafnya di kamar mayat RS Bhayangkara Polda Sumsel, kemarin. “Kami turut berduka atas musibah kejadian itu,” ujar Zulhan.
Dijelaskannya, kejadian itu sudah terdaftar di Jasa Raharja terjamin di Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 1964, dari pihak speedboat telah melakukan pembayaran. “Untuk luka-luka juga ditanggung perawatannya sampai sembuh,” jelas Zulham.
Disinggung mekanisme pemeberian santuan? Pencairan tidak sulit. ‘’Kita langsung data lapangan dan ditransfer ke rekening ahli waris masing-masing,” tegasnya.
Dir Pol Air Polda Sumsel, Kombes Pol Omad, melalui Kasubdti GA Kum Dit Polari Polda Sumsel, AKBP Denny Hariyadi mengatakan, setelah mendapat infomasi kejadian itu, pihaknya langsung mendatangi lokasi dan juga Tim SAR 1 Regu berjumlah 6 orang dipimpin AKP Simanjuntak untuk mengevakuasi seluruh penumpang.
“Kita evakuasi korban selamat dan meninggal. Sementara korban meninggal di bawa ke rumah sakit untuk visum luar dan pendataan termasuk pengecekan identitas korban meninggal,” kata Denny.
Sementara, sambung Denny untuk serang speedboat sempat bawa ke Sat Polair dan diminta keterangan, sudah ditetapkan sebagai tersangka. Hanya saja saat ini, Holidi sudah diserahkan ke Polres Banyuasin untuk melakukan pemeriksaaan lebih lanjut,” terang Denny.
Sumber: (Palpos.com)
