JAKARTA – Sengman Tjahja, pengusaha asal Palembang yang disebut-sebut utusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ternyata seorang bandar lotre.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP Ahmad Yani mengungkap, Sengman adalah pedagang lontong yang bisa membuka judi Kim (lotre) di Palembang di era 90-an.
“Sengman satu-satunya orang yang bisa buka judi Kim di Palembang waktu itu,” ungkap Yani di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (06/09).
Menurut Yani, Sengman yang tadinya hanya berdagang lontong, berhasil mengembangkan bisnis-bisnisnya yang lain di Palembang, termasuk judi Kim, bermodal kedekatan dengan pejabat daerah, polisi, dan militer.
Bisnis Sengman kian melebar. Selain mengambil alih kepemilikan Hotel Aston yang berdiri di atas tanah Pemda, Sengman juga mendirikan diskotek besar di Palembang.
Budayawan Betawi Ridwan Saidi menyebut SBY telah bergaul dengan ketidakberesan, termasuk dengan Sengman. “SBY sudah tercemplung dengan pegaulan tidak beres. Tercemplung karena bergaul dengan tukang lotre, Sengman,” kata Ridwan saat ditemui di sela-sala launching CD Benyamin Sueb di Fadli Zon Library, Kamis (05/09).
Ridwan meminta KPK segera memeriksa Sengman, meski dia dekat dengan lingkar istana. “KPK harus periksa itu Sengman. Saya dengar, katanya Sengman sudah pergi ke Beijing, Cina. Jangan KPK hanya bisa memeriksa orang-orang parpol saja, itu maling jemuran semua. Yang gede-gede juga harus diperiksa. Kemarin banyak yang bilang tidak tahu Sengman, sekarang baru pada cerita,” pungkas Ridwan.
Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh informasi, jalinan kedekatan Sengman dan SBY mulai nyata sejak SBY menjabat Pangdam II/Sriwijaya (23 Agustus 1996-7 Agustus 1997). Bukan rahasia lagi bahwa pada masa itu, orde baru, pengusaha dan militer sangat akrab.
Saat SBY mendirikan Partai Demokrat dan berkampanye menjadi presiden pada 2004, Sengman termasuk salah satu tim sukses dan penyokong dana untuk wilayah Sumatra Selatan.
Pada masa SBY menjadi Pangdam, Sengman memiliki usaha perjudian dan sedang dalam kejayaan. Selain perjudian, Sengman juga bergerak dalam usaha properti dan kontraktor. Sengman yang membangun Palembang Square.
Lahan mal tersebut diperoleh Sengman dari Gubernur Sumatra Selatan periode 1998 hingga 2003 Rosihan Arsyad. Peresmian Palembang Square milik Sengman yang diabadikan dalam prasasti dilakukan SBY, yang ketika itu sudah menjadi Presiden RI. Bayangkan, sebuah mal diresmikan presiden.
Namun, pembangunan itu menimbulkan masalah karena diduga terjadi penyelewengan pemberian izin hak pakai atas tanah milik Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan. Kejaksaan Tinggi Negeri Sumatra Selatan pun menahan dan menetapkan Kepala Badan Pertanahan Palembang (BPN) Nasiruddin sebagai tersangka pada 2005. Saat itu Gubernur Sumsel dijabat Syahrial Oesman (2003-2008).
Atas kasus itu, Sengman memindahkan bisnis Palembang Square ke Grup Lippo. Selain itu, Sengman juga memiliki bisnis properti yaitu Kompleks Ilir Barat Permai yang berisi pertokoan, supermarket, spa, dan lainnya.
Lantaran kecewa dengan kasus itu dan tidak didukung Syahrial, Sengman kemudian banyak berdiam diri di Jakarta. Setelah itu, muncul informasi bahwa sepak terjang Sengman merambah ke Kementerian Pertanian.
Pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan terdakwa Ahmad Fathanah, nama Sengman muncul sebagai utusan Presiden SBY, yang mengambil Rp40 miliar, fee pengurusan kuota impor daging sapi Kementerian Pertanian, dari PT Indoguna Utama, perusahaan yang memperoleh jatah penambahan kuota. Sejak fakta itu terungkap dan ramai diberitakan, Sengman menghilang. Ada yang mengatakan dia sedang berobat di Singapura. Ada juga yang menyebut dia sudah hijrah ke negeri tirai bambu, Cina. (baratamedia)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
