
Dalam kemarahannya, Presiden Duterte mengatakan “pergi saja ke neraka” dan menurutnya, Filipina masih bisa mendapatkan senjata dari Rusia atau Tiongkok.
Presiden Duterte juga mengatakan dirinya telah kehilangan respek kepada Amerika Serikat yang selalu mengkomentari perang narkoba di Filipina. Menurut Presiden Duterte, semua pengkritiknya hanya orang bodoh yang tidak bisa menghentikan keinginannya untuk menumpas narkoba.
“Walaupun terdengar seperti omong kosong, adalah tugas suci saya untuk menjaga integritas republik dan kesehatan masyarakat,” demikian pidato Presiden Duterte.
“Jika Anda tidak ingin menjual persenjataan, saya akan membeli dari Rusia. Saya sudah mengirim jenderal ke Rusia dan Rusia mengatakan, ‘tidak perlu cemas, kami mempunyai semua yang anda butuhkan, kami akan memberikannya kepada anda’. Demikian juga dengan Tiongkok, mereka mengatakan, ‘datang dan tanda tangan, semua akan dikirim’.”
Komentar Presiden Duterte adalah komentar pedas terakhir yang sering diarahkan ke Amerika Serikat, negara yang pernah mengkoloni Filipina hingga tahun 1946.
Menurut Presiden Duterte, seharusnya Amerika Serikat mendukung Filipina dalam menumpas permasalahan narkoba, bukan mengkritik tingginya korban perang narkoba.
“Alih-alih membantu kami, komentar pertama justru menyerang Departemen Dalam Negeri. Jadi silakan pergi ke neraka, Mr Obama,” kata Duterte.
Menurut beberapa sumber di Amerika Serikat, Washington berusaha tidak terlalu mempedulikan komentar-komentar pedas Duterte. Salah satu alasan adalah bila hubungan dengan Filipina memburuk, pengaruh Tiongkok di wilayah Asia Tenggara semakin menguat.
Sedangkan beberapa orang dekat Duterte telah meminta presiden 71 tahun lebih bersikap seperti negawaran dan mengurangi komentar kontrovesial.
“Saat anda sudah tidak bisa menahan diri, satu-satunya cara adalah dengan menghina,” kata Duterte. “Ini cara saya membela diri.”
Presiden Filipina akan Tolak ‘Kuliah” dari Obama

Presiden Rodrigo Duterte mengatakan akan banyak yang dibunuh sebelum perang antinarkoba yang digelar sejak dua bulan lalu berakhir. Sejak Duterte dilantik sebagai Presiden Filipina akhir Juni lalu, sekitar 2.400 orang telah tewas akibat perang antinarkoba.
“Akan banyak yang dibunuh hingga pengedar terakhir hilang dari jalanan. Hingga pembuat narkoba terakhir tewas, kami akan masih terus (memerangi narkoba),” demikian dikatakan Presiden Duterte sebelum berangkat ke Laos Senin.
Presiden Duterte akan menghadiri KTT ke-28 dan 29 ASEAN yang akan digelar di Vientiane, Laos. Presiden keenam Filipina direncanakan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama namun Presiden Duterte menegaskan dirinya tidak akan mau menerima kuliah tentang hak asasi manusia dari presiden Amerika Serikat.
“Saya Presiden negara yang berdaulat dan sudah sejak lama, kami sudah bukan koloni,” dikatakan Presiden Duterte saat ditanya tentang rencana pertemuannya dengan Presiden Obama.
“Hak apa yang membuat dia berhak mempertanyakan kebijakan saya? Bahkan Amerika Serikat mempunyai banyak pertanyaan yang harus dijawab,” tambahnya. “Semua pihak mempunyai catatan buruk tentang pembunuhan di luar pengadilan.”
Beberapa waktu lalu Presiden Duterte menyerang PBB setelah dikritik akibat tingginya kematian akibat perang antinarkoba. Presiden Duterte menolak bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon saat menghadiri KTT ASEAN di Laos.
Kepolisian Filipina mengatakan sekitar 900 orang tewas dalam operasi polisi sedangkan sisanya tewas akibat massa yang main hakim sendiri.
Presiden Filipina Sebut Obama “Anak Pelacur”

Duterte ditanyakan seorang wartawan terkait bagaimana reaksinya jika Presiden Obama menanyakan upaya perang perdagangan obat gelap yang dilakukan pemerintah Filipina.
Ratusan orang terbunuh karena operasi antinarkotika sejak Duterte memenangkan pemilihan umum, meskipun dunia internasional sudah menyatakan kecaman.
“Kampanye melawan narkotika akan terus berlanjut,” tegasnya.
Dia juga menambahkan tidak memperdulikan pendapat dari orang yang mengamati tindakannya dengan menambahkan tidak menerima perintah dari Amerika Serikat, yang pernah menjajah Filipina.
Duterte dan Obama awalnya dijadwalkan bertemu pada Selasa 6 September di Laos, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN.
“Anda harus menghormati. Jangan hanya melempar pertanyaaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutukmu di forum tersebut,” katanya merujuk Presiden Obama kepada para wartawan dalam konferensi pers menjelang keberangkatannya ke Laos.

Pada masa kampanye, Duterte memang berjanji untuk mengambil tindakan keras atas peredaran narkotika dan setelah terpilih sebagai presiden, Bulan Mei, berlangsung sejumlah pembunuhan -oleh aparat keamanan maupun kelompok sipil bersenjata- terkait dengan perdagangan narkotika di Filipina.
Kepolisian Filipina pada pekan ketiga Agustus mengatakan sekitar 1.900 orang terbunuh dalam operasi penggerebekan narkotika di negara itu.
PBB berulangkali mengecam kebijakan tersebut dan menyatakannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia.
Gereja Katolik Roma, yang merupakan agama mayoritas di Filipina, juga mengecam Duterte.
Tetapi dia mengatakan tidak mengacuhkan pandangan orang-orang yang mengamati aksinya, dan menambahkan menolak diperintah AS, negara yang sebelumnya menjajah Filipina.
“Banyak yang akan mati, banyak yang akan terbunuh sampai penjual obat bius yang terakhir ke luar dari jalanan.”
“Sampai pembuat narkotika terakhir, kami akan meneruskannya dan saya tidka perduli dengan orang yang mengamati perilaku saya,” tambahnya.
Disebut “Anak Pelacur”, Obama Batalkan Pertemuan dengan Duterte

Gedung Putih akhirya mengkonfirmasi batalnya pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, dengan Presiden Filipina ,Rodrigo Duterte, di Laos pekan ini. Pembatalan dilakukan setelah Duterte menyebut Obama sebagai “anak pelacur.”
“Presiden Obama tidak akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Duterte dari Filipina sore ini,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Ned Price, Selasa (6/9/2016), dikutip dari AFP. “Sebaliknya, ia akan bertemu dengan Presiden Park (Geun-hye) dari Republik Korea sore ini,” ujar Price menambahkan.
Pertemuan Duterte dan Obama rencananya akan digelar di sela pertemuan dengan para pemimpin negara ASEAN. Dalam pertemuan, akan dibahas soal dugaan pelanggaran HAM dalam perang pemberantasan narkoba yang diterapkan Duterte di Filipina, sejak ia menduduki kursi kepresidenan.
Namun, sebelum pertemuan tersebut dilaksanakan, Duterte dalam konferensi pers di Manila dengan tegas menolak untuk didikte oleh Obama, khususnya soal dugaan pelanggaran HAM tersebut.
“Anda (Obama) harus hormat. Jangan hanya meluncurkan pertanyaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutuk Anda di forum itu,” kata Duterte di konferensi pers di Manila.
Sumber:Poskotanews/ Daus/Embun/BBC
Editor: Amrizal Aroni
Posted by: Admin Transformasinews.com
