TRANSFORMASINEWS.COM, MARTAPURA – Sebagian besar hasil panen padi milik petani di Belitang, Kabupaten OKU Timur musim ini disebut-sebut akan menjadi milik tengkulak yang mayoritas berasal dari Lampung. Ini karena banyak petani yang bekerja sama dalam permodalan saat musim tanam. Hasil panen tak sempat lagi dibawa ke rumah petani, karena tengkulak langsung datang membeli ke sawah.
Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten OKU Timur beberapa bulan terakhir, memang tak menyurutkan semangat para petani untuk menanam padi di sawah. Mereka optimis proses tanam rendeng (masa tanam dengan curah hujan tinggi) berhasil saat panen raya akhir Maret ini.
Di OKU Timur setidaknya dikenal dua istilah masa tanam. Selain masa tanam rendeng, masyarakat petani juga menyebut tanam gaduh untuk musim tanam pada waktu curah hujan mulai berkurang, yakni sekitar Mei-Juli dan Oktober-Desember.
Panen tentu saja menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Sebagian besar aktivitas petani dihabiskan di sawah. Area tanam padi itu pun berubah bak “pasar”, karena ramai sekali warga di sana untuk memanen padi.
Ada tren yang sudah lama mewarnai aktivitas jual beli hasil panen petani. Para tengkulak datang dari berbagai daerah, termasuk dari luar OKU Timur untuk membeli padi langsung ke sawah. Dengan begitu, padi hasil panen tak sempat lagi dibawa ke rumah petani. Mereka hanya menyisakan seperlunya, sekadar untuk konsumsi hingga panen berikutnya.
Menurut Rohman, petani asal kecamatan Belitang Madang Raya, tradisi penjualan gabah kepada tengkulak luar tersebut sudah terjadi sejak lama. Petani sudah terbiasa menjual hasil pertanian mereka saat panen langsung di sawah. Selama proses tanam dan pemeliharaan, para petani umumnya bekerjasama dengan tengkulak.
Para tengkulak menyuplai kebutuhan petani seperti uang modal, pupuk, obat pembasmi hama dan berbagai kebutuhan lainnya untuk pertanian. Seperti perjanjian tak tertulis, secara sendirinya petani akan menjual gabah hasil panen mereka kepada tengkulak tersebut berdasarkan harga pasaran.
Jika hasil sawah petani melebihi biaya perawatan yang telah dipinjamkan tengkulak tersebut kata Rohman, maka petani akan mendapat keuntungan. Namun jika hasil sawah petani tidak mencukupi, maka petani akan dihitung berutang.
“Tapi itu jarang terjadi. Biasanya setiap panen, petani akan mendapatkan keuntungan. Namun jumlah keuntungan tidak menentu, tergantung hasil panen dan kesuburan tanaman,” katanya.
Biasanya lanjut Rohman, dalam satu hektare (ha) lahan sawah petani hanya menyisihkan gabah untuk kebutuhan hingga menjelang panen berikutnya sekitar lima kwintal atau lebih. Selebihnya langsung dijual kepada para tengkulak tersebut yang sebelumnya sudah memesan gabah milik mereka.
“Pengusaha itu ada yang langsung datang ke sini dan menawarkan bantuan kepada petani. Namun ada juga yang melalui saudara-saudara mereka yang menyampaikan informasi untuk memberikan bantuan,” ungkapnya.
Sebagian besar kata dia, tengkulak yang datang membeli gabah petani berasal dari wilayah Lampung seperti Kotabumi dan Metro. Mereka membeli gabah petani dalam jumlah besar untuk dibawa ke wilayah Lampung dan dilakukan pengolahan kembali untuk dimasukkan dalam kemasan dan dijual ke pasar.
Menurut Rohman, sebagian besar petani di wilayah Belitang dengan penghasilan beras yang cukup bagus semuanya sudah dijual ke tengkulak dari luar. Mereka langsung memberikan jaminan berupa bantuan obat-obatan agar petani menjual hasil panen dengan
mereka.
“Sama-sama mendapat keuntungan mas. Petani saat penggarapan tidak memikirkan modal lagi karena ada yang memberikan bantuan. Setelah dijual petani juga tidak keberatan karena harga jual mengikuti harga pasar bahkan terkadang petani menaikkan harga. Jadi tidak ada yang dirugikan dalam hal ini,” jelasnya.
Dikatakan Rohman, hasil panen akhir tahun 2013 lalu, harga gabah petani yang dijual kepada tengkulak per kilogramnya sebesar Rp 3.500 hingga Rp 3.700. Para tengkulak bahkan berani membeli gabah di atas rata-rata HP (SRIPOKU.COM)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
