Kuala Lumpur – Populasi tikus di Kuala Lumpur, Malaysia makin menakutkan. Diperkirakan jumlah tikus di ibukota negara jiran itu mencapai 8 juta ekor, jauh melewati jumlah penduduknya yang hanya 2 juta orang. Berarti, rata-rata 1 penduduk Kuala Lumpur punya 4 ekor tikus.
Makin banyaknya jumlah binatang mengerat itu disebabkan oleh sikap warga, terutama pengusaha rumah makan yang gemar membuang sisa makanan ke dalam got dan sungai.
Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Kuala Lumpur Datuk Seri Ahmad Phesal Talib. Ia berbicara berdasarkan data saat kampanye menangkap tikus dan operasi kebersihan yang dijalankan Kantor Kesehatan dan Lingkungan Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL).
“Kalau di Australia dan New Zealand, jumlah sapi lebih banyak dari penduduknya, kita terpaksa berhadapan dengan jumlah tikus yang lebih banyak,” katanya seperti dikutip Berita Harian di Kuala Lumpur, Jumat (20/9). “Peningkatan jumlah itu akibat sikap orang kita yang hanya mementingkan pendapatan semata tanpa memikirkan akibat dari tindakan membuang sisa makanan ke dalam got,” imbuhnya.
DBKL mengeluarkan dana sekitar 50 ribu ringgit (Rp 1,6 miliar) untuk mengupah orang menangkap tikus dan jutaan ringgit lagi dikeluarkan untuk memperbaiki saluran air di sekitar ibukota. Kawasan seperti pasar, pusat jajan, dan lorong belakang restoran menjadi lokasi “ternakan” tikus karena banyak sisa makanan dibuang dalam got maupun tong sampah.
Aktivitas mencuci piring dan peralatan memasak juga dilakukan di tepi saluran air sehingga mereka dengan mudah membuang sisa makanan ke dalam got. Seorang pedagang, Abdul Rasull Abd Razak mengatakan lorong belakang di Lebuh Ampang sangat kotor akibat sampah dan sisa makanan dibuang sesuka hati dalam saluran air.
“Keadaan itu bukan saja menyebabkan pembiakan tikus namun juga menjadi penyebab banjir hingga tiga meter setiap kali hujan lebat. DBKL memerlukan kerja sama pedagang dan pengusaha restoran untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sisa makanan ke dalam got,” katanya. (sayangi)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
