
TRANSFORMASINEWS, MUARAENIM. Proyek Kementerian Perhubungan yang belum terselesaikan hingga saat ini “Pembuatan jalur KA double track Tanjung Enim- Tarahan” khusus angkutan batu bara. Proyek yang menelan dana hampir satu trilyun rupiah ini menuai masalah “lahan masyarakat yang belum tuntas diganti rugi”.
Kilas balik pembuatan jalur khusus batu bara ini adalah keuntungan PT KAI ratusan milyar rupiah dari ongkos angkut batu bara PT Bukit Asam. .Ongkos angkutan batu bara Tj Enim – Tarahan dan Tanjung Enim Kertapati menjadi sumber dana pembiayaan angkutan masal Kereta Api Pulau jawa.
pada tahun 2007 PT KAI mendapat kontrak angkutan batu bara dari PT Bukit Asam Rp. 722.854.000.000,-, tahun 2008 Rp. 1.081.305.000.000,-, tahun 2009 Rp. 1.232.241.000.000,-, kemudian Pada tahun 2010 Rp. 1.422.853.000.000,-, selanjutnya tahun 2011 Rp. 1,715,358.000.000,-, tahun 2012 Rp. 1,903,620.000.000,- dan terakhir pada tahun 2013 sebesar Rp. 2.016,717.000.000,-
Jalur Double track tersebut melewati desa Tanjung Terang di kabupaten Muara Enim. PT KAI mengklaim tanah masyarakat Tanjung Terang selebar 75 meter dari as rel KA adalah milik PT KAI berdasarkan peta Ground Card tahun 1928. Peta yang disinyalir tidak pernah ada dan merupakan alat untuk merampas tanah warga desa Tanjung Terang.
Lahan yang di klaim milik PT KAI diganti rugi sekeinginan manajemen PT KAI. Rumah terpotong separuhnya diganti Rp. 2,5 juta, kebun karet diganti Rp. 4.000,- / batang dan tanam tumbuh diganti seadanya. Luas lahan yang gi klaim masyarakat hanya seluas 5,8 ha dengan nilai ganti rugi yang dituntut masyarakat hanya Rp. 5,9 milyar.
Hampir 20 juta ton angkutan batu bara melintasi desa Tajung Terang setiap tahunnya. Bila jalur double track ini beroperasi pada tahun 2015 maka hampir 60 juta ton batu bara yang di angkut melintasi jalur ini. Setiap 40 menit 60 rangkaian gerbong melewati desa Tanjung Terang. Berisik, ancaman keselamatan dan debu batu bara dampak yang diterima masyarakat Tanjung Terang.
Derita yang akan menambah derita yang sudah ada, listrik hidup 12 jam sehari, air bersih yang jauh dari kata bersih, tanah nan gersang. Sementara itu batu bara yang diangkut melintasi desa mereka ke Tarahan untuk menghidupkan listrik separuh pulau Jawa.
Super Plat dijantung Kota Jakarta tempat selingkuh paling romantis, tempat – tempat hiburan yang bergelimang maksiat, sejuknya rumah –rumah koruptor kelas kakap di aliri listrik dari keringat dan darah warga desa Tanjung Terang.
Dirut PT KAI yang menjadi Menteri Perhubungan meninggalkan noda darah penderitaan masyarakat Tanjung Terang. Kami ni lak kering aek mate mikirka tanah kami direbut pakse PT KAI, ujar warga desa. Ngape Presiden milih orang tu jadi Menteri, ape dak katek uhang lain, ujarnya kembali.
Kami merase lum pernah nikmati kemerdekaan ni, ape masih jaman penjajahan ape lak merdeka, ujar masyarakat kembali. PR besar Kemenhub untuk menyelesaikan maslah ini atau menjadi catatan buruk kinerja Kemenhub mantan Dirut PT KAI. (TIM/REDAKSI)
