
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
TRANSFORMASINEWS.COM, AMBON. PRESIDEN Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menghadiri puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2017 di Ambon, Kamis (9/2).
Presiden Jokowi hadir di lokasi acara puncak peringatan HPN 2017 di Lapangan Polda Maluku sekitar pukul 09.15 WIT. Presiden Jokowi begitu tiba langsung disambut oleh Ketua PWI Margiono.
Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pejabat negara seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan. Juga hadir sejumlah duta besar negara tetangga. Sejumlah tokoh dan pemilik media juga tampak hadir, tampak Chaerul Tanjung, Surya Paloh, dan Harry Tanusubroto.
Sejumlah menteri juga hadir antara lain Menkominfo Rudiantara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Rangkaian HPN 2017 di Kota Ambon diawali dengan beberapa kegiatan di antaranya, pembukaan pameran atau expo Hari Pers Nasional 2017 pada 7 Februari 2017, acara Talkshow IKWI, Seminar inovasi pelayanan publik dan Konferensi kerja nasional pengurus PWI pusat dan PWI daerah serta diskusi publik HPN.
Selain itu ada kegiatan bakti sosial IKWI, kegiatan menanam bibit mangrov, workshop sekolah Jurnalistik Indonesia dan acara konvensi nasional media massa terkait peluang dan tantangan dengan pembicara sejumlah menteri dan pemilik perusahaan media.
Media Arus Utama Mesti Luruskan Medsos Bengkok

Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo — ANTARA FOTO/Reno Esnir
PRESIDEN Joko Widodo meminta media mainstream atau media arus utama berperan dalam melawan berita bohong atau hoax yang banyak muncul di media sosial.
“Media arus utama harus meluruskan medsos yang bengkok,” kata Presiden dalam amanatnya pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2017 di Ambon, Maluku.
Presiden Jokowi menjelaskan dewasa ini siapa pun bisa menjadi produsen berita melalui media sosial. “Namun, banyak yang berisi berita bohong, fitnah, caci maki, bahkan bisa mengancam persatuan bangsa,” ungkap Presiden.
Oleh karena itu, Presiden meminta pengguna media sosial menghentikan hoax. “Media arus utama dengan disiplin, objektivitas, dan integritasnya harus memverifikasi, bukan malah memungut berita-berita di medsos yang belum jelas kebenarannya,” pungkas presiden.
Senada dengan Presiden Jokowi, Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo mengatakan wartawan berkomitmen melawan berita palsu atau bohong alias hoax yang marak bermunculan sejak dua setengah tahun terakhir ini.
“Tugas utama jurnalis adalah menyampaikan kebenaran. Kebenaran ini dicemari oleh berita hoax. Wartawan melawan ini,” katanya di Ambon, Kamis (9/2).
Stanley mengatakan berita hoax ini membahayakan karena tidak hanya menyebarkan kebohongan tetapi juga menebar kebencian, fitnah, dan ketidakpercayaan, termasuk kepada lembaga publik.
Hoax dibuat dalam situs-situs yang seolah-olah situs berita lalu disebarluaskan ke berbagai media sosial. Media sosial, imbuhnya, tidak lagi hanya sebagai media untuk menyampaikan status, pertemanan, atau berbagi untuk silaturahim, dan menyampaikan kenangan tetapi berubah menjadi penyebarluasan berita-berita yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Ada banyak orang menjadi korban dari media dunia maya ini,” katanya pada acara yang juga dihadiri Ketua MPR Zilkifli Hasan, Ketua DPR Setya Novanto, Ketua DPD M. Saleh, para menteri, termasuk Panglima TNI, Kapolri, para duta besar, Gubernur Maluku Said Assagaff dan jajarannya, serta ribuan insan pers dari seluruh Indonesia itu.
Stanley menegaskan masyarakat pers tak akan membiarkan “hoax” terjadi. Oleh karena itu, media arus utama harus berperan aktif menyampaikan kebenaran dengan menyampaikan pemberitaan oleh wartawan yang mempunyai kompetensi dan memegang teguh etik profesi
Komunitas Pers Bentuk Jaringan Wartawan Antihoax
KETUA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono memastikan bahwa komunitas pers telah membentuk jaringan wartawan antihoax.
“Jaringan ini akan membentuk sel-sel sampai daerah,” kata Margiono ketika memberi sambutan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional di Ambon, Maluku, yang dihadiri Presiden Joko Widodo.
Margiono menjelaskan tujuan jaringan ialah melawan berita-berita hoax atau berita palsu. “Jaringan wartawan antihoax disingkat Jawah. Jawah artinya hujan. Kita ingin menghujani masyarakat dengan berita-berita benar,” terangnya.
Margiono menambahkan hoax tidak akan sanggup menghancurkan bangsa dan negara. “Bila kita sama-sama berusaha melawan, hoax tidak akan mampu merusak negara,” pungkasnya.
Para wartawan yang berkumpul di acara HPN di Ambon menyadari bahwa berita-berita hoax sudah sangat marak di tengah-tengah masyarakat saat ini.
Sehari sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana HPN ke-69 2017, M Ihsan dalam acara Konvensi Nasional Media Massa dengan tema “Integritas Media Nasional Dalam Lanskap Komunikasi Global: Peluang dan Tantangan” yang digelar di Baileo Siwalima, Ambon Rabu (8/2) juga menyampaikan adanya keinginan pers membentuk jaringan wartawan antihoax.
Ketua Dewan Pers, Yoseph Adi Prasetyo menambahkan dengan kemajuan teknologi, terjadi perubahan atau semakin cepat dalam penyajian informasi di Indonesia. “Tetapi kecepatan informasi memunculkan persoalan masalah etik. Karena saat ini dunia sedang menghadapi permasalahan fake news atau berita hoax,” kata Yoseph
Jurnalis Wajib Jaga Kebinekaan
MI/HAMDI JEMPOT
BANYAKNYA konflik yang muncul pascareformasi dapat mengancam keberagaman dan kebinekaan di Indonesia. Media massa memiliki peran sangat penting untuk memulihkan keberagaman.
“Media massa berperan memulihkan kembali keberagaman Indonesia melalui jurnalisme keberagaman. Media massa berperan menyebarkan kebinekaan Indonesia,’’ kata Direktur Pemberitaan Harian Umum Media Indonesia Usman Kansong saat buku karangannya, Jurnalisme Keberagaman, dibedah di arena pameran dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) dan Expo Maluku 2017 di Lapangan Merdeka, Ambon, kemarin.
Pada acara yang dipandu presenter Metro TV Johana Margareta dan Maria Lizia itu, Usman mengatakan ide penulisan buku tersebut lahir dari keprihatinan akan terancamnya kebinekaan. “Banyak konflik, baik suku, agama, antarkelompok terjadi. Media massa punya peran besar memulihkan keberagaman,” kata Usman di hadapan ratusan peserta bedah buku.
Usman menulis Jurnalisme Keberagaman setelah meliput konflik di Ambon pada 2000 serta kegelisahannya sebagai seorang jurnalis atas konflik itu. Usman ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab besar terhadap beritanya, yakni menjaga keberagaman.
Di buku keenamnya itu, Usman menyebutkan konflik Ambon adalah konflik agama.Konflik juga diperparah dengan pemberitaan media massa yang tidak berimbang sehingga memicu konflik di masyarakat. Dalam buku setebal 115 halaman tersebut, Usman juga menulis tentang kondisi konflik Ambon dari perspektif media massa.
Jurnalisme Keberagaman, tambah Usman, adalah jurnalisme yang berkhidmat pada kebera-gaman dan perbedaan, baik agama, etnik, gender, maupun kelompok.
Sumber: Mediaindonesia.com/OL-4(HJ/H-1)
Posted by: Admin
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi