Rektor UII: Mundur Lebih Terhormat

Rektor UII Mundur Lebih Terhormat 1TRANSFORMASINEWS.COM, YOGYAKARTA– Tragedi kematian tiga mahasiswa peserta pendidikan dasar (diksar) The Great Camping XXXVII Mapala Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, disikapi serius warga kampus ini.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, Rektor UII Harsoyo kemarin memutuskan mundur dari jabatannya. Pada saat bersamaan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Minristek Dikti) M Nasir menuntut agar kasus diusut tuntas. “Kepada Badan Wakaf UII, kejadian ini mutlak kesalahan pimpinan.

Saya yang diberi amanah tidak dapat menjalankannya dengan baik,” ujar Harsoyo di Kantor Kopertis Wilayah V Yogyakarta kemarin. Harsoyo mengaku niat mundur tidak datangtiba- tiba. Dirinyabahkansudah menyiapkan surat pengunduran diri sejak kasus ini muncul.

“Tapi sempat terpikir apa ini tidak justru saya seperti melarikan diri. Tapi saya rasa mundur lebih terhormat karena secara moral saya gagal memimpin,” katanya. Tiga mahasiswa meninggal seusai mengikuti diksar TGC Mapala UII (disebut juga Mapala Unisi) di lereng selatan Gunung Lawu, persisnya di Perbukitan Tlogodlingo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah (13-20/1).

Ketiganya Muhammad Fadli, 19, Syaits Asyam, 19, dan Ilham Nurfadmi Listia Adi, 20. Kematian mereka didugatidakwajar. Hasilinvestigasi kampus dan penyelidikan Polri menemukan adanya indikasi kekerasan pada ketiga korban. Harsoyo menegaskan, meski mundur, dirinya berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut.

Sejauh ini tim investigasi kampus sedang mengumpulkan berbagai fakta dan data terkait insiden tersebut. Hanya sejauh ini mereka belum berhasil memintai keterangan panitia diksar. “Panitia beralasan mereka tidak mendapat undangan. Kami memang tidak mengundang resmi dengan surat.

Kami mengimbau mereka untuk datangkekampuslewatundangan berupa WA (WhatsApp) dan telepon langsung,” katanya. Terlepas dari hal tersebut, dirinya meminta maaf kepada orang tua peserta diksar, terutama orang tua mahasiswa yang meninggal. “Mapala UII berdiri sejak 3 Juli 1974, tapi baru kali ini terjadi hal demikian. Kami juga shock .

Tentu bagi kami ini kejadian luar biasa. Pengunduran diri saya sebagai bentuk kewajiban moral karena tanggung jawab sepenuhnya ada pada rektor,” tegas dia. Menristek Dikti Muhammad Nasir menyebut insiden UII telah mencoreng wajah pendidikan Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menristek Dikti, segala bentuk kekerasan dalam kegiatan kampus, baik verbal, fisik maupun psikis, dilarang.

Pendidikan tinggi berjalan salah satunya untuk mendidik manusia agar mampu bersaing, bermoral baik dan berkualitas. “Ini peringatan bagi semua rektor, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta, tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apa pun. Ini yang terakhir,” katanya.

Nasir pun mendesak Rektor UII untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada semua anggota Mapala Unisi, baik yang berangkat ke Gunung Lawu maupun tidak. Tindakan ini sekaligus untuk membantu penyelidikan yang dilakukan kepolisian. Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi mengaku telah mendapat laporan pelaksanaan diksar dari UII.

Berdasarkan pemeriksaan awal ditemukan adanya sanksi fisik selama kegiatan tersebut. “Dan yang paling fatal, tidak adanya pengawas dari pihak kampus di lapangan,” ungkapnya. Sementara itu merespons pengunduran diri Harsoyo, Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Luthfi Hasan mengatakan ada mekanisme yang harus dilalui. Rektor harus terlebih dahulu mengajukan surat pengunduran diri ke senat universitas. Dari situ akan diputuskan diterima atau tidak, selanjutnya dilaporkan ke yayasan.

Muntah Darah

Fakta baru diksar Mapala Unisi terungkap kemarin. Kepala Puskesmas Tawangmangu Dokter Supardi menuturkan, tubuh Muhammad Fadhli sudah kaku ketika sampai di puskesmas. Korban tiba sekitar pukul 16.00 WIB pada Jumat (20/1) sore. Dari pemeriksaan awal kemungkinan korban sudah meninggal tiga-empat jam sebelumnya.

Dengan demikian, Fadhli kemungkinan besar meningal saat diksar berlangsung. “Kita tidak tahu pastinya seperti apa (kejadian itu), yang jelas sampai sini jenazah sudah mulai kaku, kemudian kita kirimkan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karanganyar,” katanya.

Supardi menekankan, berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan beberapa luka pada tubuh korban, di antaranya luka dada bagian bawah, tangan bagian kiri serta kaki kanan dan kiri. Menurutnya luka yang ditemukan tersebut berupa goresan. Meski demikian ia tidak bisa memastikan apakah luka itu disebabkan penganiayaan atau tidak.

Indikasi kekerasan juga diperkuat berdasar laporan para peserta diklat yang saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Jogja International Hospital. Menristek Dikti yang kemarin mengunjungi para korban mendapatkan informasi bahwa para peserta diksar mengaku dihukum fisik. Oleh siapa? “Mereka hanya menyebut senior.

Mereka masih baru sehingga tidak mengenali nama senior itu,” kata M Nasir. Atas dasar itu, dia pun meminta agar polisi membuat berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap para korban. Polisi juga diminta memberikan perlindugan kepada saksi agar mereka berani mengungkap kebenaran.

Disinggung mengenai peserta yang dirawat intensif, Nasir menuturkan dari 10 orang kemarin seorang mahasiswa dalam kondisi kritis dan harus dirawat di ICU. Mahasiswa ini mengeluhkan rasa sakit di bagian lambung. Direktur Utama RS JIH dr Mulyo Hartana menuturkan, mahasiswa bersangkutan dipindahkan ke ICU karena muntah darah. “Satu di ICU sepertinya karena iritasi di lambung.

Sempat muntah darah. Dia juga mengalami dislokasi tulang bahu kiri,” jelasnya. Dari pemeriksaan medis, iritasi lambung memiliki banyak penyebab. Salah satunya pola makan yang tidak sehat dan dipengaruhi kondisi psikis yang stres. Selain pasien di ICU tersebut, satu lagi pasien mahasiswa yang juga dalam perawatan intensif mengalami dislokasi tulang lutut kaki kiri. Adapula korban yang mengalami kerusakan di bagian ibu jari kaki. “Untuk yang ibu jari kaki sudah kita operasi,” katanya.

Olah TKP, Belum Ada Tersangka

Polisi terus menyelidiki insiden diksar Mapala Unisi menyusul ditemukannya indikasi kekerasan pada korban meninggal. Kemarin tim Inafis Polres Karanganyar kembali mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) di Perbukitan Tlogodlingo untuk mecari barang bukti tambahan.

Dalam olah TKP, petugas menyisir Watu Lumbung, salah satu titik Asyam dkk menjalani diksar. Dari pantauan di lapangan, pada lokasi yang telah dipasangi garis polisi itu tim Inafis mengidentifikasi beberapa lokasi dan mengambil beberapa barang. “Barang bukti tambahan untuk melengkapi keterangan saksi-saksi,” kata salah seorang petugas.

Hingga kemaring sedikitnya 21 saksi telah diperiksa, mulai dari keluarga korban, peserta diklathinggabeberapasaksilain yang diduga mengetahui kasus tersebut. Penyidik juga telah meminta keterangan ahli pidana untuk lebih memudahkan pengungkapan kasus ini. Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, polisi akan memanggil penyelenggara diklat pada Senin depan. Pemanggilan akan dilakukan resmi dengan difasilitasi Kampus UII.

Klaim Sesuai SOP

Benarkah terjadi penganiayaan selama pelaksanaan diksar TGC Mapala Unisi? Seberapa parah hukuman fisik yang diberikan para senior terhadap para calon anggota itu? Hingga kemarin panitia diksar tak satu pun yang memberikan keterangan. Mereka juga tidak muncul untuk mengonfirmasi informasi yang berkembang.

Namun salah satu senior Mapala Unisi Hendy Aseng mengatakan TGC memiliki silabus dan standar operasional prosedur (SOP). Silabus dibuat tertulis sejak kegiatan itu diselengarakan pertama kali. Mahasiswa UII angkatan 1991 yang menjadi peserta GC angkatan 15 tersebut mengklaim, kegiatan diklat dasar diatur secara terperinci di dalam silabus.

“Kita punya silabusnya dan saat ini sudah kita serahkan ke rektorat,” papar Hendy. Menurutnya, pada kegiatan itu, materi yang diajarkan seperti survival, rock climbing baru bersifat perkenalan. Setelah peserta lolos dan menjadi anggota aktif, akan ada tahap lanjutan hingga akhirnya bisa mencapai tahapan training of trainer (TOT).

Sumber: Koransindo/sodik/ ratih keswara/ arief setiadi/ ary wahyu/ maha deva

Posted by: Admin

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016