JAKARTA – Wacana Poros Tengah di Pilpres 2014 tidak akan berarti apa-apa. Sebab, saat ini rakyat yang memilih langsung. Sehingga, koalisi macam poros tengah tidak lagi bermanfaat.
Hal ini dikatakan Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella, menanggapi wacana pembentukan Poros Tengah, oleh partai-partai berbasis Islam.
“Yang penting itu siapa pilihan rakyat. Wacana poros tengah bicara masa lalu yang zamannya sudah beda. Kalau dimainkan lagi dengan sistem langsung, itu tidak nyambung,” ujar Patrice usai Syukuran 1 tahun Gemuruh NasDem, di Auditorium DPP Partai NasDem, Jakarta, Kamis (19/09).
Sebelumnya, Ketua Umum PAN Hatta Rajasa menganggap wacana koalisi poros tengah adalah sesuatu yang usang. “Saya kira poros tengah itu ada di waktu yang lalu, ya,” sebut Hatta.
Hatta menyatakan bahwa keberadaan poros tengah saat ini sudah tak lagi relevan, menurut dia kekuatan politik yang ada saat ini merupakan sentral dari kekuatan. “Sekarang itu semua poros. Tidak ada lagi poros tengah, poros samping, poros kiri, poros kanan. Tidak ada,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian ini.
Pendapat Hatta bertolak belakang dengan seniornya, Amien Rais. Tokoh yang namanya mencuat di era awal reformasi inilah yang menggulirkan wacana poros tengah. Menurut mantan Ketua Umum PAN ini, ada kemungkinan membentuk koalisi Poros Tengah di Pilpres 2014.
Amien kabarnya bukan hanya menggulirkan wacana, tapi juga berambisi mewujudkannya. Buktinya, dia sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah politisi dari partai yang pernah bersamanya dalam menggolkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden pada 1999.
Ide Poros Tengah ini selanjutnya ditangkap oleh PKS. Bahkan, PKS mengusulkan koalisi Poros Tengah menggelar konvensi capres, dengan melibatkan NU dan Muhammadiyah. Setelah itu, mendeklarasikannya di Istora Senayan.
Sekadar catatan, koalisi Poros Tengah muncul di awal era reformasi. Saat itu, koalisi ini terdiri dari sejumlah partai islam seperti PAN, PKB, PPP, PK, dan PBB. Poros tengah saat itu hadir untuk mengajukan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden menyaingi Megawati Soekarno Putri yang diusung oleh PDIP. Akhirnya, Gus Dur pun terpilih sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden. (baratamedia)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
