Manusia Indonesia Bukan Penonton Sulap

Fajar Yulianto
Fajar Yulianto
Mahasiswa dan Blogger
Mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas di Jakarta yang aktif menulis blog.

 

Berbicara tentang masa lalu, baik Soekarno, Mohammad Hatta, atau bapak bangsa lainnya mengajarkan rakyatnya untuk ikut andil dalam mencapai kemerdekaan. Mereka semua menginspirasi rakyatnya untuk bersama-sama mengusir kolonialisme dari Indonesia. Terlebih Soekarno, pesonanya yang luar biasa selalu diandalkan kawan-kawan seperjuangannya untuk membakar semangat rakyat. Tujuannya untuk kepentingan bersama, dan juga negara tentunya.

Perlahan-lahan semangat pergerakan seluruh rakyat mulai pudar ketika rezim Orde Baru (Orba) berkuasa. Di bawah pimpinan sang jendral yang murah senyum, Soeharto, Indonesia diracik untuk mengikuti kemauan penguasa. Kita dipaksa diam ketika ada sesuatu yang janggal. Kita semua bungkam dan takut untuk berontak. Kalaupun memberontak, kita diburu hingga nyawa menjadi taruhannya.

Menghilangkan sisa-sisa efek Orba bukanlah perkara mudah. Akibat terlalu lama dijejali sentralisasi, masih ada sekumpulan orang yang lebih memilih menunggu daripada bertindak, meski pada era Orba banyak sekali aktivis yang melakukan gerakan perlawanan.

Gambaran sosok pemimpin seperti Soeharto sepertinya masih dirindukan. Salah satu buktinya adalah ketika kita sedang ikut pemilihan umum, kita lebih menaruh harapan besar ke calon pemimpin tersebut agar mampu menyelesaikan masalah lingkungannya, bukan menggerakkan dirinya untuk ikut andil dalam menciptakan perubahan. Dan ketika orang yang diberi harapan besar tidak mampu menyelesaikannya secepat mungkin, mereka yang sudah memilihnya justru menggerutu. Karena pada saat berkuasa, Soeharto adalah pemimpin yang memiliki posisi yang kuat. Segala keputusan diambilnya sendiri dan sudah pasti bisa direalisasikan.

Tanpa membuang segala rasa prihatin terhadap bencana banjir yang menimpa warga DKI Jakarta, ada satu catatan penting yang cukup miris. Ketika Pilkada DKI Jakarta digelar pada 2012, banyak orang yang bangga jika menyebut nama Jokowi. Harapan yang sangat besar mereka berikan kepada Jokowi-Ahok untuk DKI Jakarta yang lebih baik. Tapi ketika bencana banjir mulai melanda, semua orang menghujat dan menganggap mereka tidak becus memimpin Jakarta. Begitu juga soal macet, banyak orang yang menganggap Jokowi-Ahok tidak mampu membenahi masalah tersebut.

Sadarkah Anda jika permasalahan, seperti macet dan banjir, adalah masalah yang sudah lama ada di Ibukota? Bersediakah Anda berhenti menggerutu dan mulai memahami apa saja yang menjadi penyebab permasalahan tersebut?

Sedikitnya ada 173 mal di DKI Jakarta dan 92 persen wilayah di DKI Jakarta berupa bangunan, bukan ruang terbuka hijau. Dari data tersebut, kita bisa membuat kesimpulan sederhana tentang penyebab mengapa DKI Jakarta menjadi padat dan selalu banjir. Basuki Tjahja Purnama (Ahok) pernah berkata bahwa banyaknya mal di Jakarta adalah salah satu sumber kemacetan. Minimnya ruang terbuka hijau adalah salah satu sumber banjir, karena tidak ada tempat resapan air.

Kita harus sadari bersama bahwa semua masalah akan selesai jika kita menerapkan kedisiplinan. Sejumlah peraturan agar transportasi umum diprioritaskan, tetapi tak banyak yang mau menggunakan angkutan massal. Pengendara sepeda motor dan mobil yang melintasi jalur busway telah ditindak, namun masih saja ada yang melewati jalur tersebut. Banyak warga mengeluhkan banjir, tetapi masih sering membuang sampah sembarangan. Artinya, yang membuat negara ini menyimpan banyak persoalan, bukan hanya karena minim pemimpin berintegritas, tapi masyarakatnya juga tidak disiplin.

Disiplin
Rela berteriak untuk perubahan, tapi tidak mau disiplin. Indonesia kini tak ubahnya seperti panggung pentas sulap. Kita tak ubahnya sebagai penonton yang menunggu kejutan dari aksi sang pesulap. Para penonton duduk manis terpaku ke arah sang pesulap, dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh pesulap. Jika berhasil diberi tepuk tangan, jika gagal ada yang mengasihani dan kecewa. Yang kecewa menganggapnya sebagai ajang buang-buang waktu. Mereka menyesal karena telah salah memilih acara. Padahal, sekali lagi, pesulap bukanlah Tuhan. Ia juga manusia bisa gagal, meskipun berlabel pesulap profesional.

Jika kita sudah memiliki pemimpin yang baik, dukung pemimpin tersebut sebagaimana mestinya. Sebagai bagian dari lingkungan, tidak cukup hanya mengkritik pemimpin yang ada sekarang. Apalagi jika kita hanya menuntutnya agar bekerja lebih keras.

Anies Baswedan dalam suatu kesempatan pernah menyatakan,”Tugas pemimpin bukan melayani, tapi menggerakkan. Tugas birokrasilah yang melayani.” Apa yang dilakukan Jokowi-Ahok umumnya sudah benar. Mereka beberapa kali menginspeksi kantor-kantor pelayanan masyarakat agar para birokrat lebih disiplin dalam bekerja. Karena tugas birokrasi adalah melayani, dan Jokowi-Ahok sudah menggerakkan mereka agar lebih giat bekerja melayani masyarakat.

Sudah saatnya kita mengubah persepsi pemimpin yang dewasa ini sering dianggap sebagai pejuang tunggal. Bung Karno tidak akan membaca teks Proklamasi kemerdekaan dan menjadi pribadi yang besar tanpa ada orang-orang di sekelilingnya. Jangan sampai karakteristik penonton sulap menjadi stereotipe manusia Indonesia. Mulailah turun tangan bersama-sama untuk membenahi segala macam masalah di republik ini, karena bangsa ini tidak dibangun oleh manusia-manusia seperti para penonton sulap.

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016