PALEMBANG–Sebagai pengawas dalam pelaksanaan pemilian kepala daerah, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumsel berusaha meminimalisi pelanggaran pada proses Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Sumsel 4 September mendatang.
Bawaslu Sumsel berkomitmen menyiapkan pengawalan extra ketat. Salah satunya yang menjadi fokus perhatian pengawasan mereka adalah di kota Palembang, dimana salah satunya menambah asisten PPL.
Hal tersebut diungkapkan dalam Diskusi Panel bertema “Partisipasi Masyarakat dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel 2013, di Gedung Akademik Center Kampus IAIN Raden Fatah, Sabtu (31/8/2013).
“PSU ini penting, apalagi di Palembang suaranya mencapai 15-20persen dari total suara dan PSU ini sekitar 50 persen. Makanya PSU di Palembang butuh dikawal extra karena menjadi daerah yang pemilihnya paling besar sampai 1,1 juta,” kata Ketua Bawaslu Sumsel, Andika Pranata Jaya.
Menurut Andika, pengawasan yang dilakukan Bawaslu ini tentunya tak lepas dari dukungan semua pihak, karena dengan wilayah pemungutan suara yang banyak dan tersebar di beberapa kabupaten yang berjauhan jelas membutuhkan banyak telinga dan mata untuk sama-sama melakukan pengawasan.
“Jadi konsep yang kami lakukan adalah lebih menguatkan pencegahan pelanggaran ketimbang melakukan penindakan pelanggaran. Kalau aspek pencegahan bisa dilakukan kami optimis pelanggaran bisa diminimalisir,” jelasnya.
Lebih lanjut Andika menerangkan, pihaknya terus berupaya membangun optimisme masyarakat, agar mau menggunakan hak pilihnya pada PSU. Melalui forum seperti inilah pihaknya berupaya mengajak masyarakat ikut berpartisipasi melakukan pengawasan secara aktif, utamanya di kalangan mahasiswa.
“Kita mulai dengan mengajak masyarakat ke TPS menggunakan hak pilihnya, lalu melakukan pengawasan dan ikut mengawal,”ucapya.
Selain di TPS, proses pengawalan ini lanjut Andika akan dilakukan hingga rangkaian proses PSU berakhir.
“Agar tidak bermasalah, pengawasan mesti maksimal terutama saat penghitungan suara,” capnya.
Andika juga optimis akan partisipasi pada PSU nanti mencapai angka 80 persen, meskipun hal itu sulit berkaca pada 6 Juni lalu.
Sementara itu, Guru Besar Sosilogi IAIN Raden Fatah Palembang, yang ikut menjadi pembicara, Abdullah Idi menerangkan pendidikan politik seperti ini memang penting bagi masyarakat terutama mahasiswa sebagai pemilih pemula. Sehingga mereka tidak akan salah memilih pemimpinnya.
“Kesiapan penyelenggara itu sendiri dalam hal ini KPU dan Bawaslu, Tim Sukses, sikap dan budaya politik serta motivasi kepada masyarakatnya sendiri, penting diperhatikan untuk meningkatkan partisipasi pemilih politik seperti ini,”pungkasnya. (tribunnews)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi