|
|
|
TRANSFORMASINEWS, PALEMBANG. KEHADIRAN putra asli Sumsel yang sekarang menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), Jendral (Purn) Ryamizard Ryacudu benar-benar disambut antusias tokoh masyarakat Sumsel saat datang ke Palembang beberapa waktu lalu.
Selain menggelar malam ramah tamah di Griya Agung, Ryamizard Ryacudu juga mendapat gelar kehormatan dari tokoh-tokoh dan Dewan Adat Sumsel yakni Datok Sri Pengayoman.
Gelar ini diberikan karena pria kelahiran Palembang 21 April 1950 tersebut dianggap telah memberikan pengabdiannya terhadap kemajuan bangsa serta telah membanggakan Provinsi Sumsel di kancah nasional.
Dibincangi wartawan usai menerima gelar adat di kediaman tokoh masyarakat Sumsel, Kms H Halim, Sabtu (14/2) lalu, Ryamizard Ryacudu mengatakan, pemberian gelar ini merupakan suatu kebanggaan dan akan dibawanya dengan rasa penuh bangga.
“Bagi saya gelar adat ini bukti diri darimana saya berasal dan akan saya bawa sebuah penghargaan dari masyarakat Sumsel ini,” ujarnya.
Dia juga mengucapkan rasa terima kasih kepada para pemangku adat Sumsel, Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin, Plt Walikota Palembang Harnojoyo, dan Kemas H Abdul Halim Ali selaku salah satu tokoh masyarakat Sumsel.
“Mudah-mudahan, apa yang sudah diberikan ini, menjadikan saya seorang pengayom yang disenangi masyarakat,” terangnya.
Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu adalah Menteri Pertahanan pada Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo yang mulai menjabat sejak 27 Oktober 2014. Mantan perwira tinggi militer TNI AD ini juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005.
Ryamizard sendiri merupakan putra Mayjen TNI Musannif Ryacudu, seorang perwira TNI Angkatan Darat yang dekat dengan Presiden Soekarno saat itu. Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Lampung, yang juga keturunan seorang penyebar agama Islam di Lampung.
Soal jodoh, Ryamizard Ryacudu juga tidak lepas dari pengaruh militer karena dia menikah dengan Nora Tristyana, putri mantan Wakil Presiden, Jenderal TNI Try Sutrisno.
Selama menjalani karier militer, Ryamizard termasuk cemerlang. Usaimemangku jabatan Pangdam V Brawijaya, yang kemudian diteruskan menjadi Pangdam Jaya. Saat terjadinya gesekan elit nasional pada masa presiden Gus Dur, Ryamizard yang saat itu menjabat Pangdam Jaya mengancam siapa saja yang akan mengganggu keamanan di wilayahnya.
Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah. Kemampuannya merangkul semua unsur TNI saat apel siaga di Lapangan Monas yang melibatkan unsur TNI AL dan TNI AU Juli 2001 menarik KSAD untuk menunjuknya sebagai Wakil KSAD dan kemudian menggantikan Endriartono Sutarto sebagai KSAD.
Ia pernah dicalonkan di akhir masa jabatan presiden Megawati sebagai Panglima TNI. Namun nama Marsekal Djoko Suyanto-lah yang akhirnya dipilih sebagai Panglima TNI pada tahun 2006, karena namanya dianulir oleh SBY.
Karier politik
Ryamizard juga dianggap sebagai “orang Megawati”. Pencalonannya sebagai Panglima TNI dibatalkan oleh SBY dengan memperpanjang jabatan Endriartono Sutarto, sehingga menimbulkan kecurigaan konflik pribadi antara SBY dan Ryamizard, seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman Wahid.
Setelah akhirnya pensiun dari militer, ia mengaku tidak ingin masuk ke dunia politik, namun pada tahun 2008, saat ikut dalam deklarasi Majelis Kebangsaan Indonesia, ia sempat menyatakan mempertimbangkan menjadi Calon Presiden bila mendapat dukungan.
Pada 27 Januari 2009, ia diundang ke Rakernas PDIP, menggantikan Hidayat Nur Wahid yang tidak jadi diundang, sehingga memunculkan namanya sebagai salah satu cawapres Megawati.
Namanya sempat diisukan sebagai salah satu calon wakil presiden Joko Widodo, walaupun akhirnya Jusuf Kalla yang terpilih. Ia lalu mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dan terlibat dalam pembekalan relawan selama kampanye Pilpres.
Ryamizard Ryacudu kemudian ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja.
SUMBER:[RMOL/WE/wek]

