Tempat Menjemur Padi pun Harus Sewa

ISTIMEWA Ilustrasi

ISTIMEWA
Ilustrasi

 

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Selain kebiasaan menjual padi ke tengkulak saat musim panen, banyaknya hasil pertanian saat musim tiba menyebabkan sejumlah petani kesulitan menyimpan gabah. Mereka yang tidak berurusan dengan tengkulak memilih menitipkan padi kepada pemilik penggilingan padi. Bahkan terkadang pemilik penggilingan padi yang memiliki modal besar akan membeli gabah petani untuk disimpan dan dijual.

 

“Petani jarang yang memiliki lokasi untuk menjemur dan penyimpanan padi. Biasanya setelah panen, dititipkan ke pabrik untuk dijemur dan dijual oleh pemilik pabrik. Petani tidak mungkin menyimpan gabah basah. Sementara untuk menjemur, petani tidak memiliki lokasi,” ungkap Sikin (32) petani asal Kumpulmulyo, Martapura, Minggu (9/3/2014).

 

Menurut Sikin, kondisi tersebut selalu terjadi setiap musim panen. Kesulitan petani yang utama adalah lokasi penjemuran. Apalagi saat musim panen seluruh lokasi penjemuran warga penuh di sewa oleh petani lainnya.

 

“Satu-satunya cara menyiasatinya adalah dengan menyerahkan ke pabrik dan meminta mereka menjemur dan langsung menggilingnya. Biasanya kalau sudah seperti itu, petani akan langsung meminta pabrik untuk mencarikan pembelinya dengan harga sekitar Rp 6.200 hingga Rp 6.500 per kilogramnya,” ujar Sikin.

 

Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Musirawas dan Lubuklinggau. Di sana, hasil panen juga langsung dibawa ke penggilingan padi untuk proses penjemuran dan penggilingan.

 

“Paling yang disisakan hanya untuk persediaan benih musim tanam berikutnya. Untuk kebutuhan makan, paling disisakan 200 kg,” kata Mujiono petani yang menggarap sawah di wilayah Satanulu, Desa Tanahperiuk Kecamatan Muarabeliti.

 

Sementara itu, pengelola penggilingan padi “Suka Tani” di Desa Airsatan Kecamatan Muarabeliti, Slamet mengatakan, sebagian besar petani penggarap diwilayah tersebut biasanya memang langsung membawa hasil panennya ke penggilingan padi setelah habis panen.

 

Hasil panen yang masuk, langsung dijemur dilokasi penggilingan jika kondisi cuaca memungkinkan. Setelah dijemur, baru digiling dan hasilnya dibagi, antara pemilik lahan, petani penggarap dan bayar upah penggilingan.

 

“Disini rata-rata upah penggilingan berkisar 10 persen dari hasil panen,” katanya.

 

Sedangkan hasil panen yang akan dijual, biasanya menunggu pembeli datang baru dilepas. Rata-rata menurutnya pembeli dari pedagang lokal Musirawas, Lubuklinggau dan Muratara. Terkadang masuk pembeli dari Curup, Bengkulu. “Untuk penjualan ini,tergantung kesepakatan dengan petani selaku pemilik beras,” ujarnya.

Dikatakan, harga beras di sana fluktuatif, tergantung dengan harga pasaran dan harga terkini. “Kalau sekarang di kisaran Rp 7.500 per kilogram,” katanya (SRIPOKU.COM)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016