
Anggota DPRD RI Dapil Sumsel dua dari partai Nasdem Irma Suryani kepada jurnalsumatra.com, Ahad (19/3/2017) mengatakan, saya tidak mengerti kenapa bisa Seorang kepala Dinas Kebudayaan tidak menghargai dan tidak mengerti sejarah.
TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG. Setelah membaca pemberitaan jurnalsumatra.com tentang tarian gending sriwijaya yang akan “Musnah” oleh Dinas Kebudayaan Palembang. Anggota DPRD RI Dapil Sumsel dua dari partai Nasdem Irma Suryani kepada jurnalsumatra.com, Ahad (19/3/2017) mengatakan, saya tidak mengerti kenapa bisa Seorang kepala Dinas Kebudayaan tidak menghargai dan tidak mengerti sejarah.
Sumatra selatan adalah bumi Sriwijaya itu Fakta sejarah yang tidak bisa diganggu gugat. Bicara soal kesenian tentu Kita tidak bisa bicara soal agama. Karena mau tidak mau, suka tidak suka kerajaan Sriwijaya dulu memang bukan kerajaan Islam
Tetapi saya tidak melihat ada yang salah dengan tari gending Sriwijaya dan tari tanggai sabagai Tarian yangg merusak agama Islam. Karena faktanya juga negara Kita bukan negara Islam Meski 90% penduduk indonesia beragama islam.
Keragaman budaya, suku dan agama ini lah yg menjadikan Indonesia sebagai negara besar yg mampu menjaga persatuan dan persatuan, tentu ini tidak boleh dirusak oleh kemunduran berfikir dengan ingin mengganti sejarah, Walau kemudian telah dianulir Oleh yang bersangkutan
Seharusnya sebagai kepala Dinas Kebudayaan harus mampu menggali potensi budaya dan peninggalan sejarah Sriwijaya yg pernah menjadi kerajaan terbesar, dalam rangka meningkatkan pendapatan sektor sebagaimana yang telah dilakukan Pak gubernur dengan kinerja yang luar biasa dalam membangun Kota Palembang yang semakin Maju Sektor pariwisata. Mau menambah bikin tarian apa pun tidak masalah sepanjang tidak merusak sejarah, tuntas Irma Suryani.
Seperti sebelumnya telah diberitakan dengan judul Sudirman Teguh Anulir Pernyataanya Sendiri dengan isi berita.
Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh yang didampingi Kms. Anwar Beck, BA (Yaii Beck) selaku Seniman Senior dan Febri sebagai Dewan Kesenian Palembang menganulir pernyataanya dalam berita di jurnalsumatra.com mengatakan Tidak benar kalau pemikiran dari Dinas Kebudayaan, untuk menghilangkan salah satunya, tidak benar bahkan kepikirapun tidak, malah kita akan menambah kekayaan dari aspek kesenian yang ada di Palembang ini, dan ada informasi yang sangat keliru yang sifatnya negative, ini yang kami sayangkan.” Ujarnya.
“Selama ini sudah ada tarian yang menggelenda yaitu kesenian tarian seperti tarian Gending Sriwijaya, tarian Tanggai dan tarian Tepak dari tarian yang sudah ada ini, kita ingin menambahkan kekayaan lagi dari segi kesenian yang berlatarkan Palembang Darusallam” terangnya.
“Informasi yang kami dapati dari tokoh masyarakat dan seniman tarian Palembang Darusallam ini, belum ada dan kami mempunyai gagasan, untuk melengkapi tarian yang ada untuk menambah tarian yang sudah ada itu, kita menambah tarian baru yang berlatarkan khusus menggambarkan Palembang Darusallam” ungkapnya.
Menurutnya, inilah yang akan dicoba dan akan kita gagasankan, untuk nama tariannya pun, belum didapatkan dan baru dimintai informasi dari para tokoh-tokoh untuk dijadikan tarian yang baru.
Dikatakannya, kalau nanti tarian ini jadi dibuat maka, Palembang akan mempunyai 4 tarian yang merupakan tarian legenda, selama ini 3 tarian yang sudah betul-betul tari yang sudah dikenal secara international, dengan masuknya tarian yang baru nanti lengkap kekayaan kesenian ada di Palembang ini.
Sebelum gagasan ini kita sudah minta pendapat tokoh-kokoh budayawan yang ada di Palembang dan pada umumnya mereka mendukung karena ini juga menambah kekayaan, sama dengan membuat lagu baru, lagu lama tidak dihilangkan dan justru ini yang akan kita pelihara.
Palembang ini dibentuk dari 3 etnis dan 3 agama yang dominan, itu yang menjadikan patokan dan kerukunan Palembang ini, harus bisa mengaktualisasi semuanya ini, tandas Sudirman.
Sebelumnya telah diberitakan dengan judul “Palembang Akan Musnahkan Tari gending Sriwijaya” dengan isi berita. Palembang memiliki beragam budaya dan kesenian, salah satunya tarian, Dinas Kebudayaan Palembang tengah merencanakan memusnahkan tarian sriwjaya dan akan diganti dengan tarian sambut Palembang Darussalam.
“Selama ini kalau ada tamu atau penyambutan pakai tari Gending Sriwijaya, atau tari Tanggai. Padahal tarian itu bukan adat istiadat kita, mulai dari gerakan, pakaian penari dan musik dalam tari Gending Sriwijaya indentik dengan ajaran Hindu-Budha,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh.
Oleh karena itu, lanjut Sudirman, Palembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah saatnya memiliki tarian sendiri, baik gerakan, lagu atau musik pengiring dan pakaian yang dipakai penari bernuansa Islami
“Kalau ditanya bagaimana gerakkannya saya tidak tahu, saya bukan ahli tari, seniman atau budayawan. Tapi kami dari Kebudayaan mendiskusikan dengan ahli tari, seniman atau budayawan, mereka 100% mendukung. Mereka yang lebih paham. Nanti kita lombakan untuk cipta tari Sambut Palembang Darussalam ini. Perlombaan tersebut akan digelar setelah pemilihan Duta Budaya, sekitar akhir bulan April mendatang,” jelas dia.
Maka, tari Sambut Palembang Darussalam akan diperkenalkan ke masyarakat luas, termasuk di pelajari di sekolah-sekolah. Lalu, nasib tari Gending Sriwijaya tetap ada namun untuk dipakai oleh Pemerintah Provinsi Sumsel. “Tari Gending Sriwijaya nanti ditarik oleh Pemprov Sumsel. dan tari Sambut Palembang Darussalam akan diatur dalam Peraturan Daerah,”ujarnya.
Sementara itu salah seorang warga Palembang sepuluh ulu Maryani mengatakan sungguh naïf kalau dinas pariwisata mau memusnahkan budaya yang telah tumbuh selama ribuan tahun, hanya demi kepentingan pribadi dan golongan saja. Lebih baik mengundurkan diri bila tidak bisa bekerja, ujranya. Begitu juga netizen Irmansyah Syah mengatakan dalam dialog cyber “Sejarah mencatat kebesaran Sriwijaya dimasanya, di Palembang para tamu kehormatan dan pada acara- acara tertentu tari gending sriwijaya sudah dikenal sebagai tari penyambutan.. “Oi wong kito” jangan kehilangan jati diri lah, dengan mengingat kebesaran para pendahulu itu bukti kita menghargai keberadaan kita sekarang.” Komentar ini ditanggapi langsung oleh Pandapotan Lubis dengan mengatakan “Hanya Wong Kito gila yg sengaja merusak budayanya sendiri kemudian menggantinya dengan budaya padang pasir yg sebenarnya bukan budaya asli kita.”
Palembang Akan “Musnahkan” Tari gending Sriwijaya
Palembang memiliki beragam budaya dan kesenian, salah satunya tarian, Dinas Kebudayaan Palembang tengah merencanakan “memusnahkan” tarian sriwjaya dan akan diganti dengan tarian sambut Palembang Darussalam.
“Selama ini kalau ada tamu atau penyambutan pakai tari Gending Sriwijaya, atau tari Tanggai. Padahal tarian itu bukan adat istiadat kita, mulai dari gerakan, pakaian penari dan musik dalam tari Gending Sriwijaya indentik dengan ajaran Hindu-Budha,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh.
Oleh karena itu, lanjut Sudirman, Palembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah saatnya memiliki tarian sendiri, baik gerakan, lagu atau musik pengiring dan pakaian yang dipakai penari bernuansa Islami
“Kalau ditanya bagaimana gerakkannya saya tidak tahu, saya bukan ahli tari, seniman atau budayawan. Tapi kami dari Kebudayaan mendiskusikan dengan alhi tari, seniman atau budayawan, mereka 100% mendukung. Mereka yang lebih paham. Nanti kita lombakan untuk cipta tari Sambut Palembang Darussalam ini. Perlombaan tersebut akan digelar setelah pemilihan Duta Budaya, sekitar akhir bulan April mendatang,” jelas dia.
Maka, tari Sambut Palembang Darussalam akan diperkenalkan ke masyarakat luas, termasuk di pelajari di sekolah-sekolah. Lalu, nasib tari Gending Sriwijaya tetap ada namun untuk dipakai oleh Pemerintah Provinsi Sumsel. “Tari Gending Sriwijaya nanti ditarik oleh Pemprov Sumsel. dan tari Sambut Palembang Darussalam akan diatur dalam Peraturan Daerah,”ujarnya.
Palembang, jurnalsumatra.com – Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh yang didampingi Kms. Anwar Beck, BA (Yaii Beck) selaku Seniman Senior dan Febri sebagai Dewan Kesenian Palembang menganulir pernyataanya dalam berita di jurnalsumatra.com mengatakan Tidak benar kalau pemikiran dari Dinas Kebudayaan, untuk menghilangkan salah satunya, tidak benar bahkan kepikirapun tidak, malah kita akan menambah kekayaan dari aspek kesenian yang ada di Palembang ini, dan ada informasi yang sangat keliru yang sifatnya negative, ini yang kami sayangkan.” Ujarnya.
“Selama ini sudah ada tarian yang menggelenda yaitu kesenian tarian seperti tarian Gending Sriwijaya, tarian Tanggai dan tarian Tepak dari tarian yang sudah ada ini, kita ingin menambahkan kekayaan lagi dari segi kesenian yang berlatarkan Palembang Darusallam” terangnya.
“Informasi yang kami dapati dari tokoh masyarakat dan seniman tarian Palembang Darusallam ini, belum ada dan kami mempunyai gagasan, untuk melengkapi tarian yang ada untuk menambah tarian yang sudah ada itu, kita menambah tarian baru yang berlatarkan khusus menggambarkan Palembang Darusallam” ungkapnya.
Menurutnya, inilah yang akan dicoba dan akan kita gagasankan, untuk nama tariannya pun, belum didapatkan dan baru dimintai informasi dari para tokoh-tokoh untuk dijadikan tarian yang baru.
Dikatakannya, kalau nanti tarian ini jadi dibuat maka, Palembang akan mempunyai 4 tarian yang merupakan tarian legenda, selama ini 3 tarian yang sudah betul-betul tari yang sudah dikenal secara international, dengan masuknya tarian yang baru nanti lengkap kekayaan kesenian ada di Palembang ini.
Sebelum gagasan ini kita sudah minta pendapat tokoh-kokoh budayawan yang ada di Palembang dan pada umumnya mereka mendukung karena ini juga menambah kekayaan, sama dengan membuat lagu baru, lagu lama tidak dihilangkan dan justru ini yang akan kita pelihara.
Palembang ini dibentuk dari 3 etnis dan 3 agama yang dominan, itu yang menjadikan patokan dan kerukunan Palembang ini, harus bisa mengaktualisasi semuanya ini, tandas Sudirman.
Sebelumnya telah diberitakan dengan judul “Palembang Akan Musnahkan Tari gending Sriwijaya” dengan isi berita. Palembang memiliki beragam budaya dan kesenian, salah satunya tarian, Dinas Kebudayaan Palembang tengah merencanakan memusnahkan tarian sriwjaya dan akan diganti dengan tarian sambut Palembang Darussalam.
“Selama ini kalau ada tamu atau penyambutan pakai tari Gending Sriwijaya, atau tari Tanggai. Padahal tarian itu bukan adat istiadat kita, mulai dari gerakan, pakaian penari dan musik dalam tari Gending Sriwijaya indentik dengan ajaran Hindu-Budha,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh.
Oleh karena itu, lanjut Sudirman, Palembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah saatnya memiliki tarian sendiri, baik gerakan, lagu atau musik pengiring dan pakaian yang dipakai penari bernuansa Islami
“Kalau ditanya bagaimana gerakkannya saya tidak tahu, saya bukan ahli tari, seniman atau budayawan. Tapi kami dari Kebudayaan mendiskusikan dengan ahli tari, seniman atau budayawan, mereka 100% mendukung. Mereka yang lebih paham. Nanti kita lombakan untuk cipta tari Sambut Palembang Darussalam ini. Perlombaan tersebut akan digelar setelah pemilihan Duta Budaya, sekitar akhir bulan April mendatang,” jelas dia.
Maka, tari Sambut Palembang Darussalam akan diperkenalkan ke masyarakat luas, termasuk di pelajari di sekolah-sekolah. Lalu, nasib tari Gending Sriwijaya tetap ada namun untuk dipakai oleh Pemerintah Provinsi Sumsel. “Tari Gending Sriwijaya nanti ditarik oleh Pemprov Sumsel. dan tari Sambut Palembang Darussalam akan diatur dalam Peraturan Daerah,”ujarnya.
Sementara itu salah seorang warga Palembang sepuluh ulu Maryani mengatakan sungguh naïf kalau dinas pariwisata mau memusnahkan budaya yang telah tumbuh selama ribuan tahun, hanya demi kepentingan pribadi dan golongan saja. Lebih baik mengundurkan diri bila tidak bisa bekerja, ujranya.
Begitu juga netizen Irmansyah Syah mengatakan dalam dialog cyber “Sejarah mencatat kebesaran Sriwijaya dimasanya, di Palembang para tamu kehormatan dan pada acara- acara tertentu tari gending sriwijaya sudah dikenal sebagai tari penyambutan.. “Oi wong kito” jangan kehilangan jati diri lah, dengan mengingat kebesaran para pendahulu itu bukti kita menghargai keberadaan kita sekarang.” Komentar ini ditanggapi langsung oleh Pandapotan Lubis dengan mengatakan “Hanya Wong Kito gila yg sengaja merusak budayanya sendiri kemudian menggantinya dengan budaya padang pasir yg sebenarnya bukan budaya asli kita.”
Sumber: Jurnalsumatra.com (eka/edchan)
Posted by: Admin Transformasinews.com
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi