Kisah Pasca Penangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN

1-anngita-moran-calon-istri-bupati-OI-yg-ketangkep
AW Nofiadi, bersama Anggita Moran Calon Istri. Foto Ist

 

TRANSFORMASINEWS, PALEMBANG. PASCAPENANGKAPAN Bupati Ogan Ilir OI) Ahmad Wazir (AW) Nofiadi alias Ofi, bersama 6 orang lainnya oleh petugas BNN, nampak pintu gerbang rumah Mawardi Yahya, di Jalan Musyawarah, RT 26/05, Kelurahan Karang Jaya, Gandus, Senin (14/3), tertutup rapat. Bahkan, pintu pagar dirantai besi dan tiga gembok.

Suasana rumah berhalaman luas itu sepi, usai petugas BNNP Sumatera Selatan, dan BNN pusat menggerebek dan mengamankan sejumlah orang di rumah tersebut, pada Minggu malam (13/03).

Urine kelima orang yang ada di kediaman tersebut positif mengonsumsi narkoba, di antaranya Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir (AW) Nofiadi, Faisal Rochie (PNS di Rumah Sakit Ernaldi Bahar), Deny Afriansyah (PNS Dinas Kesehatan OKU Timur), serta Murdani, dan Juniansyah (buruh PT Limbersa).

Nofiadi yang notabenenya putra Mawardi Yahya. Mawardi adalah politikus Partai Golkar. Ia dua periode menjadi kepala daerah di Bumi Caram Seguguk itu. Nampak menjelang siang, sejumlah mobil keluarga dan kerabat Mawardi mulai berdatangan. Mereka Tak dapat langsung masuk, para tamu tersebut harus berhadapan dengan tiga penjaga.

Usai gembok dibuka, dan rantai dilepas, para tamu dipersilakan masuk langsung menuju ruang utama rumah Mawardi tersebut. Satu persatu hingga akhirnya ada sekitar 10 mobil tampak terparkir di kediaman Mawardi. Tak hanya langsung masuk ke halaman rumah, ada juga beberapa mobil yang terparkir di luar pagar.

Pascapenangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN (1)
Lokasi menuju kediaman AW Nofiadi Mawardi, yang pintu pagarnya terkunci dan dirantai. Foto Agus/Palembang Pos

Keluarga Mawardi dikenal sangat kurang bergaul dengan masyarakat sekitar. Terlebih putranya Nofiadi yang menjabat sebagai Bupati Ogan Ilir. “Nofiadi memang dari kecil tinggal di sini, namun tidak pernah main sama anak-anak sini,” ujar Joni, seorang warga yang tinggal tak jauh dari kediaman Mawardi.

Joni yang sudah 30 tahun lebih tinggal di kawasan tersebut, mengaku agak kaget mendengar tetangganya yang menjadi orang nomor 1 di Kabupaten Ogan Ilir, malah diringkus BNN lantaran narkoba. ”Seharusnya orang seperti beliau (ofi,red) jauh-jauh dengan barang haram itu, apalagi dia-kan sebagai panutan masyarakat,” jelas Joni menyayangkan.

Sama halnya dengan Joni, Hj Elvita juga tetangga orang nomor 1 di Ogan Ilir itu, mengaku sama sekali tak pernah mengenal sosok Ofi, meskipun ia tinggal dan lahir di rumah itu sejak dulu. Bahkan keluarga tersebut menurut El agak dingin dengan masyarakat sekitar.

”Kami juga kurang tau Ofi itu yang mana, meskipun dia besar di sini. Dengan tetangga mereka cuek, padahal mereka itu orang-orang yang berpendidikan dan seharusnya rendah diri agar lebih dikenal masyarakat,” terangnya.

Namun meskipun demikian, El dan Joni berharap apapun masalah yang sedang menimpa keluarga tersebut terutama Ofi dapat segera selesai. ”Jika memang benar terbukti memakai narkoba, ya mau tidak mau sebagai warga Negara yang baik harus berani mempertanggung jawabkan di depan mata hukum. Dan tentunya harus mundur dari jabatannya sekarang,” tukasnya.

Pascapenangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN (2)
Bupati OI AW Nofiadi alias Ofi, ketika diamankan di Markas BNN Jakarta. Foto Ricardo/jpnn.com

PENANGKAPAN Bupati Ogan Ilir (OI) AW Nofiadi alias Ofi, oleh tim BBN ternyata tak semata-mata dengan penyelidikan biasa. Namun, BNN melakukan sejumlah rangkaian penyelidikan lapangan, sebelum akhirnya melakukan penangkapan terhadap putra Mawardi Yahya tersebut.

Sepintar-pintar menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Setidaknya itulah pepatah yang menggambarkan kebobrokan kelakuan Bupati Ogan Ilir AW Nofiadi alias Ofi yang kedapatan positif menggunakan narkotika jenis sabu bersama keempat rekannya.

Penangkapan itu bukanlah semata-mata spontanitas dari petugas BNN, melainkan hasil kerja keras pengintaian dan penyamaran yang dilakukan berbulan-bulan atas Ofi, sebelum di lantik menjadi Bupati Ogan Ilir. ‘’Ini bukan spontanitas, tapi kerja keras. Benar-benar kerja keras hingga akhirnya dapat melakukan penangkapan seperti saat ini,” ujar salah satu anggota BNN yang enggan disebut namanya.

Anggota BNN ini mengaku telah melakukan penyamaran di masa pilkada berlangsung. Bahkan dirinya berusaha sebisa mungkin mengikuti aktifitas AW Nofiadi selama berkampanye, hingga akhirnya dilantik, serta pasca dilantik menjadi Bupati Ogan Ilir. ”Kita sempat nyamar jadi wartawan. Bahkan, jadi anggota LSM, demi demi bisa dekat dengan Ofi. Semua kegiatannya kita pantau, tanpa ia sadari,” jelasnya.

Yang lucunya, anggota BNN tersebut dalam penyamarannya benar-benar totalitas. Bahkan ia sempat mendapat uang Rp 500 ribu dari tim Ofi ketika mengikuti serangkaian kegiatan Bupati tersebut saat pencalonan. ”Dalam penyamaran itu, saya pernah dapat transport Rp 500 ribu cuma-Cuma, ketika meliput salah satu kegiatan Ofi. Itu antara senang dengan bingung, sebab tengah menjalankan tugas,” ujar pria dengan perawakan sedang dan sama sekali tak terlihat seperti aparat ini.

Ia berharap tugasnya kali ini berujung keberhasilan dan dapat membuktikan, serta membongkar kejahatan dan menggiring para pemakai narkoba tersebut ke ranah hokum, guna mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. ”Bisa menangkap saja kami sudah senang. Semoga ini menjadi kaca bagi masyarakat, terutama pemimpin atau pejabat yang masih berhubungan dengan barang haram itu,” tukasnya.

Pascapenangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN (3)

BEREDARNYA rumor Bupati Ogan Ilir (OI) Aw Nofiadi alias Ofi, diduga sebagai bandar narkoba usai menjalani pemeriksan oleh BBN, pasca positif menggunakan sabu, nampaknya membuat masyarakat terkejut. Mereka tak henti-hentinya mengulas hal tersebut, sembari menyaksikan penggeledahan BNN di kediaman Ofi dari kejauhan, kemarin (16/03).

Bukan hanya mengonsumsi barang haram, melainkan juga diduga ikut terlibat peredaran narkotika. Rumor itu nampaknya semakin kencang berhembus, bahkan sampai ke telinga masayarakat sekitar kediaman Ofi tinggal.

“Katanya beliau itu bukan hanya mengonsumsi sabu, tapi ikut dalam peredarannya, benar atau tidak ya,” celetuk pria tua yang mengenakan peci hijau di tengah kerumunan masyarakat yang mengamati kegiatan di rumah orang nomor 1 di Ogan Ilir tersebut bersama warga lainnya.

Warga sekitar nampaknya sangat tertarik dan penasaran. Bahkan, saking penasarannya, mereka menyangka ada penangkapan lagi di rumah megah tersebut. ”Kok ramai sekali, ada yang ditangkap lagi ya Pak. Itu ada polisi dan wartawan ramai, kasihan sekali Pak Mawardi, pasti syok berat,” jelas Sumiati (36), salah satu warga sekitar.

Meskipun tak terlalu dekat dengan keluarga Mawardi Yahya, Sumiati mengaku sebenarnya sangat iba, dan menyesalkan kejadian tersebut. Mengingat Ofi yang baru saja dilantik sebulan lalu menjadi bupati. ”Kami itu sebenarnya iba, sekaligus miris. Bagaimana tidak, baru saja satu bulan dilantik, sudah kena masalah. Masalahnya narkoba pula, pasti Pak Mawardi syok berat saat ini,” ungkapnya.

Lanjut Sumiati, ia terakhir melihat Mawardi Yahya, ayahanda Ofi sekitar 2 minggu lalu, di acara hajatan salah satu warga sekitar, sebelum penangkapan terjadi. ”Ketemu sama bapaknya Ofi (Mawardi Yahya) itu sekitar 2 pekan lalu, di kondangan. Saat itu, ia (Mawardi Yahya) tampak sehat dan segar, serta tampak berbincang dengan warga sekitar selama acara berlangsung,” jelasnya.

Sumiati berharap agar ayahanda Ofi, Mawardi Yahya dapat diberi kesabaran menjalani cobaan menimpa keluarganya. ”Kami cuma bisa berdoa, agar Pak Mawardi diberi kesabaran dan kesehatan, hingga masalah anaknya selasai,” tukasnya.

Pascapenangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN (4)
Advokat Febuar Rahman SH MH, memberikan statemen terkait penangkapan sang Bupati OI AW Nofiadi alias Ofi. Foto Poetra/Palembang Pos

Beragamnya pemberitaan Bupati OI AW Nofiadi alias Ofi, yang diamankan BNN karena kasus narkoba di media massa, dinilai kuasa hukum berlebihan. Bahkan, penasehat hukum sang bupati, menilai sangat merugikan dan menyudutkan Ofi, yang hingga saat ini masih jadi terperiksa.

Usai mendapampingi kliennya (terdakwa kasus lain,red) menjalani persidangan di PN Klas 1A Khusus Tipikor Palembang, pria tinggi dengan kacamata hitamnya itu, nampak bergegas menuju mobil sedan berwarna merah yang berada di parkiran.

Namun langkah pria yang diketahui adalah advokad Febuar Rahman SH MH, yang juga kuasa hukum Bupati Ogan Ilir (OI) AW Nofiadi itu, dengan sigap langsung dihentikan para jurnalis yang baru saja melakukan tugas peliputan sidang KPK. ”Kak, apa kabar AW Nofiadi,” tanya salah satu wartawan di tengah kerumunan wartawan lainnya.

Sorot kamera dan alat perekam serta handphone para wartawan, sontak mengarah langsung pada Febuar. Wartawan menanti jawaban sang pengacara kondang itu. ”Sebentar saja ya, saya buru-buru,” balas Febuar pada rekan wartawan yang memburu jawabannya.

Menurut Febuar, saat ini kondisi Ofi dalam keadaan sehat walafiat, dan tidak berada di dalam sel tahanan, melainkan didalam salah satu ruangan pemeriksaan, di Gedung BNN Pusat, di Jakarta. ”Bupati (Ofi) sehat, dia saat ini masih berada di dalam salah satu ruangan pemeriksaan di BNN Pusat, dan belum sama sekali ditahan, apalagi di sel,” jelas Febuar.

Febuar mengungkapkan, dirinya sangat kecewa pada BNN, serta pemberitaan yang beredar di media massa saat ini.Bahkan, Febuar menilai hal tersebut sangatlah berlebihan, dan menyudutkan Ofi. “BNN jangan berlebihan. Seperti bilang PLN memadamkan listrik pada saat itu, sangat tidak benar. Tidak segitu juga kekuasaan seorang bupati yang bisa memerintahkan bisa memadamkan listrik,” ujarnya.

Foto Alhadi Palpres
Dok:Pelpres. ist/net

Febuar mengatakan, saat ini status AW Nofiadi masih sebagai terperiksa, dan belum ada barang bukti narkoba. Sehingga belum bisa dipastikan sebagai tersangka atas kasus narkoba. “Saya kira apa yang dilakukan BNN berlebihan. Ini perkara narkoba, bukan perkara maling yang harus digeledah berapa kali. Apalagi memang tidak ditemukan narkoba,” ujarnya.

Terkait adanya pemberitaan atau statemen yang dikeluarkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Panjaitan, yang menganggap kliennya pengedar, Febuar mengatakan, pihak-pihak lain jangan juga berlebihan. Apalagi suasana saat ini bisa dikatakan masih dalam suasana pilkada.

“Cak tau-tau (sok tahu), berlebihan sekali statemen itu. Tahu sendiri tidak ada barang bukti, kenapa dikatakan pengedar. Saya tegaskan tidak ada itu pesta narkoba. Barangnya saja tidak ditemukan,” ujarnya.

Sedangkan terkait dengan kondisi mantan Bupati OI Mawardi Yahya sebagai orang tua Ofi, Febuar mengatakan, tentunya pihak keluarga sangat terpukul, dan syok dengan beragam pemberitaan yang terlalu menyudutkan dan dinilai ngawur itu.

“Beliau (Mawardi Yahya) kondisinya sehat. Pastinya sebagai orang tua merasa syok melihat anaknya (Ofi). Kembali saya tegaskan, klien kami (Bupati OI) kondisinya saat ini sehat dan tidak ditahan. Klien kami berada di dalam ruangan dan statusnya masih sebagai terperiksa. Nanti kita tunggu saja selanjutnya,” tukasnya.

Pascapenangkapan Bupati OI AW Nofiadi Mawardi oleh BNN (5)
Anggita Moran.

Pasca ditangkapnya Bupati OI AW Nofiadi oleh BNN, di kediaman orang tuanya Mawardi Yahya, di Jalan Musyawarah, RT 26/05, Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Gandus, jelas mengguncang rencana pernikahan Ofi. Ofi diketahui akan mempersunting pujaan hatinya Anggita Moran sebagai istrinya.

Rumah bercat kuning dengan pagar hitam, yang berdiri di kawasan perumahan rakyat, Jalan Letnan Murod, RT 10, No 26, Kelurahan 20 Ilir DIV, Kecamatan Ilir Timur (IT) I itu, seakan menggambarkan perasaan sedih, dan gundah gulana penghuninya. Bagaimana tidak, rumah yang ditinggali keluarga Zakaria, kakek Anggita Moran, calon istri AW Nofiadi alias Ofi, Bupati Ogan Ilir yang tersandung kasus narkoba itu, nampak sunyi dan tak berpenghuni.

Jangankan pintu rumah, pagar yang terletak di pinggiran jalan pembatas rumah tersebut, juga terkunci rapat, dan gelap. ”Orangnya mungkin tidak di rumah Mas,” terang salah satu warga sekitar yang juga tinggal tak jauh dari rumah Anggik, sapaan akrab Anggita Moran, yang juga saudara kandung Anggak ini.

Menurut narasumber yang enggan disebut namanya, dirinya sangat kenal dengan sosok Anggita Moran, calon istri Ofi. Bahkan saat kecil dulu mereka adalah teman sepermainan. ”Anggik (Anggita Moran). Ya saya kenal, dia itu teman SD saya, orangnya pintar dan ramah,” ujar wanita yang mengaku teman sekelas Anggik sewaktu SD di salah satu SDN tak jauh dari tempat tinggal mereka itu.

Namun, menyangkut Anggik sebagai tunangan Ofi, dirinya kurang mengetahuinya. ”Saya enggak nyangka dia itu calon istri bupati, akrab dulu waktu kecil. Tapi sekarang kan sudah jarang ketemu, makanya kurang tau,” terang wanita berambut panjang ini.

Narasumber ini pun mengaku ikut prihatin atas apa yang menimpa Ofi, tunangan Anggik. ”Saya berharap Anggik bisa sabar menghadapi ujiannya, karena saya tau dia anaknya baik. Saya kasihan sekali, semoga semuanya cepat berlalu, dan diberi kemudahan,” terangnya.

Ditambahkannya, terakhir yang didengar infonya Anggik yang sempat bekerja di Bank BJB itu, akan melangsungkan pernikahan April 2016 mendatang. ”Info dari teman-teman, Anggik mau nikah April mendatang. Tapi saya kurang tau pasti, karena sudah hampir 5 tahun tak bertatap langsung dengan wanita cantik berkulit putih (Anggik) itu,” tukasnya. (**/habis)

Mundur dari BJB, Anggita Sulit Ditemui

Mundur dari BJB, Anggita Sulit Ditemui
AW Nofiadi, bersama Anggita Moran. Foto Ist

Keberadaan Anggita Moran, yang disebut-sebut sebagai calon istri Bupati Ogan Ilir (OI) Ahmad Wazir (AW) Nofiadi alias Ofi, yang diringkus BNN Pusat ini, sulit ditemui. Bahkan ketika ditemui di tempatnya bekerja, Anggita didapatkan telah berhenti sejak Jumat lalu (11/3).

Ketika wartawan Palembang Pos mencoba mendatangi kantor cabang Bank Jawa Barat (BJB) di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, seorang satpam menyatakan Anggita berada di dalam kantor BJB itu. Namun setelah wartawan menemui resepsionis BJB menyatakan bahwa Anggita telah berhenti.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Bank BJB Ahmad Irfan, membenarkan Anggita Moran merupakan karyawan Bank BJB sejak akhir 2015 lalu. ‘’Tapi dia sudah mengundurkan diri, dan sudah tidak bekerja lagi sejak Jumat (11/3) baru ini,” katanya.

Diketahuinya, pengunduran diri Anggita karena alasan akan menikah. Namun dia mengaku tidak begitu mengetahui akan tepatnya alasan mantan karyawannya itu berhenti. ‘’Kita ketahui dia akan menikah. Hanya itu saja, lebih lanjutnya kita tidak mengetahunya,” tegas Ahmad.

Dilihat dari akun Facebook dan Intagramnya, Anggita merupakan lulusan Universitas Sriwijaya dan mulai bekerja di Bank BJB sejak 17 Desember 2015 lalu. Sebelumnya, gadis berambut panjang ini bekerja di Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak 2012 lalu.

Rekan kerja Anggita semasa di Bank BJB dan BRI tidak begitu banyak berbicara. “Kami belum cukup mengenal Anggita dari sisi keluarganya. Namun dia (Anggita,red) wanita lembut yang ramah, dan tidak terlalu banyak bicara masalah percintaannya. Bahkan tentang hubungannya bersama sang bupati,” tandas salah satu mantan rekanan kerja Anggita yang enggan menyebutkan namanya.

Warga OI Kecewa

Sementara itu, kekecewaan warga Ogan Ilir (OI) pasca penangkapan bupati yang baru saja dilantik Ofi oleh Tim BNN di kediamannya, warga berharap adanya kejelasan akan kasus yang mencoreng warga OI itu. Surya (59), warga Ogan Ilir menyatakan kekecewaannya terhadap penangkapan bupati OI yang terjadi kemarin malam (13/3) di kediamannya.

“Kami warga sangat kecewa, baru saja diagung-agungkan memiliki bupati muda berprestasi, ternyata seorang pemakai narkoba,” ujarnya. Dia menambahkan, daerah tidak akan bisa berhasil jika dipimpin seorang pemakai Narkoba jenis apapun. “Bisa habis uang APBD digunakan beli narkoba,” paparnya.

Seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Ogan Ilir Lidia juga menyatakan kekecewaannya terhadap prilaku bupati yang baru diketahui semua masyarakat Indonesia. “Kita juga kaget ketika mendengar berita di televise, dan membaca surat kabar. Kenapa bisa lolos dia menjadi Bupati, bukannya ada tes kesehatan terlebih dahulu sebelum mencalonkan diri sebagai bupati,” tuturnya.

Penulis:Poetra, Agus, Nik

Sumber:Palpos

Posted by: Amrizal Aroni