JAKARTA– Menyadari sepak terjangnya pasti dipantau publik maupun oleh kompetitor politknya, Meneg BUMN Dahlan Iskan, pagi – pagi sudah menyiapkan tangkisan – tangkisannya.
Ketika Dahlan diwawancarai oleh Komite Konvensi dalam sesi perkenalan serta penyampaian visi dan misinya pada tahap prakonvensi di Wisma Kodel, Jakarta, Jumat (29/08) lalu, dia berjanji takkan menggunakan jaringan media yang ada dalam Group Jawa Pos, untuk kepentingannya memenangkan Konvensi Capres Partai Demokrat (PD).
Pada hari Senin tanggal 16 September yang lalu, sejak jam 05.00 di pagi buta wartawan mendampingi Dahlan Iskan melakukan senam pagi di lapangan tugu Monas, Gambir, Jakarta Pusat.
Bergabung dalam mobil sang menteri dari kediamannya di bilangan Semanggi, sudah terasa Dahlan Iskan masih Dahlan yang dulu.
“Silakan mau duduk dimana, kanan atau kiri. Kalau saya dimana saja sama. Biasanya saya duduk di depan, tapi karena sekarang nyonya ikut, ya dia di depan”, katanya. Yang duduk di depan dekat sopir adalah nyonya Dahlan Iskan pagi itu.
Ketika baru saja tiba di halaman Monas yang masih gelap gulita, tiba – tiba ada serombongan orang mencegat mobilnya. Dahlan Iskan memerintahkan sopir berhenti. Kordinator senam pagi mendekat. Dahlan membuka jendela, orang itu ngomong, “pak itu ada artis sinetron cilik kepingin berkenalan dengan bapak”.
Spontan Dahlan menjawab, “Ok”, lalu dia membuka pintu dan turun bergabung dengan ayah dan ibu pemain sinetron cilik itu. Rupanya seorang gadis kecil umur 10 tahun. Dahlan dengan ramah menyapa mereka dan memilih jalan kaki menuju tempat senam di dekat kaki tugu Monas.
Meneg BUMN itu memilih berbaur sambil jalan kaki, padahal jaraknya masih 1- 2 KM lagi. Sang anak langsung disalami, dengan ramah dia mengajak anak kecil itu bercanda dan bergandengan tangan menuju tempat latihan. Nyonya Dahlan Iskan yang sudah mengerti perilaku suaminya itu pun ikut melenggang dengan santai dari belakang.
Sebelum sampai di lokasi, sejumlah peserta senam yang sudah akrab dengan Dahlan menyambut gembira. Sambil jalan dia mewawancarai anak perempuan itu. “Ehh kamu pernah nggak baca di koran atau lihat di televisi, ada Capres namanya Dahlan Iskan?”. Anak kecil itu menjawab spontan, “pernah, kan bapak orangnya”. Dahlan terkekeh mendengar suara jujur anak kecil itu.
Rupanya komunitas kelompok senam pagi Dahlan di Monas mayoritas orang Tionghoa. Dahlan tanpa ragu – ragu langsung bercengkerama memakai bahasa Cina.
Dalam perjalanan menuju lokasi di Monas, wartawan sempat ngomong – ngomong santai dengan mantan wartawan majalah Tempo itu, yang sudah dikenal sejak tahun 1973.
WARTAWAN (WT) : Saya minta penjelasan, apa benar anda tidak akan menggunakan jaringan media Jawapos Group untuk mengkampanyekan diri anda sebagai peserta Konvensi Capres Demokrat?
Dahlan Iskan (DI) : Oohh itu ya. Ya iyalah. Saya harus bermain fair. Tidak memanfaatkan jaringan teman – teman di Jawa Pos Group untuk mendukung saya.
WT : Tapi terlihat banyak iklan berinisial “DI” di hampir semua koran jaringan Jawapos Group? DI itu meski artinya “Demi Indonesia”, tapi inisial itu sama dengan inisial nama anda?
DI : Oohh itu relawan. Bukan tim sukses. Itu kesadaran mereka sendiri. Nggak saya suruh – suruh tuh.
WT : Bagaimana ceritanya dengan manuver anda, kok bisa-bisanya jadi bintang iklan dan main sinetron.
DI : Lhoo bagi saya itu sih biasa – biasa saja. Nggak ada hubungannya dengan pencapresan. Itu hobbi pribadi. Ada yang ngajak ya saya ikut, yang penting ndak ngganggu pekerjaan pokok saya sebagai menteri.
WT : Ok, bagaimana dengan soal iklan tolak angin, katanya ada ceita yang lucu?
DI : Iya itu, gini, gini, yang punya perusahaan itu saya tanyain. Ehh kamu itu pasang aku jadi bintang iklan, apa sudah kamu sadari, itu pasti ada pro dan kontra. Lhaa, kalau ada orang yang tidak suka sama aku, misalnya, terus mereka tidak mau membeli prouduksi kamu, itu lantas gimana. Soalnya, di dunia ini pasti ada yang suka ada yang tidak suka.
WT : Terus apa jawabnya?
DI : Yang punya pabrik bilang, ahh nggak apa – apa kok pak. Kami juga sudah hitung resikonya. Kalau ada resikonya ya ditanggunglah pak.
Dahlan Iskan melakukan senam satu jam lebih. Beberapa lagu pengiring nampaknya sudah diciptakan khusus dengan irama lincah dan dinamis.
Akan tetapi, rasanya syairnya berulang kali menyebut nama Dahlan Iskan sebagai sosok pemimpin Indonesia. Suka kerja keras. Pantang menyerah. Isinya menyiratkan “pemasaran” sosok Dahlan Iskan kepada publik.
Selesai senam pagi, wartawan berpisah dengan Dahlan Iskan. Masih sangat kental melekat latar belakangnya sebagai wartawan, yang anti formil-formilan dan tidak suka protokoler.
Itulah yang menjelaskan, mengapa Dahlan Iskan menjadi beda dengan menteri – menteri yang lain. Kebanyakan masih ngotot memelihara “protokoler” dan menyukai kerumunan ajudan.
Setelah berjabat tangan dan saling melambai, mobil Dahlan meluncur ke tengah jantung ibukota yang mulai padat merayap pagi itu.
Dahlan Iskan nampaknya lebih menyukai kampanye kultural : main sinetron, bintang iklan dan senam pagi bersama rakyat biasa.
Dia lebih memilih terjun langsung ke tengah masyarakat umum dan lebur ke dalamnya.
Tidak ada jarak antara menteri dengan rakyat biasa. (baratamedia)
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi
