Indonesia Harus Tegakkan Kedaulatan Pangan dan Energi

Peserta debat terbuka antara capres dari Konvensi Rakyat dan Konvensi Demokrat, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Isran Noor, Rizal Ramli, Gita Wirjawan, Anies Baswedan, dan Ali Masykur Musa (kanan ke kiri) berfoto bersama, di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Jakarta Pusat, Jumat (7/3/2014). Debat ini terselenggara atas Serial Seminar Dewan Guru Besar UI dengan tema Indonesia Menjawab Tantangan: Kepemimpinan Menuju Bangsa Pemenang. TRIBUNNEWS/HERUDIN

Peserta debat terbuka antara capres dari Konvensi Rakyat dan Konvensi Demokrat, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Isran Noor, Rizal Ramli, Gita Wirjawan, Anies Baswedan, dan Ali Masykur Musa (kanan ke kiri) berfoto bersama, di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Jakarta Pusat, Jumat (7/3/2014). Debat ini terselenggara atas Serial Seminar Dewan Guru Besar UI dengan tema Indonesia Menjawab Tantangan: Kepemimpinan Menuju Bangsa Pemenang. TRIBUNNEWS/HERUDIN

 

TRANSFOMASINEWS.COM, JAKARTA – Masalah kedaulatan dan kemandirian sektor pangan dan energi dinilai merupakan masalah penting yang harus menjadi perhatian pemimpin negara periode mendatang. Selain itu, penegakan hukum juga harus dilaksakan secara tegas dan konsisten.

Menurut Capres Konvensi Rakyat Isran Noor, sebenarnya tidak sulit untuk mencapai kedaulatan dan ketahanan pangan serta energi, karena Indonesia memiliki potensi yang besar.

Dia ambil contoh, saat ini ada 42 juta hektar lahan tersedia.

“Kalau dari jumlah itu, 60 persen digunakan produksi, mampu menyerap sekitar 35 juta tenaga kerja. Kalau dari satu tenaga kerja membiayai 1 istri dan 2 anak, maka 105 juta orang tercukupi,” kata Isran dalam acara Debat Capres dengan tema “Masalah Ekonomi, Kesejahteraan Rakyat, dan Penegakan Hukum”, di Jakarta, Jumat (7/3/2014).

Acara tersebut menghadirkan Capres Konvensi Rakyat yakni Isran Noor, Yusril Ihza Mahendra, dan Rizal Ramli, serta Capres Konvensi Partai Demokrat, Anies Baswedan, Gita Wirjawan, dan Ali Masykur.

Isran yang juga Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini, pada masa lalu Indonesia juga pernah mengalami swasembada beras. Karenanya, dia optimistis ke depan Indonesia masih bisa mengulang masa kejayaan tersebut.

“Banyak lahan menganggur, khususnya di luar Jawa. Kita optimalkan lahan itu, dan ditanam sesuai dengan jenis tanaman yang cocok. Kalau ada komoditas yang tidak bisa ditanam, barulah kita impor,” katanya.

Dia menyesalkan bahwa selama ini Indonesia inginnya cepat hasil, tanpa mau berproses.

“Harusnya, optimalkan dulu potensi yang ada, jangan sebentar impor,” ujarnya.

Sementara itu, masalah kedaulatan dan ketahanan energi juga bisa diraih, mengingat Indonesia memiliki potensi energi yang berlimpah.

“Selama ini kita terlalu fokus pada energi fosil. Padahal kita punya banyak potensi energi terbarukan, seperti panas bumi yang mencapai 40 persen dari potensi dunia, ada angin, matahari, dan lainnya. Ini yang belum dimanfaatkaan maksimal,” ujarnya.

Menurut dia, untuk menarik investor, harus diciptakan iklim usaha yang kondusif.

Sementara itu, capres lain seperti Rizal Ramli mengungkapkan pentingnya pricing policy yang melindungi petani, Ali Masykur menekankan pentingnya keberadaan subsidi, dan Anis Baswedan sepakat dengan Gita Wirjawan bahwa ke depan para menteri khususnya yang menangani pertanian harus merupakan orang yang memiliki kompetensi di bidangnya, dan bukan dari kalangan parpol. (TRIBUNNEWS.COM)

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
TransformasiNews.com @ 2016