RMOLSUMSEL
TRANSFORMASINEWS, BATURAJA. Pembahasan masalah korupsi menjadi topik yang cukup menajam di acara debat kandidat Calon Bupati (Cabup) – Calon Wakil Bupati (Cawabup) Ogan Komering Ulu (OKU), dalam sesi menanggapi pertanyaan antar kandidat, di gedung Kesenian Baturaja, Rabu (11/11).
Itu terjadi manakala kandidat Cawabup nomor urut 2 HM Nasir Agun bertanya pada cawabup nomor urut 1 Johan Anuar terkait pandangan Johan terhadap kasus-kasus korupsi yang terjadi Ogan Komering Ulu (OKU).
Menanggapi pertanyaan itu, Johan menjawab bahwa sebagai aparatur pemerintah sudah semestinya mematuhi aturan yang ada dan tidak terjebak dalam kasus hukum.
Entah apakah karena merasa dirasa, Johan pun langsung menjawab soal kasus Taman Pemakaman Umum (TPU) yang saat ini masih mendera dia sebagai saksi.
“Khususnya masalah TPU, saya dimintai keterangan sebagai saksi dan tidak ada kaitan dengan Pilkada. Jadi mari kita menunggu proses hukumnya,” singkat dia.
Sementara, H Kuryana Aziz, ikut menanggapi pertanyaan itu. Dimana menurut Kuryana, bahwa korupsi sudah umum terjadi. Bukan lagi menjadi fenomena baru. Dimana-mana di Indonesia ini kata dia, ada korupsi, tidak hanya di OKU.
“Korupsi ini bukan fenomena lagi, sudah kronis. Bukan hanya di OKU, semua daerah dari Papua hingga Aceh ada korupsi,” ujarnya.
Tapi lanjut Kuryana, perlu diketahui bahwa itu perilaku dari individu individu/ perorangan.
“Korupsi itu larinya maling. Kembali pada invidu-individunya, bukan menuduh pemerintahannya. Terus terang, tuduhan ke saya banyak. Tapi selama saya menjabat, alhamdulillah tidak terjadi di saya,” katanya.
Ia pun berharap, jika terpilih kelak pemerintahannya tidak terjebak dalam korupsi dan hal hal negatif macam itu.
“Kita lihat mental dan karakter. Kalau saya Insya Allah tidak akan. Karena saya tahu itu salah,” tandas dia.
Sementara itu, Hj Percha Cabup nomor urut 2 kembali menanggapi soal korupsi tadi.
Kata dia, bagaimana menambahkan membersihkan lantai kalau sapunya saja tidak bersih. Karena korupsi ini berujung pada krisis kepercayaan masyarakat. Sedangkan kepercayaan itu sendiri penting.
“Kasus korupsi, masalah lingkungan dan pelayanan publik di OKU tidak ada kata lain dengan cara OKU Bangkit. Perubahan ini mesti dilakukan,” ucap Percha dalam closing statemennya.
Acara yang berlangsung hampir dua jam lebih itu (mulai pukul 09.00 – 11.30 wib) cukup menarik karena tiga panelis yang berasal dari kalangan akedemisi memberikan pertanyaan secara beragam sehingga masing-masing pasangan dapat memberikan penjelasan secara detail.
Tak jarang mereka mendapatkan aplaus dari para pendukungnya yang ikut menghadiri secara langsung.
Adapun tiga panelis yang dihadirkan panitia, semuanya akademisi dari Unsri. Mereka itu, Prof Dr Taufiq Marwa, Dr Ridwan, Dr Andries Lionardo. Sedangkan moderator Dr Ardiyan Saptawan.
“Alhamdulilah acara ini berjalan sukses. Kita bersyukur Paslon nomor satu dan dua sangat santun, ramah pada penonton, dan tidak memancing situasi. Ini menjadi kerangka positif bagi kami, mudah-mudahan sampai tanggal 9 Desember mendatang,” ujar Ketua KPU OKU, Naning Wijaya dibincangi usai debat tadi.
Laporan: Muhammad Wiwin
Sumber:RMOL/rhd
Posted by: Amrizal Aroni
TransformasiNews Integritas, Dinamika dan Demokrasi