Wamenkeu: Tiga Game Changer Adalah Pondasi Dasar Pemulihan

TRANSFORMASINEWS.COM, JAKARTA

Tiga game changer untuk penanganan Covid-19 pada tahun 2021 menjadi salah satu dasar pemikiran Pemerintah dalam menyusun desain kebijakan RAPBN Tahun 2022. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara saat memberikan keynote speech secara virtual pada acara “Webinar Book Discussions Intersecting: Suistainable Ways to Implement Post Covid-19 Recovery”, Kamis (20/05).

“Kalau anda bertanya kepada saya bagaimana strategi pasca covid untuk pemulihannya. Saya benar-benar berpikir ada pada ketiganya. Game changer ini akan menjadi fondasi dasar dari program pemulihan kita yaitu intervensi kesehatan, survival and recovery kit dan reformasi struktural,” jelas Wamenkeu.

Fokus kebijakan fiskal tahun 2022 adalah pemulihan ekonomi dan melaksanakan reformasi struktural untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Wamenkeu mengatakan, Pemerintah sudah menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN tahun 2022 kepada parlemen melalui sidang paripurna DPR RI.

Kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2022 itu di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkisar antara 5,2-5,8%, inflasi sekitar 3,0-3,1%, suku bunga SUN 10 tahun 6,32-7,27%, nilai tukar antara Rp13.900-Rp15.000 per US$; harga minyak antara US$55 hingga US$65 per barel dengan lifting antara 686-726 ribu barel per hari. Dan lifting gas bumi 1.031-1,103 barel perhari ekuivalen minyak.

“Sekarang yang sangat penting bagi perekonomian adalah memastikan bahwa kita memiliki keseimbangan. Setelah APBN bekerja sangat keras untuk menjadi penopang pertumbuhan ekonomi, pada titik tertentu kita harus melakukan konsolidasi fiskal,” lanjut Wamenkeu.

APBN telah bekerja keras menahan dampak Covid-19 selama dua tahun berturut-turut sehingga harus kembali disehatkan agar tetap berdaya tahan dan berkelanjutan, guna menstimulasi perekonomian dan mewujudkan kesejahteraan. Tahun 2022 menjadi fondasi konsolidasi dan reformasi. Konsolidasi fiskal diarahkan untuk menyehatkan makro fiskal dalam rangka akselerasi pemulihan dan reformasi struktural.

Wamenkeu menambahkan, karena untuk penanganan pandemi Covid-19 defisit APBN tahun lalu dan tahun ini mengalami pelebaran yang cukup besar, maka pada titik tertentu Indonesia harus memastikan bahwa APBN bisa kembali sehat melalui konsolidasi fiskal.

“Dan untuk konsolidasi fiskal ini, kita harus melakukan reformasi pada pendapatan, reformasi belanja, dan reformasi dalam strategi pembiayaan. Ketiganya sekarang menjadi fokus yang sangat penting bagi kami di Kementerian Keuangan,” tutup Wamenkeu.

Kemenkeu

About B S W

"Orang yang mengerti itu mudah untuk memaafkan" by B431

View all posts by B S W →