Tertangkap Ijon Proyek Bupati Banyuasin Urung Berhaji

yan-anton-f
Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian berjalan usai diperiksa KPK, Jakarta, Senin (5/9). Yan Anton Ferdian terjerat kasus suap senilai Rp1 miliar dari CV. PP yang ia gunakan untuk naik haji bersama istrinya. (ANTARA)

TRANSFORMASINEWS.COM, JAKARTA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi telah menetapkan Bupati Banyuasin, Sumatera Selatan Yan Anton Ferdian (YAF) sebagai tersangka kasus suap ijon proyek Dinas Pendidikan. Setelah sebelumnya ia terjaring operasi tangkap tangan lembaga antirasuah tersebut, Minggu (5/9).

Bersama Yan, juga telah ditetapkan Rustami(RUS) Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuasin dan Sutaryo (STY) Kasie Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin sebagai tersangka.

Selain itu KPK juga menetapkan tersangka terhadap Umar Usman (UU) selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin dan dua orang pihak swasta yaitu, Kirman (K) yang berperan sebagai perantara atau pun pengepul uang suap untuk Bupati Yan. Mereka dikategorikan sebagai penerima suap.

“Kepada penerima: YAF, RUS, UU, dan K, dan STY disangkakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 UU Nomor 31/99 yang diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di kantornya, Senin (6/9).

Sedangkan pemberi suap adalah Direktur CV Putra Pratama (PP) Zulfikar Muharrami (ZM). Ia dijerat Pasal 5 Ayat (1) huruf b dan atau Pasal 13 UU Nomor 31/99 yang telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Tipikor.

Basaria menjelaskan, uang suap yang diberikan kepada Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian nilainya mencapai Rp1 miliar. Pemberian itu terkait ijon proyek yang rencananya digarap oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.

Jadi menurut Basaria, proyek itu memang belum ada. Tetapi Yan meminta uang melalui Kasubag Rumah Tangga Rustami yang kemudian diteruskan lagi kepada Umar Usman dan juga Sutaryo yang sumber uangnya diberikan oleh Zulfikar.

“YAF ini tahu betul, di sana akan ada beberapa proyek dan mengetahui dia bisa dapatkan dana dari proyek tersebut. Ini semacam ijon,” terang Basaria.

NAIK HAJI DENGAN UANG KORUPSI – Ada hal menarik yang diungkap Basaria terkait kasus ini. Menurutnya, sebagian uang suap yang diberikan Zulfikar digunakan oleh Yan untuk berangkat haji dengan istrinya Tita. Uang tersebut disetorkan melalui Kirman kepada sebuah biro perjalanan haji.

“Dari tangan K (Kirman) pengepul di sita setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji yakni PT TB (Turisina Buana) sebesar Rp531,6 juta untuk berdua, suami-istri. Diduga pemberian untuk fasilitas biaya haji itu dari ZM itu,” terang Basaria.

Sedangkan sisanya terdiri dari dua pecahan mata uang yaitu Rp299,8 juta dan US$11.200 (setara dengan Rp150 juta) disita dari rumah Yan. Kemudian dalam proses penggeledahan di rumah Sutaryo ditemukan Rp50 juta yang merupakan imbalan sebagai perantara.

Yan juga ditangkap tim KPK seusai menggelar walimatus safar atau pengajian untuk keberangkatan ke Mekah, Arab Saudi, di rumah dinasnya. Ia dan istrinya memang berencana melaksanakan ibadah haji pada 6-22 September 2016 mendatang.

“Jadi dalam hal ini KPK menunggu dulu sampai selesainya acara (baru ditangkap),” ungkap Basaria.

Sebelum melakukan penangkapan terhadap Yan, KPK lebih dulu melakukan penangkapan kepada Kirman yang merupakan pengepul sekaligus orang kepercayaan Yan pada Minggu (4/9) sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah itu tim bergerak menangkap Sutaryo di kediamannya sekitar pukul 09.00 WIB.

“Setelah itu tim bergerak mengamankan tiga orang yaitu Bupati YAF, RUS Kasubag, dan UU Kadisdik. Ini dilakukan di rumah dinas bupati,” jelas Basaria.

DITAHAN DI LOKASI TERPISAH – Sementara itu usai melakukan pemeriksaan intensif kepada enam tersangka penyidik memutuskan untuk melakukan upaya penahanan. Pelaksana harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan upaya penahanan dilakukan dalam rangka proses penyidikan.

“Untuk kepentingan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi suap kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan proses perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan proyek pengadaan barang dan jasa di Dinas Pendidikan dan dinas-dinas lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuasin, penyidik KPK menahan keenam tersangka,” terang Yuyuk

“Keenam tersangka ditahan untuk 20 hari ke depan terhitung mulai hari ini di beberapa Rumah Tahanan (Rutan) berbeda,” sambungnya.

Untuk Zainuddin dititipkan di Rutan Salemba, Jakarta Pusat dan Yan ditahan di Rutan Militer Pomdan Jaya, Guntur, Jakarta Selatan. Sedangkan untuk Umar Usman ditempatkan di Rutan Polres Jakarta Pusat dan Rustami di Polres Jakarta Timur.

“Tersangka STY (Sutaryo) di Rutan Kelas I Cipinang Jakarta Timur dan tersangka K (Kirman) di Rutan Kelas I Salemba Jakarta Pusat,” ujar Yuyuk.

Reporter : Aji Prasetyo

Redaktur : Ramidi 

Sumber: Gresnews.com

Posted by Admin Transformasinews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.