Sidang Dugaan Korupsi Kredit Modal Kerja, Saksi Ahli: Ada Penyimpangan Anggaran di Bank Sumsel Babel

Auditor BPKP Sumsel, Anton Junaidi SE MM saat memberikan keterangan sebagai saksi ahli di persidangan. (foto-dedy/koransn)

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG – Ada penyimpangan anggaran di Bank Sumsel Babel (BSB) dalam penyaluran kredit modal kerja kerja (KMK) ke PT Gatramas Internusa tahun 2014 menjadi dasar Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumsel melakukan audit kerugian negara.

Demikian dikatakan Auditor BPKP Sumsel, Anton Junaidi SE MM, Kamis (19/12/2019) saat menjadi saksi ahli yang dihadirkan Jaksa Penutut Umum (JPU) Kejati Sumsel dalam sidang dugaan korupsi KMK Bank Sumsel Babel, dengan terdakwa Ir Augustinus Judianto selaku Komisaris PT Gatramas Internusa di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang.

Di persidangan Anton Junaidi mengatakan, audit yang dilakukan pihaknya dalam dugaan kasus ini bermula dari permintaan Jaksa Penyidik Kejati Sumsel pada Februari 2019, yang kemudian ditindaklanjuti dengan ekspos bersama Jaksa Penyidik Kejati Sumsel.

“Dari hasil ekspose inilah terungkap adanya indikasi penyimpangan anggaran di Bank Sumsel Babel dalam penyaluran kredit modal kerja ke PT Gatramas Internusa,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, setelah digelar ekspose tersebut barulah pihaknya melakukan Audit Tertentu yang tujuannya untuk menghitung kerugian negara terkait penyimpangan tersebut.

“Dalam audit ini kami meminta dokumen dari Jaksa Penyidik lalu kami analisa semua dokumen tersebut. Setelah itu kamipun memanggil pihak-pihak dari Bank Sumsel Babel untuk pemeriksaan. Bukan hanya itu, dalam audit tersebut kami juga memeriksa berkas pengajuan kredit PT Gatramas Internusa, rekening bank, agunan atau jaminan PT Gatramas Internusa hingga berkas persetujuan proses kredit dari Bank Sumsel Babel,” paparnya.

Dijelaskannya, dari pemeriksaan yang dilakukan ditahapan audit tersebut awalnya pihaknya mengetahui jika nilai kredit PT Gatramas Internusa yang diterima dari Bank Sumsel Babel, yakni sebesar Rp .15 miliar yang disalurkan atas proyek pekerjaan yang dikerjakan PT Gatramas Internusa di PT Pusri, berdasarkan kontrak dari kontraktornya yakni PT Rekind (Rekayasa Industri).

“Kemudian dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan pada agunan atau jaminan PT Gatramas Internusa ke Bank Sumsel Babel, kami menemukan jika nominal nilai mesin pengebor minyak yang diagunkan bukanlah nilai yang sebenarnya. Namun nilai agunan tersebut ternyata jumlah nominalnya dibesarkan. Selain itu, pembayaran hasil pekerjaan proyek di PT Pusri yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa di PT Pusri dibayarkan PT Rekind
ke PT Gatramas Internusa tidak melalui rekening BSB,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakannya, hasil audit yang dilakukan pihaknya juga mengungkap jika pokok pinjaman kredit PT Gatramas Internusa ternyata tidak dibayarkan ke Bank Sumsel Babel atau kreditnya macet.

“Dalam dugaan kasus ini PT Gatramas Internusa hanya membayarkan sejumlah bunga terkait kredit tersebut saja. Dari tahapan audit yang telah kami lakukan tersebut maka terungkap jika dalam penyaluran kredit di BSB tersebut terjadi kerugian negara senilai Rp. 13, 5 miliar dari nilai kredit yang didapatkan PT Gatramas Internusa sebesar Rp. 15 miliar,” katanya.

Dilanjutkannya, fakta-fakta hasil audit yang dilakukan pihaknya tersebut kemudian dibuat ke dalam berkas laporan hasil audit kerugian negara.

“Setelah itu berkas laporan hasil audit kami serahkan kepada Jaksa Penyidik Kejati Sumsel,” tandasnya.

Dalam persidangan tersebut, Tim Jaksa Penutut Umum Kejati Sumsel yang diketuai oleh Adi Purnama juga membacakan BAP Direktur PT Gatramas Internusa, Hery Gunawan yang kini telah meninggal dunia.

Dikatakan Jaksa Penutut Umum, jika BAP yang dibacakan hasil pemeriksaan Hery Gunawan sebelum meninggal dunia saat diperiksa sebagai saksi dalam dugaan kasus ini di Kejati Sumsel.

“Adapun dari BAP ini, saksi Hery Gunawan membenarkan jika dirinya merupakan Direktur PT Gatramas Internusa dimana komisaris perusahaan yakni Augustinus Judianto (terdakwa). Saksi juga menjelaskan jika PT Gatramas Internusa mendapatkan kredit modal kerja dari BSB setelah mengajukan pengajuan terkait pekerjaan yang dilakukan PT Gatramas Internusa di PT Pusri Palembang,” kata JPU membacakan BAP saksi Hery Gunawan.

Masih dikatakan JPU, saksi Hery Gunawan juga mengaku dalam BAP jika tahapan pengajuan kredit hingga kredit dicarikan semuanya diketahui oleh Augustinus Judianto selaku Komisaris PT Gatramas Internusa.

“Namun dalam perusahaan PT Gatramas Internusa saksi Hery Gunawan mengaku jika ia hanya menandatangani berkas-berkas saja. Untuk yang mengatur keuangan perusahaan, yakni Augustinus Judianto selaku Komisaris,” terangnya.

Usai mendengarkan BAP saksi Hery Gunawan yang dibacakan oleh JPU, kemudian Ketua Majelis Hakim Erma Suharti SH MH menutup sidang dan akan kembali membuka sidang pada Senin 6 Januari 2020 mendatang.

“Sidang ditutup dan kembali dibuka Senin 6 Januari dengan agenda saksi meringankan dari kuasa hukum terdakwa, dan saksi ahli dari kuasa hukum terdakwa,” tutup Hakim.

Sumber: koransn.com (ded)

Posted by: Admin