Monorel Tak Banyak Bebaskan Lahan

MONOREL ILUSTRASI-NETTRANSFORMASINEWS. PALEMBANG. Untuk mendirikan 15 titik stasiun monorel yang telah direncanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel tidak akan banyak dilakukan pembebasan lahan. Pasalnya, titik-titik stasiun tersebut akan banyak terintegrasi dengan bangunan milik Pemerintah Kota Palembang dan milik Pemprov Sumsel.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Kadishubkominfo) Sumsel, Musni Wijaya, kepada wartawan mengatakan, ada beberapa aset-aset daerah yang dekat dengan pendirian stasiun bisa dikerjasamakan. Untuk beberapa stasiun lain yang tidak dengan aset pemerintah sekedar stasiun di atas badan jalan.

“Untuk pembebasan lahan karena untuk manuver tikungan kereta yang memerlukan areal lebih luas, dan itu hanya perlu pembebasan di beberapa tikungan saja. Tidak akan banyak untuk pembebasan tanahnya,” terangnya saat ditemui usai Rapat Pembahasan Pembangunan Monorel Sumsel, Ruang Rapat Setda Sumsel, Jumat (14/11).

Dia menambahkan, keberadaan monorel sebagai transportasi umum yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. Hal ini terkait adanya penelitian yang menyatakan Kota Palembang bakal mengalami kemacetan total pada 2019.

“Jadi yang ingin diwujudkan tahap awal ini yakni monorel dari Bandara SMB II menuju Masjid Agung sepanjang 15 km dan dari Masjid Agung menuju Jakabaring sekitar 10 km. Total ada sekitar 15 stasiun pemberhentian yang akan dibangun tanpa masinis, monorel ini direncanakan menggunakan tenaga baterai bukan listrik,” jelasnya.

Lintasan Monorel itu sendiri yaitu Koridor Pertama melewati antara Masjid Agung-Jakabaring-Lingkar Selatan. Koridor Dua, Jln Parameswara-Unsri Bukit Besar-Jln Kapten A Rivai-Jln Veteran-Jln Perintis Kemerdekaan-Jln RE Martadinata-Jln Mayor Zen.Koridor Tiga, di Jln Demang Lebar Daun-Jln Basuki Rahmat-Jln R Sukamto-Jln Residen Abdul Rozak-Jln Patal Pusri. Koridor Empat, Masjid Agung (Ampera)-Jl Jenderal Sudirman-Bandara SMB II.

Sumber: [RMOL]

Leave a Reply

Your email address will not be published.