Kredit Bank SumselBabel pada PT KP Berindikasi Rugikan Perusahaan?

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANGAnalisis persetujuan dan perpanjangan kredit kepada PT KP oleh Bank SumselBabel dianggap kurang menerapkan prinsip kehati-hatian yang berpotensi tidak tertagih sebesar Rp.57.900.000.000,00.

Pemberian fasilitas kredit kepada PT KP ini berdasarkan PK nomor 080/KP/II/PK.MK/2011 tanggal 26 Juni 2011 dengan jangka waktu selama 12 bulan, yaitu tanggal 28 Juni 2012 sampai dengan 27 Juni 2013.

Jangka waktu kredit telah diperpanjang beberapa kali, terakhir melalui addendum tanggal 13 Mei 2016 dengan masa perpanjangan sampai 26 Mei 2016. Outstanding kredit per 30 Juni 2017 adalah sebesar Rp.57.900.000.000,00.

Pihak terkait mengatakan, untuk mencegah potensi kerugian usaha atas sisa baki debet pinjaman sebesar Rp.57.900.000.000,00 telah dilakukan upaya, di antaranya dengan melakukan penagihan secara intensif, melakukan somasi kepada PT KP, mencari investor baru, dan melakukan eksekusi atas hak tanggungan apabila sampai bulan November 2017 debitur tidak dapat menyelesaikan kreditnya. Namun, informasi yang didapat media, pemeriksaan dokumen kredit PT KP diketahui patut diduga terdapat permasalahan, di antaranya:

a) Analisis kredit tidak menggunakan laporan keuangan yang diaudit.

Hasil pemeriksaan MPK dan dokumen pendukungnya diketahui bahwa analisis persetujuan kredit dilakukan berdasarkan laporan keuangan PT KP Tahun 2010 dan 2011 (sampai dengan bulan Mei 2011) yang belum diaudit oleh kantor akuntan publik (unaudited).

b) Analisis aspek ekonomi dan pemasaran debitur tidak memadai.

Hasil pemeriksaan Memorandum Analisa Kredit (MAK) dan dokumen terkait diketahui, asumsi yang digunakan dalam analisis perkembangan pembangunan properti menggunakan indikator kenaikan jumlah penduduk/jumlah rumah tangga dan pendapatan per kapita secara umum tidak spesifik ke pembeli potensial yaitu kalangan menengah ke atas, asumsi dalam analisis prospek produk berdasarkan data kualitatif yang umum yang tidak didukung dengan data kuantitatif terkait penjualan ruko di Palembang. Analisis potensi penerimaan pasar didasarkan atas data kebutuhan penduduk atas rumah tinggal tidak spesifik ke permintaan atau kebutuhan atas unit ruko.

Analisis penawaran dan persaingan tidak menyajikan perhitungan pengaruh persaingan terhadap penawaran produk, namun hanya menyajikan daftar developer anggota REI.

Serta analisis harga, analisis rencana penjualan, dan proyeksi habis (sold out) dalam kurun waktu dua tahun didasarkan atas harga penawaran produk dari developer dengan asumsi peningkatan harga tiap tahunnya atau setiap jumah penjualan.

Perhitungan tersebut tidak memperhitungkan faktor-faktor penawaran dan persaingan, kemampuan daya beli dari pembeli potensial, dan persaingan usaha properti.

c) Analisis atas Repayment Capacity tidak berdasarkan perhitungan yang realistis, di mana dalam analisis repayment capacity, sumber pengembalian kredit diharapkan berasal dari hasil penjualan ruko dan kavling yang diprediksi akan sold out selama dua tahun sejak PK atau sejak pencairan kredit.

d) Pelaksanaan addendum perpanjangan waktu tidak mempertimbangkan proyeksi pengembalian yang jelas, di mana telah dilaksanakan 14 kali perpanjangan waktu kredit. Dari 14 perpanjangan tersebut terdapat empat addendum perpanjangan yang tidak ditemukan dokumennya. Yaitu perpanjangan pada bulan Juni 2013, September 2013, Desember 2013, dan bulan Maret 2014.

Sumber:  klikanggaran.com

Posted by: Admin Transformasinews.com