Harapan Warga di HUT Kota Palembang Yang ke-1338

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG –

Palembang merupakan salah satu kota tertua di Bumi Nusantara, hal tersebut sebagaimana tertuang dalam prasasti kedukan bukit dan beberapa literatur (hasil riset ilmiah) yang menunjukkan Palembang sebagai ibu kota kerajaan Sriwijaya. Pada eranya Palembang mempunyai kekuatan besar yang tak tertandingi, baik secara politik maupun ekonomi di seluruh antero Asia Tenggara, tak anyal, wilayah kekuasaan Palembang di masanya disinyalir hingga ke Madagaskar.

Palembang yang kini menanjak usia ke-1338 tahun, merupakan sebuah anugerah Tuhan yang maha besar. Di balik bertambahnya usia kota, sebaiknya juga berbagai persoalan Palembang kekinian dan tahun-tahun berikutnya menjadi perhatian bagi mereka yang memimpin atau berniat menjadi pemimpin di Kota Palembang. Sebab, menjadi pemimpin merupakan tempat menaruh harap bagi warga kota terlebih dalam kondisi sulit yang diakibatkan oleh pandemi covid-19.

Di usianya yang semakin matang, publik berharap akan terjadi sebuah perubahan dan kemajuan pada Kota Palembang. Untuk itu, di sisa akhir masa jabatan dua periode kepemimpinan Palembang (Harnojoyo – Fitrianti Agustinda), warga kota mengantungkan harapan agar kondisi Palembang dapat terus mengalami perbaikan.

Permasalahan Kota

Palembang saat ini didera isu dan berbagai permasalahan yang sangat kompleks, seperti permasalahan kesehatan diakibatkan virus corona yang hingga kini telah memapar 14 ribu lebih dengan suspek mencapai 34 ribu warga kota, agregasi penyerangan virus ditambah dengan kecepatannya yang bombastis tidak halnya mengoyak jantung pertahanan medis, melainkan sesuatu hal lebih buruk yang terjadi.

Artinya corona tidak pandang bulu melibas apa saja yang ada dihadapannya. Dapat dibayangkan, baru pertengahan tahun ini saja, pemerintah pusat sudah harus duduk bersama dengan DPR RI untuk membahas rancangan APBN 2022. Salah satu fokus pembahasannya adalah ketentuan dalam UU Nomor 2 Tahun 2020 yang mengatakan defisit APBN harus kembali di bawah 3 persen pada 2023. Kedefisitan berdampak pada seluruh kawasan di Indonesia, tanpa kecuali di Palembang, jika pimpinan kotanya halya permisif menikmati sisa diakhir periodenya saja, maka warga kota akan menjerit karena kemiskinan.

Selain itu, permasalahan kota secara klasik adalah daerah kumuh, banjir, dan kemacetan di jalan raya yang seakan tak bisa diatasi oleh siapapun pemimpinnya. Selain tiga permasalahan pokok di atas, secara statistik dalam beberapa tahun ke depan yang banyak diprediksi berbagai pihak, adalah masa-masa menuju terjadinya bonus demografi yang cukup signifikan. BPS memperkirakan tahun 2025-2035 adalah puncak ledakan penduduk. Ini artinya, peningkatan penduduk dalam sepuluh tahunan terakhir (2015) akan berasa sampai pada tahun 2024.

Saat ini saja, penduduk Palembang naik sekitar 8,7 persen yang jumlah sebelumnya dikisaran 1,5 juta jiwa, maka dengan berdasarkan angka tetap pada Palembang Dalam Angka tahun 2021 berjumlah 1.668.848 jiwa dengan adanya bonus demografi tersebut, akan memberikan implikasi terhadap berbagai aspek kehidupan di Palembang. Baik itu aspek sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, ketersediaan pangan, kebutuhan tempat pemukiman dan sebagainya.

Persoalan kemiskinan cukup serius. Jumlah orang miskin Palembang naik rata-rata 10 persen sertiap pertahunnya. BPS 2021 merilis data tiga tahun tahun terakhir berjumlah 179,32 di tahun 2018, naik kembali 180,67 di tahun 2019, dan di tahun terakhir sebanyak 182,61 ribu/jiwa. Ini menggambarkan bagaimana tingkat ketimpangan yang terjadi di Palembang yang sulit diturunkan.

Begitupun dengan jumlah pengangguran yang juga seakan-akan sulit dikurangi jumlahnya, BPS 2021 sebagaimana merujuk dari pengolahan data di tahun 2020 telah mencapai 82,771 orang menganggur dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 9,86 persen. Angka tersebut naik 1,2 persen dibandingkan 2019 yang berjumlah 60,242 orang dengan TPT sebesar 7,94 persen dari total 1,6 juta penduduk Palembang.

Masalah lain yang meski dicermati adalah Indek Pembangunan Manusia (IMP), Dalam tiga tahun terakhir yang terjadi turun naik. Tahun 2018 jumlah IPM 77,89, tahun 2019 naik sedikit menjadi 78,44. Namun terakhir di tahun 2020 kembali turun dengan jumlah 78,33 (BPS 2021).

Menaruh Harapan

Dalam momentum Hut Kota Palembang, perlu adanya muhasabah bagi semua pemangku kepentingan tentang bagaimana nasib Palembang pada beberapa tahun ke depan? Apakah kondisinya bisa berubah lebih baik atau sebaliknya? Ini pertanyaan serius yang harus dijawab dan menjadi atensi di sisa akhir masa kepemimpinan walikota dan wakil walikota Palembang.

Karena sebagai kota yang besar, nenek moyang kita telah memberikan qudwah terhadap praktek-praktek kepemimpinannya, sebagai ciri khas kepemimpinan orang Palembang. Suritauladan ini sangat baik dan tetap kompatibel untuk diterapkan di masa kini dan di masa akan datang. Dimana pada masanya pemimpin dahulu telah memiliki jiwa patriotik dalam menjaga kedaulatan bangsanya dengan memasang rantai besi untuk menahan masuk kapal Cina, Arab dan Parsi, yang bermaksud jahat.

Namun di sisi lain pemimpin terdahulu juga membangun sistem port-polity, sebagai pusat redistribusi, sehingga Palembang masa itu dengan gagah perkasa sebagai entreport dunia sehingga dapat menghasilkan nilai tambah kekayaan untuk kesejahteraan bangsanya, dan membangun kontak kebudayaan dengan relasi bisnisnya.

Saat ini, warga Kota Palembang menaruh harapan kepada mereka yang sedang memimpin untuk mengembalikan kejayaan Palembang di masa silam. Atau minimalnya, pemimpin yang menjadi juru selamat menjadikan berbagai persoalan hari ini sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan berbagai kebijakan untuk langkah penyelamatan karena terjangan krisis akibat pandemi covid-19.

Tentu warga sudah tidak perlu lagi dikasih janji-janji politik, yaitu janji yang hanya sekadar slogan dan menyenangkan sesaat, tapi tidak bisa menjawab berbagai permasalahan yang tengah melanda. Karena hari ini warga hanya berkeinginan pemimpinnya dapat memberikan solusi dalam persoalan kemiskinan dan sekaligus memberi jawaban atas masalah pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.

Warga menginginkan pemimpinya yang peka dan peduli terhadap terhadap nasib masyarakat, kemudian mencarikan solusi dan jalan keluar bagi permasalahan warga dan kotanya. Sekali lagi, warga kota hanya bisa berharap. Maka dalam momentum Hut Kota Palembang kali ini semoga dapat benar-benar menjawab harapan dan keinginan masyarakat, yakni mewujudkan Palembang yang lebih maju dan lebih baik.

Penulis: Prasetyo Nugraha

About B S W

"Orang yang mengerti itu mudah untuk memaafkan" by B431

View all posts by B S W →