Dampak Penahanan Empat Mantan Pejabat OKI ” IM Terancam TSK”

Kahumas Kejati Sumsel, Hotma Hutadjulu. foto: ist/grafis: Kabarrakyat.website

TRANSFORMASINEWS.COM, PALEMBANG. Pascapenahanan empat mantan pejabat di lingkungan Pemkab Ogan Komering Ilir (OKI) , tim penyidik Kejaksaan Tinggi (kejati) Sumatera Selatan terus melakukan pendalaman dengan memeriksa keempat tersangka tersebut secara intensif .

Hal ini ditegaskan Kahumas Kejati Sumsel , Hotma Hutadjulu SH MH ketika dihubungi Kabarrakyat.website, kemarin siang. ” Sekarang pihak penyidik masih bekerja. Mereka memeriksa keempat tersangka,”kata Hotma via ponselnya.

Apakah bakal ada tersangka kakap lain dari kasus ini ? Hotma mengaku dirinya belum bisa berkomentar soal ini. ” Penyidik masih bekerja Pak..soal ada tersangka baru saya belum bisa berkomentar. Kita tunggu saja hasil penyidikannya,” elak Hotma.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejati Sumsel telah menahan empat mantan pejabat Pemkab Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis (7/12/2017). Mereka ditahan karena ada dugaan tersangkut praktik korupsi penyimpangan pengelolaan dana hibah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tahun anggaran 2013.

Para tersangka yang merupakan mantan pejabat OKI pada kepemimpinan Bupati OKI yang dijabat Ishak Mekki itu adalah  Muslim, Daud, Ruslan Bahri dan Mamat Antoni.

Keempatnya telah mendekam  di Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Palembang selama 20 hari kedepan terhitung dari tanggal 7 Desember 2017. Apabila setelah tanggal tersebut penyidikan belum selesai maka pihak kejaksaan dapat memperpanjang masa penahanan 20 hari lagi.

Penahanan itu dilakukan untuk antisipasi agar tersangka tidak mengulangi perbuatannya, tidak menghilangkan barang bukti serta tidak melarikan diri. Jadi penahanan itu dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan terhadap keempat tersangka. Hal itu sesuai ketentuan pasal 21 UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Pengamatan Media,  kasus dana hibah yang terjadi di Pemkab OKI ini nyaris sama dengan kasus korupsi dana hibah yang terjadi di Pemkab OKU sebelumnya.

Penggunaan dana hibah di OKU setelah diaudit BPKP Sumsel ternyata banyak penyimpangan. Dana itu banyak digunakan untuk pembiayaan pilkada yang kala itu Eddy Yusuf gencar pencitraan untuk maju sebagai Gubernur Sumsel (terakhir dia maju sebagai Wakil Gubernur Sumsel berpasangan dengan Alex Noerdin, Red) .

Efeknya  beberapa pejabat  di lingkungan Pemkab OKU mulai dari Kabag Kesra, Kabag Keuangan hingga Sekretaris Daerah secara ‘berjamaah’ mendekam dalam penjara.

Bukan hanya itu, Wakil Bupati (Wabup) OKU yang kala itu dijabat H Yulius Nawawi (saat kasus ini bergulir sudah menjabat Bupati OKU) dan Bupati OKU yang dijabat H Eddy Yusuf SH MH (saat kasus ini bergulir Eddy Yusuf sudah menjabat Wakil Gubernur Sumsel, Red) juga tergulung imbas tsunami  dana hibah itu. Kedua mantan kepala daerah itu juga masuk penjara. Mereka divonis 4 tahun penjara.

Tempat terpisah ketua LSM-Indoman menanggapi kasus dugaan korupsi dana hibah di oki yang sedang dalam proses penyidikan kejaksaan tinggi sumatera selatan mengatakan.

” Sebenarnya kakus ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Bupati OKU saat itu Eddy Yusuf bertepatan menjalonkan diri sebagai Wakil Gubernur, nah kasusnya juga terjadi di oki yang mana tahun 2013 ada dana hibah bertepatan Ishak Mekki mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur  berpasangan dengan Alex Noerdin. Kami sangat yakin kalau empat tersanggka tersebut dalam persidangan  akan buka-bukaan tentang aliran dananya  kemana dalam persidangan nanti terungkap tentang aliran dana maka akan menjadi Fakta Persidangan dan  kalau ini terjadi patut didugaa kuat Mantan Bupati  OKI tersebut akan menyusul seperti Eddy Yusuf dan Yulius Nawawi berakhir dipenjara, tentunya kasus tersebut masih panjang prosesnya” Ujar Ketua LSM-Indoman.

Apakah kasus dana hibah OKI akan berakhir sama seperti penanganan kasus korupsi dana hibah di OKU? Hotma kembali mengelak dan mengatakan pihaknya menunggu penyidikan hingga finish.

“Maksudnya sama modusnya ya…waduh soal itu ….sekarang penyidikan masih berlangsung kita tunggu saja hingga penyidikannya selesai,”kata Hotma seperti sulit menjawab pertanyaan kabarrakyat.website.

Kasus di Pemkab OKI ini berawal dari dugaan adanya aliran dana yang terdapat ketidaksesuaian antara pelaporan dana hibah yang keluar dan hasilnya. Dari situ, tim terus melakukan penyidikan hingga mengarah pada keempat tersangka ini.

“ Pengelolaan dana hibah ini dikelola oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab OKI tahun anggaran 2013. Tim terus melakukan penyidikan terhadap beberapa saksi termasuk keempatnya. Dari hasil pengembangan tim penyidik, mengarah pada empat tersangka,” ulasnya.

Nilai kerugian dari kasus ini, masih kata Hotma , pihaknya sejauh ini terus melakukan pendalaman .  Begitu  hasil audit dari BPKP keluar, akan secepatnya disampaikan ke masyarakat. “ Tunggu saja, kita masih proses pendalaman,” kata Hotma.

Kasus ini menarik untuk diikuti karena jika penyidik menerapkan konsep ‘makan bubur panas’ . Tentu yang pinggir dulu yang dimakan setelah itu baru ke tengah .

Analoginya, pejabat-pejabat kecil dulu yang ditahan kemudian dari hasil penyidikan dan kesaksian para terdakwa dan saksi dipersidangan nanti, bisa (dimungkinkan) untuk menjerat tersangka yang lebih besar alias kakap bukan kelas teri.

Sumber: kabarrakyat.website

Editor: Nurmuhammad

Posted by: Admin Transformasinews.com