Bencana Banjir dan Longsor di Kupang Sejumlah Akses Masih Sulit Dilalui

TRANSFORMASINEWS.COM- Dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor masih tampak pada sejumlah titik di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (3/1). Pemerintah daerah setempat dibantu warga masih melakukan upaya penanganan darurat.

Perkembangan terkini, Pos Komando (Posko) Penanganan Banjir dan Longsor Kabupaten Kupang melakukan pembersihan saluran air yang tersumbat pohon dan ranting. Material tersebut terbawa arus banjir yang terjadi pada Minggu siang (25/12), pukul 12.00 waktu setempat. Saat itu, hujan lebat mengakibatkan banjir dan longsor di beberapa titik.

“Upaya pembersihan ini dilakukan secara gotong royong oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kupang, organisasi perangkat daerah lainnya dan warga setempat,” ujar Abdul Muhari, Ph.D. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Selain itu, posko melakukan penanganan kepada warga yang mengungsi di Kantor Desa Naitae dan beberapa titik di Desa Pariti. Bantuan logistik dari BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didistribusikan berupa beras.

Perbaikan darurat untuk infrastruktur vital telah berlangsung, seperti perbaikan jembatan sehingga pengendara roda dua dan empat sudah dapat mengakses.

“Berdasarkan BPBD Kabupaten Kupang, penanganan darurat terkendala lokasi terdampak dengan akses jalan utama, yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 4 jam. Di sisi lain, akses jalan dan jembatan banyak rusak akibat bencana tersebut,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Kupang menetapkan status tanggap darurat penanganan bencana hidrometeorologi melalui surat keputusan nomor 985/KEP/HK/2022, selama 14 hari terhitung 25 Desember 2022 hingga 7 Januari 2023. Dalam penanganan darurat, pemerintah daerah telah mengeluarkan dana belanja tak terduga (BTT) sebesar Rp800 juta.

Data yang berhasil dihimpun Pusat Pengendalian Operasi BNPB pada hari ini, Rabu (4/1), wilayah terdampak yaitu Desa Oebelo di Kecamatan Kupang Tengah, Desa Pariti, Kecamatan Sulamu, Desa Takari dan Benu di Kecamatan Takari, dan Kecamatan Kupang Fatuleu Barat.

Sedangkan korban terdampak, BPBD setempat mencatat sebanyak 642 KK (2.773 jiwa). Warga mengungsi 30 KK (115 jiwa) dan korban meninggal 1 jiwa.

Sementara itu, kerugian material berupa rumah rusak berat 30 unit, rusak sedang 7 dan rusak ringan 7. Bencana banjir juga mengakibatkan 598 unit rumah terendam. Di sektor lain, fasilitas umum rusak 11 unit, dan akses jalan 1 ruas, sedangkan jembatan rusak berat 4 unit dan rusak ringan 1.

About Admin Transformasinews

"Orang yang mengerti itu mudah untuk memaafkan"

View all posts by Admin Transformasinews →