Ridwan Mukti Sulit Berkelit: Saksi Buka Fakta Fee Proyek 10 Persen Dari Nilai Proyek

Dok.Foto: Klikwarta.com

TRANSFORMASINEWS.COM BENGKULU. SEMENTARA itu, Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu menggelar sidang dugaan suap fee proyek senilai Rp. 1 miliar terhadap Gubernur Bengkulu (nonaktif), Ridwan Mukti.

Mendudukkan Ridwan Mukti sendiri sebagai terdakwa, didampingi istrinya Lily Martiani Maddari dan Rico Dian Sari, Dirut PT Rico Putra Selatan. sebanyak empat saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang buka-bukaan soal fee proyek 10 persen dari nilai proyek.

Sidang dipimpin Plh Ketua PN selaku pimpinan majelis, Admiral, SH, MH, didampingi Gabriel Siallagan, SH, MH dan hakim anggota Nich Samara, SH, MH. Lalu JPU KPK sendiri yang hadir, Haerudin, didampingi Moh. Helmi Syarif dan Putra Iskandar.

Saksi yang dihadirkan dalam sidang kedua ini yakni, 4 kontraktor Rahmani Saifullah dan Teza Arizal kontraktor asal Jakarta, 2 lagi Ahmad Irfansyah Direktur PT Sumber Alam Makmur dan Hariyanto Alias Lolak Direktur Peu Putra Agung.

Pengamatan RB, suasana sidang dan pertanyaan pertama dilontarkan ketua majelis, Admiral terhadap 4 saksi yang diawali dari Rahmani Saifullah dan Teza Arizal, yang keduanya pernah bertemu dengan Ridwan Mukti tanggal 1 Juni 2017.

“Apa yang dibahas dalam pertemuan itu,” tanya Rahmani. Kedua saksi ini terlihat pucat dan gugup menjawab pertanyaan majelis, bahkan suaranya sempat tidak terdengar. “Benar yang mulya. Saya ini boss nya Teza, yang kebetulan punya harapan dapat proyek di Bengkulu dan ikut lelang. Benar ada pertemuan di Jakarta, di Hotel Mulya. Malam itu bahas masalah proyek. ada Rico Dian Sari dan Rico Khadafi yang kenal sama Teza. Ya malam itu pak Ridwan Mukti sempat menyampaikan pesan, jika soal proyek bahas dengan Rico Khadafi dan Rico Maddari,” terang Rahmani.

“Apakah ada yang berkaitan dengan fee komitmen 10 persen? tanya Admiral lagi. Dijawab Rahmani, memang ucapan secara langsung dari Ridwan Mukti tidak ada, tetapi arahan untuk koordinasi dengan Rico Khadafi dan Rico Dian Sari berkaitan dengan masalah fee 10 persen. Ya saya iya kan saja,” tambah
Rahmani.

Setelah pertemuan di Jakarta, kontraktor asal Jakarta ini menangkan satu proyek Bengkulu. “Dimana proyek itu ada atau tidak fee yang dijanjikan itu diberikan,” lanjut Admiral. “Maaf yang mulia, sejak mendapatkan proyek pembangunan jalan di Mukomuko, kami tidak pernah lagi dikontak. Ya sampai sekarang tidak ada bayar fee tersebut, kalaupun misalnya tidak pernah OTT, mungkin kami akan bayar fee itu, itupun ya tergantung dengan keuntungan dari proyek,” imbuh Rahmani dan dibenarkan Teza.
Begitupun Teza Arizal (Kontraktor Jakarta), membenarkan adanya pertemuan di Coffe Shop Hotel Mulya Jakarta, membenarkan adanya penetapan fee komitmen yang dibicarakan dengan Rico Dian Sari dan Rico Khadafi, yang mana sesuai dengan arahan Gubernur Bengkulu, sebagai tindaklanjut pertemuan tanggal 1 Juni 2017.

“Ya, betul dan itu tidak dibahas langsung. Tapi arah dari tindaklanjut pertemuan itu memang ada kaitannya dengan fee komitmen,” tutur Teza.
Pertanyaan yang tegas dilontarkan hakim senior, Gabriel Siallagan, SH, MH kepada Ahmad Irfansyah, yang juga menang proyek di Bengkulu. Lebih tajam menanyakan soal fee komitmen dan penetapan nilainya 10 persen. “Saya tanya, siapa sebenarnya menetapkan fee komitmen tersebut,” ujar Gabriel.

Ahmad Irfansyah menegaskan, bahwa soal fee tidak pernah diucapkan secara langsung, akan tetapi dari pemahaman dia soal perintah Ridwan Mukti untuk berkoordinasi kepada Rico Dian Sari pada akhir pertemuan di kantor Gubernur.

“Saya kurang paham masalah fee komitmen ini. Sebab saya tidak pernah membayar fee komitmen. Hanya saja dalam pertemuan di kantor Gubernur Bengkulu 5 Juni, ya di sana sebelum pulang dan sudah kena marah, kami diingatkan Pak Gubernur agar berkoordinasi masalah proyek kepada Rico Dian Sari. Ya,memang selintingan pernah dengar fee 10 persen itu dari Rico dan  menyebutkan jika Gub minta fee proyek itu. Tapi saya bekerja sudah sesuai spek dan ambil untung dikit, ya saya tidak mau bayar fee,” papar Ahmad Irfansyah.

Ahmad Irfansyah juga menyatakan dalam pertemuan bukan masalah proyek yang dibahas pertama, namun Gubernur marah-marah dan sudah membuat mental kontraktor yang hadir ketakutan. “Gubernur mengancam akan membatalkan proyek yang sudah dilelang, dan mengancam akan
menjadikan kontraktor bangkrut,” papar Ahmad Irfansyah.

Apa lagi yang disampaikan Gubernur, tambah Gabriel. Dijawab Ahmad Irfansyah, “Gubernur menyatakan sudah menghabiskan anggaran ratusan miliar dalam Pilkada. Serta ucapan sudah berdarahdarah. Hal ini tidak ada hubungannya dengan kami. Justru amarah gubernur saat itu, membuat kontraktor ciut dan takut akan pembatalan itu,” tutur Ahmad Irfansyah.

Gabriel juga bertanyakan kepada Hariyanto Alias Lolak (Direktur Peu Putra Agung), tak jauh berbeda dengan keterangan Ahmad Irfansyah. Soal pertemuan di kantor Gubernur dan masalah fee 10 persen. “Saya masih ingat berita rilis dari KPK soal fee 10 persen. Apakah benar adanya fee 10 persen itu di
Bengkulu. Terus apa benar Gubernur memanggil dan apa tujuannya,” lontar Gabriel.

Jawab Lolak, “Saya juga tidak paham betul 10 persen itu. Tapi saya dapat kabar dari beberapa teman dekat serta informasi yang ada dari teman kontraktor, bahwa panggilan Gubernur terkait itu. Saya menolak datang ke Jakarta, karena sudah mencium keinginan Gubernur yang mau fee proyek 10 persen,” imbuhnya

Selanjutnya tambah Lolak. Dia tetap berusaha datang pada panggilan tanggal 5 Juni. “Pada tanggal 5 Juni saya ke Kantor Gubernur. Memang iya Gubernur marah-marah dan terakhir pesan dari Gubernur meminta seluruh kontraktor pemenang lelang untuk koordinasi dengan Rico Diansari yang dipercaya.
Saat itu Gubernur memarahi Jhoni Wijaya yang ikut dalam pertemuan. Itupun didengar semua oleh kontraktor yang hadir,” jelas Lolak. Rico Justice Collobator.

Sementara, Rico Dian Sari selaku terdakwa dan menjadi saksi mahkota, melalui kuasa hukum, Ariel Muchtar mengajukan Justice Collobator dalam perkara. “Klien saya, Rico Dian Sari siap buka-bukaan dalam sidang, mengungkapkan hal fakta yang dialami di balik perkara suap Gubernur (Nonaktif), Ridwan
Mukti. Dengan harapan adanya pertimbangan khusus untuk klien kami, sebab dia tahu semua,” papar Ariel.

Menurut Ariel, Rico mengetahui seluruhnya, mulai dari penetapan fee Komitmen 10 persen yang ditetapkan pada kontraktor, hingga mengetahui suap Rp 1 miliar, yang mana uang Rp 1 miliar diterima dari terdakwa Jhoni Wijaya sebagai titipan untuk disampaikan kepada Gubernur Bengkulu, yang diterima
melalui istrinya, Lily.

“Rangkaian suap ini diketahui oleh Rico. Sudah jelas dia berkata jujur,” ujar Ariel. Maqdir Yakin RM Benar Terkait penilaian dari JPU, jika kesaksian dari 4 kontraktor yang hadir di dalam sidang, Kuasa Hukum RM dan Lily, Maqdir Ismail, meyakinkan semua keterangan saksi tidak benar dan tidak cukup bukti. “Ya, saya memastikan akan yang dituding dan diarahkan kepada pak RM itu tidak benar. Sejak awal sudah dibantah. Soal fee komitmen disampaikan saksi, itu asumsi mereka saja bukan fakta,” tegas Maqdir.

Selain itu, Magdir meyakinkan RM sulit diberatkan. Karena pelaku utama dalam suap itu adalah Rico Dian Sari sendiri dan bukan kliennya. “Yang bisa mengajukan Justice Collobator tersangka yang bukan pelaku utama. Kalau Rico sulit beratkan Ridwan Mukti, karena dalam perkara suap ini, malah Rico yang akan menjadi pelaku utama. Pasalnya yang menerima uang Jhoni adalah Rico Dian Sari,” tutup Maqdir.

Rico Cium Tangan Lily Sementara ada yang menarik dalam perkara suap ini, saat ketiga terdakwa, Ridwan Mukti, Lily Martiani Maddari dan Rico Dian Sari masuk ke ruang sidang. Awalnya RM dan Lily mengambil posisi duduk dibagian depan sebelah kiri, tepatnya pojok tempat awak media. Lima menit keduanya duduk, datang Rico dari pintu dan duduk di samping Ridwan Mukti.

Rico tetap sopan, dengan santun Rico menyalami Lily pertama dan langsung mencium tangan Lily. Sementara Ridwan menolak salam. Namun beberapa wartawan yang sudah di ruangan kesulitan mengabadikan moment tersebut, karena beberapa pihak keluarga terdakwa menghalangi wartawan untuk mengambil Foto. Termasuk oknum PNS Pemprov yang sempat jadi ajudan Ridwan Mukti, RH, juga ikut menghalangi wartawan. Namun tidak
lama, JPU KPK yang mengetahui RH masuk langsung memerintahkan RH keluar dari ruangan.

“Kepada calon saksi perkara yang sama, mohon disuruh keluar, kata Ketua Tim JPU, Haerudin. Tidak segan-segan Haerudin menyebutkan dalam ruangan ada 3 orang calon saksi yang bakal menjadi saksidalam sidang berikutnya, seperti ajudan dan orang dekat Rico Diansari. “Tadi saya lihat ada ajudan yang
juga pernah jadi saksi dalam pemeriksaan penyidik. Juga 2 orang dekat Rico,” tutup Haerudin.

Sumber: Harianrakyatbengkulu (rif)

Editor: Nurmuhammad

Posted by: Admin Transformasinews.com