Potensi Kerugian Negara Bertambah Dalam Kasus 14 Proyek Fiktif

Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Dok.Foto: MI/ROMMY PUJIANTO

TRANSFORMASINEWS.COM, JAKARTA – KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pemeriksaan kepada Wagimin, staf Keuangan Divisi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk. terkait dengan kasus 14 proyek fiktif.

“Hari ini ada satu saksi dari staf Keuangan Divisi II PT Waskita Karya yang kami periksa, jadi pemeriksaan oleh penyidik Sekaligus merupakan proses mematangkan perhitungan kerugian keuangan negara, karena kami juga sedang berkoordinasi secara intensif dengan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan),” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Senin (17/6).

Koordinasi dengan BPK dilakukan guna memaksimalkan penghitungan kerugian negara dalam dugaan proyek fiktif tersebut. Jumlah kerugian yang saat ini ada, kata Febri kemungkinan dapat bertambah.

“Jadi bukan tidak mungkin nanti setelah proses ini maka ada temuan temuan baru sehingga dugaan kerugian keuangan negara nya bisa lebih besar dari Rp. 186 miliar tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya, pada (17/12) lalu, KPK menetapkan Fathor Rachman (FR) selaku Kepala Divisi II PT Waskita Karya dan Yuly Ariandi Siregar (YAS) yang merupakan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Keuangan PT Waskita Karya sebagai tersangka.

Fathor dan Yuly diduga menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya.

Sebagian dari pekerjaan proyek itu sebenarnya telah dikerjakan oleh perusahaan lain. Namun keduanya mengatur sedemikian rupa seolah-olah dikerjakan oleh empat subkontraktor.

“Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak,” kata Ketua KPK, Agus Rahardjo saat itu.

Dari perhitungan sementara oleh KPK yang telah berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kerugian negara diperkirakan sebesar Rp. 186 miliar.

Itu dari hasil pekerjaan fiktif 4 perusahaan subkontraktor yang meliputi proyek pembangunan jalan tol, jembatan, bandara, bendungan.

Adapun 14 proyek fiktif yang diketahui ditangani oleh PT Waskita Karya Tbk ialah meliputi Proyek Normalisasi Kali Bekasi Hilir, Bekasi, Jawa Barat, Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) Paket 22, Jakarta, Proyek Bandara Udara Kuala Namun, Sumatera Utara, Proyek Bendungan Jati Gede, Sumedang, Jawa Barat.

Kemudian Proyek Normalisasi Kali Pesangggrahan Paket 1, Jakarta, Proyek PLTA Genyem, Papua, Proyek Tol Cinere-Jagorawi Seksi 1, Jawa Barat, Proyek Flyer Over Tubagus Angke, Jakarta.

Selanjutnya Proyek Fly Over Merak-Balaraja, Banten, Proyek Jalan Layang Non Tol Antasari-Blok M, Jakarta, Proyek Jakarta Outer Ring Road Seksi 1, Jakarta, Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai Paket 2, Bali, Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai Paket 4, Bali, Proyek Jembatan Aji Tulur-Jejangkat, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Atas perbuatanny Fathor dan Yuly disangkakan melanggar Pasal 12 Huruf a atau Pasal 12 Huruf b, atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sumber: mediaindonesia.com (OL-4)

Penulis: M. Ilham Ramadhan Avisena

Posted by: Admin