MENANGKAH BILA MULARIS-LURY ALEX BERPASANGAN

TRANSFORMASINEWS.COM, KOTA PALEMBANG.  Beberapa waktu lalu dirilis survei opini publik Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan oleh Lembaga Survei Stratak Indonesia (LSSI/Starakindo). Dalam rilisnya, lembaga itu mengungkapkan peta terbaru elektabilitas para bakal calon walikota Palembang 2018.

Hasil survei Kota Palembang Stratakindo Bulan Juni 2017 berdasarkan tingkat keterpilihan sebagaimana diberitakan media-media siber nasional adalah sebagai berikut: Sarimuda 27,0 persen, Harnojoyo, 20,3 persen, Mularis Djahri, 17,9 persen dan Lury Elza Alex, 8,7 persen.

Mempelajari data teranyar peta elektabilitas para bakal calon tersebut kemudian mencoba menyusun beberapa kemungkinan pasangan calon didapat peta paslon sebagai berikut: Pasangan Sarmuda – Abdul Rozak. Pasangan Harno Joyo – Fitrianti Agustinda dan Pasangan Mularis Djahri – Lury Elza Alex Noerdin.

Merujuk pada hasil survei Stratakindo Juni 2017, didapat peta kekuatan awal elektabilitas paslon, dengan menggabungkan elektabilitas personal yang dirilis. Urutan potensi elektabilitas paslon tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pasangan Sarimuda – Abdul Rozak sebesar 27,0 persen.

2. Pasangan Harno Joyo – Fitrianti Agustinda sebesar 26,83 persen.

3. Pasangan Mularis Djahri – Lury Elza Alex Noerdin sebesar 26,6 persen.

“Melihat peta tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kontestasi Pilwako Palembang 2018 akan berlangsung amat seru dan antagonistik,” kata pengamat politik dari Universiti Teknologi Malaysia Riza F Chalil, baru baru ini.

Namun demikian penting kiranya diulas beberapa kelebihan dan peluang dari masing-masing bakal paslon tersebut. Pasangan Sarimuda – Abdul Rozak. Pasangan ini sudah punya potensi suara sebesar 27 persen. Itu memang suara Sarimuda sendirian.

Kekuatan paslon ini ada pada sosok Sarimuda yang dianggap korban dari kecurangan sistematis terstruktur di masa pilkada sebelumnya. Banyak orang di Kota Palembang “tidak tega” atas kekalahan terus menerus yang dialami Sarimuda sehingga memunculkan emosi kolektif.

Apalagi kekalahan yang dialami di pilwako yang lalu terlalu amat menyakitkan, dari menang dalam rekapitukasi KPUD berubah jadi kalah dalam penghitungan di Mahkamah Konstitusi.

“Sarimuda nyaris selalu unggul dalam berbagai survei, walau tidak pernah dominan, elektabilitasnya tidak pernah mencapai di atas 50 persen, namun tampaknya empati kolektif atas “nasib sial” di masa lalu memberi semacam “wild card” untuk mulus di pilwako 2018 ini,” katanya.

Namun emosi kolektif bisa mudah berubah jika pertarungan sudah mengarah pada adu konsep dan program. Jika bakal paslon ini gagal mengemas kampanye mereka maka potensi jadi pecundang sejati akan terjadi.

Lalu, pasangan Harno Joyo – Fitrianti Agustinda. Pasangan ini adalah satu-satunya yang resmi berpasangan dan menjadi paket tak terpisahkan sejak dini. Mereka adalah petahana dan dengan kekuasaan yang dimilikinya amat mudah ditemukan kampanye terselubung dimana gambar pasangan ini tersebar terpasang di berbagai media se-kota Palembang.

Namun demikian, sebagai incumbent, posisi elektabilitas yang tidak dominan menunjukan kelemahan luar biasa. Tradisi petahana yang menang adalah yang dominan sejak awal dan itu paling tidak digambarkan melalui temuan survei elektabilitas di atas 50 persen.

“Tidak ada progran andalan khas perkotaan yang diusung pasangan ini, justru kesan rural development program sangat kentara di berbagai kampanye mereka seperti isu kerja bakti dan bersih-bersih lingkungan,” paparnya.

Terakhir, pasangan Mularis – Lury Elza Alex Noerdin. Pasangan ini punya potensi besar untuk menang. Selain potensi elektabilitas yang seimbang dengan dua paslon lainnya, kekuatan dana dan program banyak dilirik orang.

Mularis gencar mengusung isu kota cerdas, suatu konsep kota maju berbasis teknologi informasi yang memberi kemudahan pelayanan kepada warganya dan mau tidak mau akan mengubah kultur pelayanan pemerintah menjadi profesional, efisien, cepat dan responsif.

Saat yang sama Lury Elza juga mengusung program andalan ayahnya, Gubernur petahana Alex Noerdin, yang dikenal sebagai pelopor sekolah dan berobat gratis.

Lury juga banyak menyebut pentingnya sinergi program yang sukses digagas dan dilaksanakan ayahnya seperti event olahraga internasional, pembangunan infrastruktur kota termasuk LRT dan mega konstruksi komplek serbaguna Jakabaring. Melihat peta awal yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan, bakal paslon yang paling potensial menang adalah Mularis-Lury.

“Pasangan ini punya semuanya: partai pengusung sudah mantap, dana kampanye diduga lebih dari cukup, dukungan struktural juga punya paling tidak karena gubernur petahana masih berkuasa, program kampanye juga sudah jelas dan terarah, dan yang tak kalah penting adalah jaringan pemenangan yang dimiliki teraebar di semua pelosok kota. Ini karena jaringan pemenangan Alex Noerdin saat kampanye pilgub yang lalu masih amat kuat.

Berita tersebut sudah diberitakan Rmolsumsel dengan judul: MULARIS-LURY ALEX BERPASANGAN MENANG

Sumber: Rmolsumsel [yip]

Editor: Amrizal Ar

Posted by: Admin Transformasinews.com